Kolom M.U. Ginting: ERDOGAN DAN TURKI

1
162

M.U. GintingKudeta di era modern, di negeri NATO pula, ha ha ha . . . Tentu banyak yang menjadi tanda tanya. Bahkan ada yang menduga kudeta itu adalah buatan Erdogan sendiri (alias drama 1 babak, red.), untuk lebih memperkuat kedudukannya sebagai pejabat berkuasa penuh. Lantas, kalau diitinjau pula dari segi kepentingan, siapa yang berkepentingan menggulingkan Erdogan?Dia sudah berkuasa sejak 2003, sudah lama memang. Memang ada ketidakpuasan di kalangan militer selama ini atau sejak dia bertengkar dengan grup Fetullah Gulen seorang pemimpin Islam yang banyak pengaruhnya di kalangan militer dan yang sekarang menetap di AS.

Tuduhan Erdogan ada masuk akalnya juga karena Erdogan sekarang membikin persahabatan dengan Rusia dan Israel, musuh ’keharusan’ Islam umumnya. Tetapi, Gulen sendiri telah membantah ada kaitannya dengan kudeta itu.

Orang-orang yang mencurigai Erdogan bilang kalau kudeta itu adalah ’designed to pave the way for an Erdogan dictatorship’. Kalau dilihat bagaimana kuatnya sekarang Erdogan setelah kudeta itu, memang bisa dicurigai juga ada rencana politik yang demikian. Semua oposisi Erdogan di milter sedang dibersihkan sepenuhnya dari sisa Gulenist.

Ketika di TV ada seorang Turki bilang militer yang melakukan kudeta itu menembaki warga sipil. Jadi aneh juga memang, sepertinya tak serius kalau mau bikin kudeta Erdogan 2sungguhan, kan bukan sipil yang harus ditembaki. Dengan sikap begitu, semakin semangat memang Erdogan mengerahkan semua orang menentang kudeta itu.

Kalau ditinjau dari 2 kepentingan yang sedang berjuang sekarang ini, yaitu kepentingan nasional dan kepentingan internasional neolib, Turki selama ini sudah menjalankan kepentingan ke dua ini, dan tak ada halangan yang berarti. Atau, kekuatan kepentingan nasional melawan kepentingan global neolib, belum tumbuh seperti di Indonesia.

Ketika Erdogan berpidato di radio/ TV Turki, dia bilang perajurit-perajurit militer itu adalah anak-anak kita, kita ini orangtuanya.

“Tak mungkinlah anak-anak kita menembak kita,” katanya.




Sangat klasik, tetapi masih berlaku di Turki. Kata-kata begini, tak mungkin di Indonesia dan di Indonesia hanya era diktator Soeharto yang mungkin ngomong begitu. Artinya, sudah setengah abad lalu.

Itulah perbedaan tingkat perkembangan kesedaran publik. Kita bangga pada bangsa kita dalam soal ini, sudah jauh dalam soal kesedaran demokrasi ini dan dalam perpolitikan dunia.

Para pemimpin UE semua menyatakan dukungan terhadap Erdogan, karena katanya pemerintahannya dipilih secara ’demokratis’. Demokrasinya bagaimana, tak ada kebebasan pers misalnya. UE dan NATO memang butuh ’kestabilan’ negeri Turki. Bagi AS, di sana ada basis tentara AS. Bagi Kansiler Jerman Merkel, perlu Turki karena sedikit bisa mengurangi aliran pengungsi ke Jerman, yang sekarang sedang kewalahan menghadapi aliran besar pengungsi dari Arab.








1 COMMENT

  1. Pagi ini dieberitakan dari Turki bahwa sudah ditangkap dan dibersihkan semua ‘pengikut kudeta’, diantaranya 3000 militer dan 3000 hakim/jaksa. Ha ha ha . . , cepat sekali pembersihan ini dan dalam jumlah yang begitu besar pula. Ada yang mencurigai kalau nama-nama atau daftar orang-orang oposisi ini memang sudah ada dan sudah dicatat sejak semula sebelum adegan kudeta itu.
    Selamat ‘berkudeta’ pak Erdogan!
    Selamat bersih-bersih!
    MUG

Leave a Reply