Kolom Joni H. Tarigan: SETIAP ANAK ADALAH SENIMAN

0
120

joni hendra tariganSekitar awal 2014, kami mulai memasuki rumah kami setelah 2 tahun tinggal di rumah kontrakan. Mengawali hidup di rumah yang baru, kami juga disuguhkan oleh pemandangan yang menarik. Seekor kambing melahirkan di belakang rumah. Kelahiran, walapun seekor kambing, bagi kami tentu saja itu pertanda baik.

Kami melihat proses kelahiran kambing itu dari mulai induknya yang merintih sampai lahir. Setelah lahir, si anak kambing butuh waktu menyesuaikan tubuhnya dengan udara sekitarnya. Anak kambing pun kemudian belajar untuk belajar bertumpu pada keempat kakinya.

Berkali-kali bayi kambing itu mencoba berdiri dan jatuh lagi ke tanah. Setiap kali ia jatuh, sang induk tidak melakukan apa-apa. Mungkin saya yang tidak tahu bahasa kambing, sehingga saya merasa sang induk cuek saja ketika bayinya jatuh bangun untuk berdiri. Saat sudah berdiri jatuh bangun belum usai. Sang bayi juga belajar untuk melangkahkan kakinya. Berkali-kali pula bayi itu jatuh dan bangun. Hal yang sama terjadi pada induknya, ia tidak melakukan apa-apa terhadap bayinya.

Hal yang sama juga pernah saya amati ketika menyaksikan seekor sapi melahirkan. Lewat tayangan National Geographic, saya juga melihat hal yang sama terjadi pada gajah ketika melahirkan.

Ketika anak kami lahir,saya tidak menyaksikan bagaimana ia diambil dokter dari ibunya. Akan tetapi sampai anak kami berumur 3 tahun, saya mengamati bahwa kami tidak pernah menyuruh anak kami untuk belajar mengangkat kepalanya, kami juga jonitidak pernah menyuruhnya untuk tengkurap. Kami juga tidak pernah menyuruh anak kami merangkak. Kami juga tidak pernah menyuruh anak kami untuk berjalan.  Kami hanya mengamati dan menjaga agar apapun yang dilakukan anak kami tidak akan mencederainya. Anak kami juga sudah bisa berbicara dengan baik, mengenal alam dan bahkan mengenal secuil tentang antariksa. Kampi tidak pernah memaksa anak tersebut untuk memahami segala sesuatu. Akan tetapi , menurut kesimpulan saya, setiap mahluk hidup terutama manusia terlahir dengan naluri untuk belajar. Tanpa ada suruhan dari siapapun setiap orang akan belajar sejak lahir.

Jika memang setiap kita terlahir dengan kemampuan untuk belajar, lantas mengapa ada yang gagal dalam pendidikan, gagal dalam pekerjaan, gagal dalam menjalani hidup?. Kegagalan terberat yang mungkin terjadi adalah ketidak tahuan hidup untuk apa, dan ketidak mampuan untuk memutuskan sendiri sebagai respon dari luar dirinya. Secara natural kita itu adalah mahluk belajar, maka sudah pasti kita juga adalah mahluk yang mampu mengambil keputusan, bukan keadaan yang memutuskan mau menjadi apa kita. Sehingga, kemungkinan besar kegagalan yang terjadi adalah proses yang membunuh kemampuan belajar itu. Pablo Picasso mengatakan “Setiap anak adalah seorang seniman, masalahnya adalah bagaimana mempertahankannya ketika kita terus bertumbuh”.

Dalam text Inggeris  Pablo Picasso menyatakan  “Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow”. Bagi saya dalam hal ini yang memiliki peran sangat penting dalam menentukan kegagalan seorang anak adalah orang-orang dewasa, khususnya orang tua. Dalam banyak keluarga banyak sekali larangan yang diberikan kepada soerang anak saat bayi sampai ia dewasa. Seorang anak tidak boleh memegan gelas kaca nanti takut jatuh dan pecah. Seorang anak tidak boleh mengupas salak sendiri nanti tersayat kulitnya dan juga takut bijinya tertelan. Seorang anak joni 2idak boleh main tanah, nanti kotor. Seorang anak tidak boleh main air, nanti masuk angin. Seorang anak tidak boleh naik sepeda nanti jauth. Seorang anak tidak boleh main bola nanti kakinya cedera.

Yang lebih berbahaya lagi, orangtua tidak mampu memberikan alasan mengapa banyak hal yang tidak diijinkan untuk dilakukan. Hal buruk lain adalah orang tua merasa terganggu waktu dan kesenangannya ketiak seorang anak bertanya dan melakukan banyak hal. Sehingga banyak juga keluarga menenangkan anaknya dengan memberikan smartphone, menonton, dan juga peralatan game elektronik. Melarang banyak hal, dan menyajikan media elektronik adalah bagian dari kita orang tua yang menghapus jiwa seniman anak kita.

Ketika beranjak remaja dan dewasa, mulailah kita menginginkan anak kita berpikir dan bertindak kreatif. Bagi saya berpikir dan bertindak kreatif adalah seniman. Banyak orang tua menjadi frustasi mengapa anaknya bandel di sekolah, mengapa anaknya tidak rajin belajar, mengapa anaknya tidak mandiri, mengapa anaknya tidak berani memahami banyak hal, mengapa anaknya sulit untuk bersosialisasi. Banyak orang tua juga frustasi mengapa anaknya tidak mampu menentukan hidupnya mau kemana.




Apa yang terjadi adalah orang tua melakukan dua hal yang tidak pada waktunya. Hal pertam adalah ketika sedang bayi sampai anak-anak, kita orang tua seharusnya membiarkan anak kita untuk belajar segala hal, dan merelakan hidup kita untuk menuntunnya. Kita orang tua kadang tidak rela menuntun anak kita dengan mengawasi dan mencoba memberikan jawaban atas  setiap pertanyaan anak kita. Kita malah memberikan smartphone yang sebenarnya bukan membuat anak kita smart, akan tetapi  jiwa seniman mereka tergerus.  Disinilah saat- saat anak kita belajar berpikir dan bertindak kreatif, maka kebebasan dan pengawasanlah yang seharusnya kita berikan. Hal yang kedua adalah ketika anak sudah semakin besar, remaja dan dewasa. Kita menuntu mereka kreatif tetapi kita sendiri yang sudah membentuk mereka tidak kreatif sejak lahir. Maka banyak orang tua yang frustasi atas hasil yang orang tua perbuat sendiri.

Membuat anak tetap menjadi seorang seniman yang bertumbuh ,maka kita orang tua harus merelakan hidup kita untuk melayani anak kita dengan memberikan mereka kebebasan dan juga kerelaan kita untuk mendampingi mereka. Sehingga untuk menjalani hidup ini bukan ikan yang kita berikan kepada anak kita, akan tetapi kita memberikan keahlian bagaimana mendapatkan ikan.




Leave a Reply