Pilkada DKI 2017, Independen atau Melalui Partai?

4
148

Oleh: Michael Putra Tarigan*

 

Sekilas tentang Ahok

Michael TariganBasuki Tjahaja Purnama, atau kerap disapa Ahok, adalah nama yang tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia lewat sepak terjang politiknya. Kalau tidak salah menganalisa, publik mulai mengenal Ahok ketika beliau akan diduetkan bersama Joko Widodo untuk maju sebagai calon Gubenur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Kepiawaian beliau dalam berdialektika dengan lawan bicara, juga cara beliau menyampaikan kejujuran menggugah ketertarikan publik untuk lebih mengenalnya. Apalagi setelah itu kita tahu Ahok mulai menyuarakan sikapnya yang Anti-Korupsi. Hal ini pula yang saya rasa membuat publik (kita) tidak sekedar tertarik namun meningkat menjadi pendukung.

Tidak bisa dipungkiri, masa itu adalah waktu dimana retorika yang berapi-api seakan sangat dirindukan layaknya sosok Sang Proklamator Indonesia. Saya rasa di situ letak kemenangannya.

Waktu berlalu, beliau terpilih sebagai Wagub DKI lalu menjadi Plt. Gubernur DKI menggantikan kursi Joko Widodo yang menjadi Presiden RI ke-7. Namun, kita seakan tergugah kembali melihat beliau lewat aksinya yang menyatakan keluar dari Gerindra yang merupakan partai pengusungnya kala itu karena permasalahan perbedaan pendapat terkait wacana “dikecilkannya” Pemilihan Langsung menjadi Pemilihan lewat DPRD. Tentu hal tersebut menjadi makanan mewah bagi Publik karna setelah Ahok 59itu banyak anggota partai yang notabene adalah Kepala Daerah memilih mundur dari Partainya karna sikap Partai yang tidak sesuai dengan nuraninya.

Tidak berhenti di situ saja, sikap independen Ahok ini berlanjut terus hingga menjelang Pemilihan Gubernur DKI 2017. Di kala aroma persaingan semakin ketat dan muncul nama-nama yang cukup populis yang digadang-gadang sebagai Cagub DKI, Ahok tetap dengan keindependenannya. Hal yang semakin membuat publik tergugah adalah antusiasme masyarakat Jakarta terkait sikap independen Ahok membuat masyarakat Jakarta terkhusus kalangan muda-mudi mendirikan TemanAhok untuk membantu Ahok memuluskan niatnya maju sebagai Calon Gubernur DKI Incumbent, lewat jalur Independen dengan cara mengumpulkan KTP dengan jumlah yang disyaratkan oleh KPU/ KPUD. Hal ini pun terpenuhi dengan baik lewat usaha dan kerja keras TemanAhok yang konon diterpa isu-isu miring oleh lawan tanding.

Mengetahui hal ini, banyak partai yang mulai sadar akan DKI Jakarta yang mulai Ke”ahokan”, mulai menyusun strategi-strategi politik untuk 2019 pastinya. Strategi itu pasti adalah merayu Ahok untuk menjadi Calon Gubernur lewat partainya. Ahok yang mendapat tawaran emas ini dengan tenang berpihak kepada TemanAhok dan tidak mau anak-anak muda kecewa. Namun belakangan Nasdem, Golkar, dan yang terakhir Hanura meniatkan diri untuk mendukung Ahok dalam kancah pertandingan politik nantinya. Dukungan ini pun jelas menguntungkan Ahok karena DKI Jakarta adalah wilayah dengan pendukung partai yang beragam. Pun dengan didukungnya Ahok oleh 3 partai ini, Ahok akan punya tambahan pemilih dan kekuatan di DPRD jika ia menang nanti.


[one_fourth_last]Apa yang paling bijak untuk Ahok?[/one_fourth_last]

Walaupun beberapa partai di atas menyatakan mendukung Ahok, namun itu artinya tidak ada ikatan kontrak politik yang jelas. Masih memungkinkan adanya penyimpangan di akhir permainan. Jika dianalisa satu persatu, Nasdem adalah partai baru dengan semangat Nasionalisme yang berapi-api dan akhir-akhir ini mendapat perhatian positif dari Publik. Begitupun dengan Hanura. Tapi tidak dengan Golkar. Partai ini adalah salah satu partai tertua warisan Orba dan memiliki pendukung yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Walalupun banyak isu miring menerpa, Golkar tetap punya style elit yang menawan sebagian kaum.

Kalau melihat perbandingan tersebut, mencuat 2 pilihan. Apakah Ahok akan tetap maju lewat jalur Independen dengan dukungan dari beberapa partai (Tidak ada ikatan jelas) atau maju lewat Partai Golkar yang punya dukungan pemilih yang kuat dan merupakan partai yang besar?




Menurut saya, Ahok akan tetap berjalan lewat jalur independen. Walaupun tetap dengan resiko yang ada, tetapi saya punya keyakinan dengan partai yang mau mendukung tidak akan bermain-main dengan keputusannya melihat 2019 sudah dekat. (Banyak Partai beramai-ramai mencari dukungan positif). Dampak baik akan Ahok tularkan ketika ia tetap memilih jalur Independen, maka ia akan terus mendapat kepercayaan masyarakat dan kaum muda dengan integritas yang ia pegang serta menyuntikan esensi baru, bahwa orang baik dengan cara yang baik akan mencapai tujuan yang baik.

Ya, Ahok adalah patron bagi calon pemimpin muda kelak. Jujur, berintegritas dan Anti-Korupsi. Mengutip kata-kata beliau: “Banyak yang tidak senang dengan saya karena saya tidak suka korupsi. Mereka suka curi uang rakyat dan ambil keuntungan makanya mereka tidak suka. Keuntungan mereka bisa raib.”

* Penulis adalah mahasiswa FH-UGM 2014.




4 COMMENTS

  1. “yang penting kita yg sadar tidak boleh bungkam”(MT).

    Ini dia kuncinya persoalan dunia sekarang ini. Tak boleh bungkam. Katakan apa yang harus dikatan. Dan dalam suasana KETERBUKAAN dan PARTISIPASI PUBLIK sebanyak mungkin. Inilah yang akan mengalahkan orang-orang gelap dan semua kegelapan dunia yang masih tersisa dari abad 20.

    MUG

  2. “Banyak yang tidak senang dengan saya karena saya tidak suka korupsi. Mereka suka curi uang rakyat dan ambil keuntungan makanya mereka tidak suka. Keuntungan mereka bisa raib.”

    Teruskan saja dan pasti bisa tercapai tujuan semula dengan cara independen, setuju sekali. Karena partai-partailah yang membutuhkan Ahok, bukan sebaliknya. Ini jelas juga bagi semua publik yang akan memilih Ahok jadi pemimpin Jakarta. Semua saingan Ahok yang lain tak akan bisa menang dengan jalan independent, dan juga pasti tak akan bisa menang dengan jalan partai juga. Penduduk Jakarta akan memilih Ahok, bukan karena partai mana saja, dan dukungan partai seperti Nasdem, Hanura, dan Golkar pasti akan lebih menjamin kemenangan Ahok Dan kemenangan Ahok ini dibutuhkan oleh partai-partai yang mendukung ini.
    MUG

    • Kita doakan saja Bung. Biar yang baik menang dengan cara baik, yang penting kita yg sadar tidak boleh bungkam.]

Leave a Reply