Kolom Darwono Tuan Guru: KESEPAHAMAN DALAM PENDIDIKAN

0
174

Darwono Tuan GuruKisah ini terjadi ketika penulis menjadi pendidik di SMA Islam Ta’allumu Huda Bumiayu Brebes, Jawa tengah. Waktu itu, kepala sekolah, Bapak Gatot Susanto, baru selesai menerima tamu orangtua murid. Orangtua ini sangat sulit sekali dipanggil ke sekolah untuk membicarakan masalah pendidikan anaknya. Ada saja alasan untuk mangkir dan tidak hadir ke sekolah. Sehingga Pak Gatot sampai memberikan pembelajaran dengan menganalogikan “menitipkan mendo” alis kambing.

Pak Gatot : “Kkalau bapak nitipin kambing, biasanya bagaimana, sering dilihat enggak?” (dalam bahasa Jawa)

Orangtua: “Ya, sering ditilikin, Pak.”

Pak Gatot : “Dilihat apanya, Pak?”

Orangtua: “Ya, lihat kambingnya gemuk tidak, makanannya baik tidak, kandangnya bersih tidak.”

Pak Gatot: “Bapak menitipkan kambing begitu perhatian, menitipkan anak dididik di sekolah ini kok susah sekali dimohon datang?”

Orangtua: Terdiam.

Pak Gatot : “Artinya, bagi Bapak, kambing lebih penting dari anak.”

Di tengah gencarnya himbauan agar orangtua bisa hadir di sekolah saat hari pertama sekolah penulis jadi ingat kisah Pak Gatot berhadapan dengan orangtua yang sangat kambing 2sulit untuk datang ke sekolah itu. Kisah betapa sulitnya orangtua mau datang ke sekolah memang bukanlah isapan jempol belaka. Betapa banyak orangtua murid hanya mewakilkan kepada pihak tertentu terkait dengan kepentingan pendidikan anaknya di satu sekolah, seperti rapat-rapat, konsultasi, maupun pengambilan raport (laporan hasil belajar). Bahkan tidak jarang, untuk mengambil raport, orangtua hanya mewakilkan dengan membayar tukang ojek.

Bagaimana sekolah bisa memberikan berbagai perkembangan pendidikan anaknya? Oleh karena itu, himbauan agar orangtua hadir ke sekolah pada hari pertama sekolah, sangat penulis apresiasi, tentu dengan beberapa usulan.

Pertama, kehadiran orangtua hendaknya tidak sekedar hadir secara fisik, tetapi hadir totalitas, lahir bathin dengan maksud benar-benar mengenal lingkungan pendidikan baru bagi buah hatinya.




Ke dua, kehadiran itu akan lebih bermakna jika disertai tindakan riil untuk bersama-sama pihak sekolah bermusyawarah sebaik mungkin dengan keputusan-keputusan riil sebuah kesepahaman bersama terkait dengan berbagai hal (hak, wewenang, tanggungjawab, reward dan punishment termasuk mekanisme pemecahan masalah jika suatu saat terjadi) terkait dengan semua aspek pendidikan di sekolah tersebut. Nota kesepahaman ini menjadi sangat penting untuk dijadikan patokan dalam proses pendidikan di sekolah. Termasuk untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan, sebagaimana fenomena akhir-akhir ini.

pendidikan 10Mungkin berbagai hal itu tidak dapat diselesaikan dalam satu hari, di hari pertama sekolah yang juga digunakan dalam rangka MOS, untuk itu pembicaraan detailnya dapat dilakukan pada hari terahir MOS. Sebaiknya sekolah menyediakan draft Nota Kesepahaman itu untuk dipelajari oleh semua orangtua. Seluruh orangtua berperan aktif dalam penggodokan Nota Kesepahaman itu untuk memberikan masukan maupun perubahan yang perlu sehingga, ketika hari terahir MOS, pembicaraan tentang Nota Kesepahaman sudah dapat diselesaikan. Dengan begitu, berlaku efektif mulai hari pertama pembelajaran.

Untuk dapat menghasilkan Nota Kesepahaman dengan cepat dan efektif, proses harus didorong oleh keinginan luhur menciptakan lingkungan pendidikan bagi putra-putri kita yang kondusif. Niat tulus mambangun kesepahaman dalam membangun lingkungan pendidikan demikian merupakan modal utama menghasilkan pendidikan berkualitas yang dikehendaki bersama. Mudah-mudahan hal ini menjadi awal perbaikan pendidikan Indonesia menuju kehidupan bangsa yang cerdas. Amin.




Leave a Reply