Kolom Bastanta P. Sembiring: Down Syndrom di Pelosok

0
153

bastantaBelakangan ini saya disibukkan dengan hobi baru, fotografi. Berhubung ini musim lulus-lulusan dan masuk tahun ajaran baru, saya pun tidak mau melewatkan peluang ini. Hitung-hitung test mental dan kemampuan dan tentunya menambah pemasukan, dimana di bulan-bulan seperti ini peluang untuk memotret pelajar, baik dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi sangat banyak dan mudah diperoleh. Bahkan, untuk mereka-mereka yang mencari lowongan pekerjaan juga butuh foto.

Dari pengalaman saya melakukan pemotretan, dari ratusan orang yang sudah saya foto ada beberapa tipe manusia dan dengan masing-masing kadar yang bervariasi. Bahkan lebih liar lagi saya berani berpendapat, dari foto kita bisa menganalisa sifat manusia, bahkan berdasarkan etnis tertentu ada sifat-sifat yang muncul saat akan dipotret (mungkin akan kita bahas di kesempatan lain).

Namun, ada beberapa anak yang cukup menarik perhatian saya dan buat saya cukup kewalahan.

pelajar 2Ada anak yang dari tampilan fisiknya saja sudah bisa kita ketahui dia mengidap Down Syndrom, seperti pertumbuhan fisik yang berbeda dengan anak seusianya (cenderung melamban), otot-otot yang kaku. Misalkan, saat kita minta agar tangannya diturunkan atau menutup mulut, sepertinya merupakan hal yang sangat sulit baginya untuk melakukannya. Bukan melawan seperti anak-anak lainnya, tetapi seakan otot-ototnya menolak; air liur yang tak henti menetes, keringat berlebih, kulit halus namun kering, suara tidak jelas, dan gumpalan pada bagian-bagian tubuh tertentu, dlsb

Bukan main, untuk dapat memotretnya seperti yang kita inginkan. Namun, pihak orangtua sangat memaksakan untuk anaknya difoto sebagaimana layaknya foto untuk pelajar, untuk menutupi perbedaan anaknya. Bahkan ada yang sampai 3 hari saya diminta orangtuanya untuk memotret anaknya sampai dapat sudut pandang yang tepat.

Pertanyaan yang timbul di benak saya; apakah para orangtua ini menyadari kondisi si anak? Dengan halus saya selalu berkata: “Tidak usah dipaksakan pak/ buk, mungkin dia belum siap untuk bersekolah.” Atau sering juga saya katakan: “Bagaimana kalau bapak/ ibu foto dia di rumah dengan handphone, mana tau dia gugup ada orang luar.”

Sebenarnya, ucapan saya itu hanya untuk mengingatkan mereka. Namun, tak jarang para orangtua ini memang tidak sadar kondisi anak mereka atau tidak peduli. Tak jarang juga mengeluarkan umpatan-umpatan kasar dan kekerasan fisik kepada si anak agar menurut. Tetap, si anak tidak menurut, karena kontrol otaknya tidak bekerja atau merespon sebagaimana mestinya.

pelajar 3Kalau sudah sampai pada umpatan kasar atau kekerasan fisik, saya selalu menepis dengan berkata: “Sekolah adalah tempat belajar pak/ ibu, bukan penampungan anak. Guru-guru itu tugasnya mendidik banyak anak bukan hanya anak kam. Anak kam ini berkebutuhan khusus, spesial, beda dengan kebanyakan anak lainnya.

Ada memang beberapa orangtua yang menyadari dan katakan si anak itu spesial. Tetapi tetap juga memaksakan agar anaknya diperlakukan seperti yang lain.

Ironis memang. Di satu sisi, anak-anak down syndrom butuh pendidikan untuk masa depannya kelak. Karena tidak mungkin mereka hidup bersama orangtuanya selamanya. Namun, jika anak-anak ini disatukan dengan anak-anak lainnya, potensi untuk memperburuk kondisinya juga semakin besar. Tidak mungkin semua berjalan lancar.




Antara anak-anak yang sama saja tak jarang terjadi gesekan, buly, dll. apalagi terhadap anak down syndrom yang nota bena berkebutuhan khusus. Bahkan mungkin orangtua anak lainnya juga akan merasa risih dengan keberadaan anak down syndrom, mengingat sebahagian besar masyarakat kita masih menganggap penderita down syndrom ini sama seperti pengidap gangguan kejiwaan (orang gila). Karena kondisi fisik dan mental mereka yang berbeda, tentunya membutuhkan penanganan yang berbeda.

Bahkan, saya berani katakan kalau pendidikan yang umum diterima di sekolah-sekolah kebanyakan akan tidak berarti baginya. Bagaimana kelak si anak menperoleh pendidikan untuk bertahan hidup? Dari orangtua? Sangat mustahil melihat kondisi keluarga-keluarga di sini yang masih dalam taraf hidup pra sejahtera.

Saya bukanlah seorang yang kompeten dalam hal ini, namun inilah realita di lapangan terhadap anak-anak down syndrom, semoga ke depannya pemerintah atau lembaga-lembaga terkait pendidikan anak berkebutuhan khusus ini turut memperhatikan anak-anak down syndrom di daerah-daerah pelosok negeri ini.








Leave a Reply