Darwono Tuan GuruIstilah cleleng untuk pertama kali penulis dengar dari Romo KH AR Fachruddin saat memberikan khutbah Iftitah pada pembukaan Pondok Pesantren Budi Mulia Yogyakarta 12 Rabi’ul Awwal 1405 H di hadapan para kyai, asatidz, santri mukim dan santri kalong. Pak AR, demikian panggilan akrab beliau, memberi motivasi dan pencerahan dengan menjelaskan secara detail ayat ke 78 dari surah Al Hajj yang tertuilis di mighrob masjid Abu Bakae ash Shiddiq, masjid pondok.

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Yang artinya: Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Penulis sebagai salah seorang santri baru pada angkatan pertama menangkap, bahwa Pak AR menegaskan, untuk menjalani kehidupan sebagai santri sekaligus juga guru 19mahasiswa di kampus masing-masih (santri PP Budi Mulia adalah para mahasiswa dari kampus-kampus besar di Yogyakarta), harus disertai dengan spirit mujahadah, kesungguhan yang benar-benar sungguh-sungguh. Intinya, penulis menangkap pesan Pak AR itu adalah menggarisbawahi agar para santri menjadi Santri Cleleng, santri yang militan dalam kesantriannya.

Dalam perkembangannya, penulis dapat memahami “dawuh Pak AR” itu memiliki makna integritas. Artinya, semua santri diharapkan memiliki integritas kesantriannya, yang tidak lain adalah integritas keIslamannya, aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, dll., yang benar-benar merupakan kesatuan karakter Islami yang rahmatan lil alamin.

Dengan demikian, kata majemuk “Guru Cleleng” bermakna guru yang memiliki integritas keguruannya, guru yang memiliki karakter dan kompetensi holistik dalam menjalankan tugas sucinya mencerdaskan kehidupan bangsa, di institusi pendidikan maupun dalam kehidupan masyarakat luas, bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, guru tidak saja profesional dalam menjaalankan tugas-tiugas pembelajaran di sekolah masing-masing, tetapi juga harus menjadi figur “pendidik” bagi masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, guru cleleng tidak saja terlibat dalam proses pembelajaran di sekolah, namun juga “pembelajaran di masyarakat” dan “pembelajaran bagi bangsa dan negara”




Dalam konteks “pembelajaran bagi masyarakat dan bangsa”, di masa lalu, terutama saat penulis masih kecil, dengan mudah penulis temui bapak dan ibu guru penulis benar-benar terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat dan kegiatan dalam rangka peristiwa-peristiwa kenegaraan; spt. rembug desa, PKK, Posyandu, kepanitiaan acara-acara hari besar. Bahkan, mereka menjadi panitia pemungutan suara dalam setiap Pemilu. Perilaku guru masa lalu di masyarakat benar-benar menjaga konsistensi keguruannya sebagaimana di sekolah. Perilaku-perilaku mulia itulah yang benar-benar sejalan dengan adagium guru sebagai figur yang digugu dan ditiru.

Sejalan dengan perubahan zaman, rupanya terjadi pula pergeseran “status” perilaku guru yang konsisten menjadi pendidik di sekolah maupun di masyarakat, kini banyak mengalami reduksi. Guru tampil sebagai pendidik dan menampilkan figur keguruannya terbatas di sekolah bahkan mungkin sekedar di depan kelas. Terjadinya perubahan demikian mengahibatkan melahirkan potret baru bagi guru-guru Indonesia, yang lain di sekolah lain pula di rumah, dan memunculkan gap yang semakin lebar, sehingga guru-guru makin jauh dari masyarakatnya.




Hal ini berdampak bagi pribadi guru pada komitmen dan kontrol nilai dari masyarakat yang sekan tidak lagi mengelilingi dan mengikat dirinya, sehingga guru makin asosial dan juga asusila. Terkait dengan hal ini maka berbagai pelanggaran nilai dan norfma banyak dilakukan guru akhir-akhir ini.

Di tengah degradasi “nilai guru” dalam berbagai aspeknya, justru kita dihadapkan pada realitas dimana kehadiran guru yang mampu “mencerdaskan kehidupoan bangsa” secara menyeluruh sangat diperlukan. Berbagai tantangan ke depan yang membutuhkan generasi dengan kualitas prima, sudah barang tentu membutuhkan guru-guru yang berkualitas prima, yang dengan itu, kualitasnya dapat digugu dan ditiru. Kesadaran akan munculnya problematika ini sudah harus segera kita pecahkan bersama.

Secara formal, pemecahan masalah ini memang kembali pada pihak yang bewenang menyelenggarakan dan mengendalikan pendidikan nasional, namun di luar itu, kita semua bisa melakukan dengan memberikan konstribusi semampu kita. Guru-guru cleleng diharapkan menularkan keclelengannya secara berantai.




Leave a Reply