Kolom Darwono Tuan Guru: VAKSIN PALSU SIKAPI DENGAN LOGIS REALISTIS

0
108

Darwono Tuan GuruMengikuti perkembangan masalah vaksin palsu melalui media massa maupun sosial media, nampaknya masalah vaksin palsu bertambah mumbrah-mumbrah, meluas dan semakin irrasional. Banyak poster, meme atau sejenisnya yang menggambarkan tentang vaksin palsu terutama dampak pemberiaannya semakin ngawur dan tidak terkendali, bahkan sampai-sampai menimbulkan kepanikan. Terkait dengan hal demikian, himbauan penulis kepada masyarakat untuk tetap bersikap logis realistis.

Bersikap logis, tentunya bersikap yang dilandasi oleh logos (ilmu) dalam hal ini imunologi. Ada baiknya membuka kembali tulisan kami berjudul “Vaksin palsu dan konsekuensi immunitasnya” di Kompasiana edisi 27 Juni 2016 atau Kolom kami sebelumnya (klik di SINI). Dengan memahami mekanisme kerja vaksin dalam membentuk sistem kekebalan tubuh (imunitas) dapat disampaikan beberapa hal:

Pertama, sistem imun akan membentuk antibodi sesuai dengan “antigen yang ada” pada vaksin palsu tersebut. Oleh karena itu dampak apa yang akan terjadi tentu berpulang pada isi dari vaksin palsu itu. Formula/ komposisi bahan dari vaksin palsu yang akan menghasilkan respon imunitas dan atau respon lain baik negatif maupun positif.

Sayangnya, sampai saat ini penulis belum mendapatkan isi kandungan vaksin palsu tersebut. Oleh karena itu adalah sangat penting BPPOM menjelaskan tentang komposisi vaksin palsu termasuk dampak positif negatifnya bagi penerima vaksinasi.

Ke dua, jika kita ikuti pemberitaan yang ada, yang mengungkapkan kecenderungan motif mencari untung melalui bisnis vaksin palsu, menurut hemat penulis produsen vaksin palsu menggunakan bahan untuk vaksinnya dari bahan yang murah meriah, vaksin 8plus tanpa menyebabkan dampak ekstrim, sehingga pemalsuan tidak terdeteksi karena munculnya dampak ekstrim paska vaksinasi. Produsen memeliki strategi bisnis jangka panjang, dengan pemilihan bahan yang tepat dapat menghasilkan keuntungan besar, dan dapat menjalankan bisnis ini dalam jangka waktu lama. Sekiranya produsen menggunakan bahan yang sembarangan, yang memungkinkan menimbulkan efek imunologis dan dampak kesehatan ektrim bagi pasien, maka tentu saja “terpantaunya” pemalsuan vaksin itu sudah dapat ditenggarai sejak lama.

Ke tiga, kita perlu bersikap realistis. Artinya, memberikan respon atas masalah ini berdasar realitas yang ada. Fakta menunjukkan, sudah 13 tahun pemalsuan vaksin ini berlangsung. Belum pernah muncul laporan adanya dampak negatif ekstrim yang terjadi pasca vaksinisasi. Artinya, produsen memang menggunakan bahan yang tidak berdampak ektrim dan atau membahayakan. Barangkali, penggunaan bahan-bahan yang bersifat “placebo”, yang tidak berpengaruh apa-apa, yang lazim digunakan dalam dunia kedokteran dengan harapan efek placebonya, yang lebih terkait dengan faktor sugesti yang menimbulkan efek penyembuhan bagi pasien.




Benang merah dari paparan di atas adalah, vaksin palsu mungkin tidak memberikan efek/ fungsi sebagaimana keperuntukannya. Misalanya vaksin polio berfungsi mengembangkan daya imun terhadap serangan penyakit polio. Namun demikian, melihat fakta bahwa tidak ada bayi/ pasien yang menderita dampak negatif paska vaksinisasi selam 13 tahun ini, sangat beralasan jika vaksin palsu menggunakan bahan yang tidak berdampak negatif. Kemungkinan besar hanyalah berisi “placebo”.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik karena putera/ putetinya telah mendapat vaksinasi dari rumah sakit atau dokter yang terbukti menggunakan vaksin palsu, sehingga kita dapat melakukan tindakan-tindakan terkontrol dalam menyelesaikan masalah vaksin palsu ini.

Bersikap logis realistis ini juga kami harapkan pada mereka yang kreatif membuat poster, meme dan sebagainya, agar tidak menambah keruh suasana, akibat kepanikan yang ditimbulkannya. Faktanya juga, pemerintah menyarankan vaksinasi ulang, artinya, kemungkinan vaksin palsu sekedar placebotik sangat besar, jika ditemukan komponen lain sudah barang tentu, akan direkomendasikan tindakan medis lain.








Leave a Reply