Suasana di Kabanjahe Semakin Tegang

2
202

Ngguntur PurbaNGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. Kota Kabanjahe semakin mencekam setelah kabar beredar sedikitnya 2 orang yang diinformasikan tewas dalam bentrokan massa warga Lingga dengan aparat Polres Karo [Jumat 29/7: Sore menjelang Malam].

Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, kericuhan berawal dari pihak pengembang yang membongkar pagar yang sebelumnya dipasang oleh warga Desa Lingga. Sebagaimana diberitakan oleh media, warga Lingga mengklaim jalan itu adalah jalan pemotongan menuju desa Lingga dan, karena itu, merupakan asset Desa Lingga.

Dengan menggunakan 1 unit alat berat, pihak pengembang mencoba melakukan pembongkaran pagar, tepatnya di lahan relokasi mandiri Tahap ll, Desa Lingga (Kecamatan Simpang Empat). Mendengar hal itu, warga protes dan mengamuk. Alat berat yang sejatinya untuk membongkar pagar, dibakar oleh warga. Bahkan tenda pos polisi yang dibangun pengembang untuk menghalau bentrokan, tidak luput menjadi sasaran kemarahan warga, dan ikut dibakar.

Sampai berlanjut pada sore harinya menjelang malam warga desa terus berkumpul. demo rusuh 4Pembongkaran pagar sebelumnya sempat berjalan lancar. Namun sekira Pukul 14.30 WIB, Skdes Lingga yang bernama Lotta Sinulingga, memprotes tindakan yang dilakukan. Dia mengatakan ada pembiaran dari pihak kepolisian. Merasa kecewa, akhirnya warga Desa Lingga yang berjumlah lebih kurang 150 orang, melakukan pemblokiran jalan umum, tepatnya di depan tenda Pos Polisi. Ini mengakibatkan jalan Kabanjahe — Simpang Empat macet total.

Tidak berselang lama, massa yang sebelumnya melakukan pemblokiran jalan, kembali membuka jalan dan bersama- sama menuju ke lokasi pagar yang sudah dibongkar. Mereka berencana akan melakukan pemagaran kembal. Jumlah massa yang melakukan protes terus bertambah. Sedikitnya 400 orang yang berkumpul di lokasi pemagaran mencoba menuju ke arah tenda Pos Polisi yang dijaga sekitar 15 polisi, sembari mengancam polisi yang berjaga di tenda itu.

Merasa tidak mampu menghalau jumlah massa yang cukup banyak, personel polisi yang berjaga di tenda pos polisi meminta bantuan aparat polisi dari Polres Karo. Melihat massa yang semakin beringas, aparat kepolisian mengambil tindakan tegas dan mengamankan 5 orang warga yang diduga menjadi provokator untuk diperiksa dan dimintai keterangannya.

Merasa tidak terima karena rekan-rekannya diciduk polisi, ratusan warga mencoba mendatangi Polres Karo. Bentrok kembali terjadi, ratusan warga tersebut mencoba melempari markas Polres dengan menggunakan batu, dibalas dengan tembakan peringatan dan gas air mata dari aparat polisi.




Massa berhasil dibubarkan, tapi disebut-sebut ada yang meninggal dunia dari pihak warga. Sementara itu, aparat polisi masih melakukan identifikasi terhadap kebenaran informasi tersebut. Informasi yang didapat lagi kemudian, sampai Pukul 22.00 WIB, warga masih menyerang Polres Karo dan Kantor DPRD Karo.

Wartawan Sora Sirulo mencari informasi kebenaran tentang tewasnya warga tersebut. Seorang warga yang meninggal akibat luka tembak, sedangkan seorang lagi belum diketahui apa sebabnya.

“Dugaan dari informasi warga adalah akibat pukulan benda tumpul oleh personil Polres,” sebut sumber terpercaya itu namun belum mendapat keterangan resmi dari aparat berwenang.

Sedangkan keterangan berbeda mengatakan belum ada didapat kabar tewas.

“Tapi yang kritis ada, dan baru dibawa ke Medan atas nama Ganepo Tarigan untuk dirawat di RSU dr. Pirngadi, Medan,” kata sumber lainnya.

Pantauan Sora Sirulo, sekitar sejam lalu [Pukul 23.00 Wib], telah tiba 5 truk pengangkut personil Brimob dari Medan untuk memperkuat Polres Tanah Karo. Hingga saat berita itu dinaikkan, TNI Polri masih siap siaga menjaga keamanan.








2 COMMENTS

  1. Jangan korbankan rayat karo demi uang,jabatan dan apapun itu.

    Inj bukti negara belum juga hadir di tanah karo simalem. Mejuahjuah.

  2. tanah karo adalah milik orang asli karo, bukan milik pengembang atau pendatang.
    Berlaku: “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”.
    Pendatang ‘shoud not be able to remake society in their own image’- prof Kevin MacDonald.

    MUG

Leave a Reply