Pengungsi Ndai Kang Sisalah, Me?

0
138

Jhon RockyJHON ROCKY. KABANJAHE. Pasca terjadinya aksi buka baju yang dilakukan ibu-ibu pengungsi di sela-sela rapat perwakilan pengungsi dengan pihak BPBD Karo di ruang rapat Kantor Bupati kemarin dulu [Selasa 19/7] menuai banyak tanggapan di masyarakat. Aksi pengungsi ini bahkan menjadi trend topic di media sosial.

Berbagai tanggapan para Nitizen bahkan menambah derita para pengungsi karena mencemooh bahkan menghujat aksi para pengungsi. Mereka beranggapan aksi ibu-ibu pengungsi ini merendahkan martabat kaum perempuan Karo yang terkenal akan sopan santunnya. Ada juga hujatan yang mengatakan aksi tersebut tidak beretika karena dilakukan pada waktu rapat di internal Pemkab Karo.

buka baju 4
2 ibu-ibu pengungsi (lihat kiri dan kanan) telah membua baju dan mengancam telanjang.

Seorang pengamat sosial di Kabanjahe, Perikuten Ginting SSos, ketika diwawancarai Sora Sirulo mengatakan aksi pengungsi tersebut merupakan suatu tindakan klimaks karena keputusasaan mereka terhadap kebijakan pihak Pemkab Karo. Mereka menilai Pemkab Karo sama sekali tidak ada prihatin terhadap nasib mereka.

“Menurut informasi yang saya dengar, pihak BPBD selalu memberikan janji tentang pencairan dana Relokasi Mandiri. Kalau kita melihat rentang waktu sejak ditandatangani Bupati Karo Juknis tentang penanganan pengungsi 4 desa, proses pencairan dana stimulan tersebut dinilai sangat lamban dan penuh dengan kepentingan yang sama sekali bukan kepentingan pengungsi. Hal inilah yang menjadi klimaks kesabaran pengungsi memuncak dan melakukan aksi buka baju di pertemuan tersebut,” urainya.




Selanjutnya Perikuten mengatakan, sah-sah saja sebagian netizen mengkritik tindakan para pengungsi ini, namun dia menekankan bahwa tindakan mereka itu spontanitas akibat ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan yang mereka nilai tidak pro pengungsi.

Seorang pengungsi yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan tindakan itu mereka lakukan karena mereka sering dibohongi oleh pihak BPBD Karo mengenai pencairan dana relokasi mereka.

“Kami juga tahu perbuatan itu sangat memalukan, tapi itu harus kami tempuh karena menyangkut hidup kami. Sudah hampir 4 tahun kami mengungsi tapi kenapa nasib kami selalu ditentukan oleh aturan yang mereka buat? Kami ini sudah sangat teraniaya oleh kebijakan pihak BPBD Karo,” katanya sambil menangis.








Leave a Reply