Kolom M.U. Ginting: AKSI TEROR NIECE

1
144

M.U. GintingAksi baru teroris di Niece, yang pakai cara baru dengan menggunakan sebuah truk, membunuhi dengan menggilas sebanyak mungkin. Harinya tepat hari nasional Perancis 14 Juli. Sudah lebih dari 80 orang meninggal menurut berita terakhir pagi ini [Jumat 15/7]. Pakai truk tentu lebih simpel dan tak perlu banyak biaya, dibandingkan dengan bom apalagi bom canggih sangat mahal biaya produksinya. Supir bisa ‘dicetak’ semaunya. Di dalam truk ditaruh senjata/ granat, dan mungkin juga ID/ paspor si supir sehigga lebih bisa meyakinkan orang-orang yang ’mencurigai terorisme’ dan terutama tentunya kepala negara bersangkutan supaya tunduk kepada aturan internasional ’perang melawan terorisme’.

Penemuan ID/ paspor pelaku biasanya dibikin juga seperti di teror-teror Paris, Brussel, dan ITC. ID/ paspor pelaku ini selalu ditinggalkan di mobil tertentu yang katanya milik pelaku. Di Niece sudah diketahui polisi, supir itu (sudah terbunuh langsung) tak ada kaitannya dengan jaringan teroris, tetapi dia adalah kriminal biasa dalam soal pencurian, kekeraan, dan lain-lain di kota. Kalau ID/ paspor ditemukan, pelakunya pemilik ID/ paspor ini semua dibunuh langsung, tak ada yang bisa ditanya keterangannya.

Kita masih ingat juga ’teroris’ Indonesia sering dihabisi begitu saja tanpa kemungkinan mendapatkan keterangan dari ’teroris’ itu sendiri. Terakhir ialah ’teroris’ Siyono, sampai diusahaan tak diautopsi, yang katanya atas permintaan niecekeluarga, yang mana kemudian ternyata tak betul juga. Untungnya pemuda Muhamadiah dan seluruh organisasi Muhamadiah sangat tegas dan berjasa dalam membongkar kegelapan Siyono dengan membongkar kembali kuburannya.

Tujuan penting teroris ialah menakut-nakuti dan karena itu tak perlu takut, kata Presiden Jokowi. Juga Wapres JK bilang tak ada kaitan teroris dengan agama Islam. Jadi bukanlah mau menyebarkan agama Islam, kalau memang pejuang Islam.  

Mengapa menakut-nakuti dan siapa yang ditakut-takuti? Tujuannya ialah supaya semua yang berhasil ditakut-takuti, supaya tunduk, itu saja. Terutama menundukkan pemerintahannya supaya menuruti kehendak perancang terorisme dalam ’perang global anti terorisme’. Di Indonesia, terutama supaya pemerintah dan rakyat Indonesia patuh soal Freeport, perusahaan besar neolib itu. Tetapi secara internasional tunduk untuk apa?

Pagi ini [Jumat 15/7], dalam diskusi di TV Swedia soal Niece, seorang ’ahli terorisme’ bilang banyak kepentingan di belakang teror itu. Salah satunya adalah kepentingan perusahaan multinasional, katanya. Pendapat begini jarang sekali terdengar di Eropah!

niece 2Orang Indonesia sebagian besar sudah tahu jawabannya, mengapa perlu menakut-nakuti publik dan pemerintahannya yaitu dari penjelasan Prof Chossudovsky, Ottawa University. Dia bilang: “The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA. The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”.

Siapakah ’America’ yang dimaksudkan oleh Chosudovsky, yang mau menguasai dunia itu? Mereka ini adalah finans besar dan bankir besar rentenir internasional yang sekarang kita namai neolib. Ketika era Roosevelt disebutkan oleh beliau dengan istilah ‘financial element’ dari large financial centers, dia bilang di tahun 1933:

“The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”

Financial element in the large centers inilah yang sekarang kita namai NEOLIB dan telah menguasai atau Roosevelt pakai istilah ‘memiliki’ (own) the government of the United States sejak era presiden ke 7 Andrew Jackson (1829-1837).

Pemimpin Katolik dunia Paus Fransiskus dalam pidatonya yang terkenal pada hari Jumat Suci April 2016, dalam soal senjata terorisme bilang bahwa orang-orang ini (pedagang senjata) mengasih makan keluarganya dengan duit yang berlumuran darah. Kata-kata ini sangat merasuk ke dalam hati rakyat dunia, ditambah lagi dengan kata-kata Presiden Jokowi bahwa teroris tak perlu ditakuti karena tujuan utamanya ialah menakut-nakuti, dan Wapres JK bilang tak ada kaitannya dengan agama Islam.




Kata-kata ketiga pemimpin dunia ini (Jokowi, JK, Paus Fransiskus) sangat cepat berkumandang ke seluruh dunia. Terasa di Eropah sehabis teror Thamrin atau tepatnya setelah keluar kata-kata dari 3 orang pemimpin dunia itu, banyak publik Eropah bilang teroris tak perlu ditakuti.

“Kita menjalankan kehidupan seperti biasa saja, karena tak bisa dihindari kapan saja dan di mana saja pasti ada orang mau bunuh diri,” kata banyak orang.

Betul memang, apa susahnya cari supir untuk menggilas orang-orang di keramaian? Apalagi kalau sudah dicuciotak atau dikasih narkoba! Di Indonesia, tentu tak susah cari orang ’suka rela’ seperti itu, kapan saja dan dimana saja. Ternyata di Eropah juga.








1 COMMENT

  1. Sangat tepat sekali presiden Jokowi bilang teroris tak perlu ditakuti karena tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Begitu juga wapres JK menandaskan bahwa tak ada kaitan rerorisme dengan agama islam. Berkebalikan denga ini presiden Perancis Hollande bilang:“It is the whole of France which is under threat from Islamic terrorism.” dirilis oleh observer.com. Hollande masih tetap menganggap teror itu perbuatan orang islam. Definisi begini sudah tak dipercaya di Indonesia, karena sudah ditegaskan oleh wapres JK, tak betul kalau rerorisme itu ada kaitannya dengan agama islam.

    Heran juga kalau seorang presiden negeri maju Eropah seperti Hollande masih ‘ada niat’ mempertentangkan rakyat Perancis dengan orang-orang islam atau agama islam.
    Tetapi dengan lebih menyatakan permusuhan dan ancaman ’mengerikan’ itu, Hollande dengan ringan bisa memperpanjang uu ’darurat perang’nya (a state of emergency) sampai waktu tak ditentukan, sehingga pengawasan ketat semakin ketat lagi atas kebebasan bergerak publik Perancis.

    Di Indonesia pemikiran ini ditandai dengan revisi uu terorisme, yang menginginkan uu yang lebih ketat lagi dalam menghadapi terorisme itu, artinya kekuasaan yang lebih besar lagi bagi Densus 88 dan badan khusus penanggulangan terorisme BNPT. Revisi uu ini sekarang sedang dibicarakan di komisi III DPR. Revisi uu terorisme jadi perdebatan, pro kontra di DPR semakin jelas. Ini bisa dibayangkan karena memang sudah terjadi perubahan pikiran publik Indonesia soal terorisme, setelah pernyataan Jokowi dan JK. Terorisme menakut-nakuti tetapi tak perlu ditakuti, serta tak ada kaitan dengan islam, berkebalikan dengan pernyataan presiden Hollande itu. Hollande begitu takut sehingga bikin a state of emergency.

    Selama ini orang Indonesia memang sangat menakuti terorisme, karena belum ada pernyataan resmi dari presiden ’tak perlu takut’ karena tujuannya memang menakut-nakuti. Dan sebab utama lainnya ialah karena tidak ada TRANSPARANSI atau keterbukaan dalam soal penanganan terorisme, soal Densus 88 maupun soal keterbukaan dari BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Sering orang yang dituduh teroris langsung dihabisi saja, tanpa bisa dapat keterangan sedikitpun dari teroris itu. Contohnya Siyono dan banyak sekali yang lain-lainnya sebelum Siyono.

    Debat dan gugatan atau tuntutan yang muncul sekarang dalam revisi uu teroris ini adalah mengenai audit atas cara kerja dan prosedur Densus 88 atau BNPT yang belum terbuka, kata pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie. Jadi (revisi UU Terorisme) menurut saya harus memacu transparansi, kredibilitas, dan integritas dari polisi sendiri,” katanya.

    Salah satu kemajuan yang sangat berarti dalam pembahasan revisi uu teroris itu ialah sebelum dilakukan pembahasan di tingkat Panja, Komisi III sudah mengundang berbagai pihak untuk memberikan masukan atas uu itu, diantaranya LSM, HAM, aktivis hukum, agama, kepollisian. Jadi mengikut sertakan publik atau perwakilan publik. Ini bagus! Semua diatas meja! Paling bagus kalau dibahas dari definisi prof Chossudovsky dari Ottawa University, apa itu terorisme: Dia bilang: “the so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA , The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”.
    MUG

Leave a Reply