Kolom M.U. Ginting: MUNCHEN

0
142

M.U. GintingSeluruh Munchen (Munich) jadi ketakutan, karena teror Munich kemarin sore [Jumat 22/7] menembaki orang di shopping center. Memang tujuan utama teror sekarang ini adalah menakut-nakuti publik dan pemimpin/ pejabat semua negara. Karena itu, presiden Jokowi telah menyatakan dengan tegas bahwa teroris tak perlu ditakuti, karena tujuan utamanya memang menakut-nakuti kata Jokowi sehabis teror Thamrin tempo hari.

Teroris Munich kemarin itu bikin heboh seluruh Jerman Selatan. Pengangkutan umum dihentikan dan didatangkan bantuan polisi dari negara bagian sebelahnya. Pengerahan kekuatan ’anti-terror’ ditunjukkan cukup ’hebat’, ternyata terorisnya sudah duluan bunuh diri, seorang keturunan Iran berumur 17 – 18 tahun. Dia berhasil membunuh 9 orang dan melukai 20 orang sebelum membunuh dirinya sendiri. Sudah ada yang memberitakan orang ini psikis tak stabil, atau apakah ada orang normal menembaki orang banyak di keramaian kemudian bunuh dirinya sendiri juga?

Mengapa Angela Merkel tak berani bilang bahwa teroris itu bertujuan menakut-nakuti? Angela Merkel tak berani katakan begitu seperti Jokowi bilang. Ha ha . . . itulah hebatnya taktik ’global hegemony’ Prof. Chossudovsky itu:

“The so-called war on terrorism is a front to propagate America’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA, The global war on terrorism is a fabrication, a big lie.”( Lihat di SINI)




Politik teroris ini memang telah berhasil menakut-nakuti banyak orang politik atau presiden negara tertentu. Karena takutnya malah Holllande bikin UU Darurat Perang a state of emergency di seluruh Perancis. Angela Merkel tidak bikin keadaan darurat seluruh Jerman seperti Hollande, tetapi kemarin dia menyatakan keadaan darurat di Munich dan bikin perintah untuk menghentikan seluruh kendaraan umum di sana; bus, metro, trem, kereta api. Disebarkan pula berita kemungkinan beberapa orang sedang beraksi bikin teror itu. Ternyata teroris satu ini adalah seorang umur 17 – 18 tahun dari Munich sendiri keturunan Iran. Sudah tertembak mati diduga tembak dirinya sendiri.

Ingat lagi kalau orang mabuk narkoba atau psikis sama sekali tak mengerti beda bunuh orang atau bunuh tikus. Bunuh dirinya sendiri atau bunuh orang lain, baginya sama saja, seperti orang psikis supir truk Nice itu. Tetapi, gara-gara supir psikis ini, Hollande malah memperpanjang darurat perangnya. Konyol sekali!

Seperti sudah jadi pengetahuan umum bahwa pelaku teror ini adalah orang psikis, orang yang sudah dibrain wash (orang-orang muda yang masih naif), orang pencandu terror munchen 2narkoba atau miras. Belum pernah ditemukan orang waras 100% yang bikin teror ini. Berlainan dengan teror di Indonesia tahun 1950an yang mau mendirikan negara Islam seperti DI/ TII dan NII, atau teroris dunia tahun 1970an bercorak patriotis kemanusiaan, demi keadilan, membela rakyat dari penindasan kapitalisme dan memindahkan kekuasaan ke tangan rakyat dengan istilah people’s power. Teroris zaman dulu itu punya keyakinan yang mantap demi misi dan visinya. 

Sejak 1980an ke atas sampai sekarang adalah teroris bercorak menakut-nakuti dengan membunuh orang sebanyak mungkin. Yang lucunya lagi (kalau bisa dikatakan lucu) ialah tak pernah keluar pertanyaan: 1. mengapa harus membunuhi orang banyak dan 2. mengapa harus menakut-nakuti? Karena tak ada pertanyaan, tentu tak ada juga jawaban.

Untunglah di Indonesia kita sudah ada jawaban dan solusi tepat: Teroris tak perlu ditakuti dan tak ada kaitannya dengan agama Islam, maka habiskan saja semua tanpa banyak cingcong. Paling cepat ialah semua penduduk diwajibkan bunuh teroris, pengedar/ pencandu narkoba, begal, geng motor kriminal, koruptor. Penyelesaian terbaru persoalan dunia. Presiden Duterte telah bikin percobaan ini. Dunia akan melihat nanti hasilnya.








Leave a Reply