Kolom M.U. Ginting: IGNORANCE

0
157

M.U. GintingSemakin terlihat memang kalau kudeta militer Turki kali ini sangat bermanfaat bagi presiden Erdogan. Dalam tempo kurang dari 24 jam sudah diringkus 3000 hakim/ jaksa dan 3000 militer yang dianggap tidak loyal selama ini. Sepertinya sudah terdaftar jauh sebelum adegan kudeta itu.

Bahwa ada kepentingan luar untuk mengadu domba berbagai kekuatan dalam satu negeri, adalah suatu fenomena yang ’biasa’ dalam perpolitikan dunia. Kita masih ingat bagaimana kekuatan ’komunisto fobi’ dibangkitkan lagi beberapa waktu lalu di Indonesia, seperti menggerakkan lagi sisa kekuatan diktator Soeharto dari era 50 tahun lalu. Dalam tingkat tertentu berhasil juga penggerak perpecahan ini. Indahnya di negeri kita ialah bahwa soal-soal ’kolot’ begini sudah bisa dipahami oleh sebagian besar publik negeri ini.

Istilah ’kolot’ itu adalah kata-kata dari Menteri Pendidikan yang menuduh ’kolot’ orang-orang yang menyuruh bakar buku-buku komunis. Mestinya orang disuruh baca, bukan suruh bakar bacaan, justru di saat orang Indonesia sungkan membaca. Ini pikiran maju seorang menteri, dan pikiran ini sudah dikuasai oleh bagian besar publik negeri ini. Tetapi ada menteri ’kolot’ juga, yang masih ’ngeri’ terhadap momok komunisme sehingga gampang dihasut.

ignorance 3Tak lain sebabnya ialah karena ’malas baca’ sehingga tak mengikuti perubahan dan perkembangan dunia di depan mata sendiri. Itulah IGNORANCE, artinya lack of information and lack of knowledge. Informasi dan pengetahuan memang perlu ada dalam mengikuti kehidupan sehari-hari abad ini, apalagi kalau menjabat satu kementerian sebuah negara. Kemudian menteri itu ’putus asa’ sendiri.

“Kalau saya mau direshuffle terserah presiden,” katanya.

Di Turki, ada kekuatan-kekuatan besar yang saling berjuang sejak lama, yang sekarang digambarkan oleh seorang Erdogan dan seorang Gulen. Tadinya kedua orang ini ’bersatu’. Dua kekuatan ini tentu sangat diperhatikan oleh kekuatan luar untuk diadudomba, seperti di Indonesia itu.

Kalangan publik luas tidak melihat politik adu domba ini dimanfaatkan oleh golongan tertentu (dari luar). Berlainan dengan di Indonesia, publik atau sebagian besar publik melihat usaha adu domba ini sehingga gampang diatasi seperti sudah kita lihat sendiri. Tingkat ignorance sangat menentukan.

Di Indonesia, sudah lumayan tinggi tingkat pengetahuan dan informasi di kalangan publik dan di kalangan banyak pejabat, terutama presidennya seperti Jokowi itu. Informasi yang luas dengan media informasi yang luas, partisipasi yang luas, dan keterbukaan yang semakin meluas, telah berhasil meningkatkan kwalitas rakyat Indonesia yang tak ada bandingannya di dunia, terutama dalam soal demokrasi dan perpolitikan dunia.  

ignorance 2Sangat terpuji dan memang sangat tinggi kesannya kalau Jokowi bilang teroris tak perlu ditakuti, karena tujuannya memang menakut-nakuti. Bayangkan saja kalau Jokowi bikin ’a state of emergencydi Indonesia hanya karena ada orang menakut-nakuti seperti bom Thamrin. Atau kalau ada orang mabuk narkoba atau orang sakit psikis pakai truk besar mengggilas banyak orang di Senayan seperti di Nice itu, lantas dibikin ’a state of emergency’ di seluruh Indonesia . . . wow . . . betapa dungunya!

Untunglah kita jadi orang Indonesia, dengan presidennya yang berkesedaran tinggi, dan dengan banyak menterinya yang betul-betul mengabdi kepada tujuan bersama, dan dengan kesedaran rakyatnya yang sudah sangat tinggi, menandingi semua negeri lain di dunia.

Sekiranya Hollande bilang ’teroris tak perlu ditakuti’ sperti Jokowi bilang, tentu dia tak akan bikin a state of emegency, atau tak perlu ikut-ikutan bikin tambah dungu rakyat Perancis seperti yang dikehendaki oleh neolib internasional ’global hegemony’ Chossudovsky itu. Hollande malah bilang teror supir truk yang psikis itu sebagai teror orang Islam. Ini kan bikin ketawa Wapres JK saja. JK bilang begitu habis teror Thamrin kalau terorisme tak ada kaitannya dengan agama Islam, dan tak perlu ditakuti, kata Jokowi. Hollande masih bilang ’teror Islam’ dan menyalahkan perbuatan orang psikis itu sebagai teror Islam. Tentu ada juga tujuan Hollande.




Sekarang, dia dengan seenaknya saja memperpanjang UU a state of emergency itu lagi. Dan tak ada yang melawan keras. A State of Emergency di jaman modern abad 21 di Eropah Barat pula! Hebat, bukan?

Kalau tingkat ignorance itu masih seperti pada era Soeharto (50 tahun lalu), di kalangan publik dan apa lagi kalau ada di kalangan pejabat tinggi negara, maka bisa terjadi seperti di Turki sekarang ini di Indonesia juga. Adu domba demi memperhebat kekuasaan seseorang yang sedang berkuasa. Kalau penguasanya orangnya memang ideal dan bisa jadi panutan seluruh negeri, patutlah tak mungkin terjadi. Tetapi Erdogan bukan orangnya, karena semua juga mengetahui bagaimana korupnya kekuasaannya. Ketika aliran minyak Siria lewat Turki, keluarga Erdogan terutama yang banyak menangguk ikannya.

Sampai hari ini, dikerahkan rakyat banyak ikut membersihkan sisa ’kudeta’ itu yang katanya pengikut si Gulen. Pembersihan dan buron terus dipergiat. Sudah 265 orang mati, 3000 hakim/jaksa, 3000 militernya sudah dipenjarakan. Tingkat ignorance masih sedemikian sehingga mirip dengan pembersihan Soeharto 50 tahun lalu.








Leave a Reply