Darwono Tuan GuruSewaktu musim kampanye, saya menulis peran Anies untuk Jokowi sebagai peran Nabi Harun untuk Nabi Musa (lihat Jokowi dan Nabi Musa, kompasiana edisi 17 Juni 2014) apa yang disampaikan oleh Jokowi menjadi sangat komunikatif ketika disampaikan oleh Anies. Tentu saja penempatan Anies oleh Jokowi di Kemendikbud juga telah dipertimbangkan Jokowi akan kemampuan leadership (managerial) pendidikan bukan sekedar gerakan.

Sayangnya, Anies sendiri yang menempatkan posisinya justru sebagai ketua gerakan (Kritik Iwan Kusuma saat Diskusi Peran Guru di Hotel Sofyan Betawi Jakpus, Nopember 2015, kebetulan saya bicara sebagai wakil guru). Padahal, sudah satu tahun lewat, yang seharusnya sudah beradaptasi sebagai fast learner seperti Anies. Sebagai guru, saya memahami benar penyakit kronis di lembaga pendidikan. Oleh karenanya, di awal Anies diangkat sebagai Mendikbud, sebagai kawan, saya mengingatkan bahkan juga menulis surat terbuka Kepada Mendikbud.

Benar, banyak tebaran ranjau di sana. Sayangnya, Anies tidak mengerahkan penyapu Anies Baswedanranjau dari kalangan gerakannya agar langkahnya tidak terperangkap oleh ranjau itu. Yang kami lihat, untuk tidak terkena ranjau, justru Anies menghindari memijak bumi dan melayang di awan-awan. Saat komunitas MPO mengadakan halal bil halal di Kemendikbud 24 Juli 2016, salah seorang sahabat berdiskusi dengan kami, dan kesimpulannya adalah Anies kurang cepat membumi dengan posisinya. Teman-teman menilai demikian.

Saya sangat yakin, pada ahirnya, Anies akan dapat membumi dengan realitas di Kemendikbud dan membawa dunia pendidikan Indonesia bersih dan berkualitas. Tentu saja seharusnya Musa sangat memahami adiknya Harun. Sayangnya, kelihatannya bukan episode Harun dan Musa lagi yang berlangsung, tetapi Episode Yusuf dan Saudara-saudaranya, Anies sebagai figur Yusuf, yang memiliki impian sebelas bintang matahari bersujud kepadanya, mendapat serangan iri hati yang harus disingkirkan oleh saudara-saudaranya,

Sejalan dengan konstelasi dukungan terhadap Jokowi, tidak bisa dihindari muncul brutus-brutus. Dilihat dari menteri yang disingkirkan, RR, SS, kita bisa melihat kemungkinan sang Brutus muncul dari mana. Tentu saja brutus-brutus yang menjadi anak-anak Yakub (Jokowi) bermanuver menyingkirkan para Yusuf. Inilah yang menurut hemat saya terjadi pada Anies. Ketakutan kepada sang Yusuf yang membawa nubuwah kenabian (pulung kepemimpinan) membuat saudara-saudaranya sesama pendukung Jokowi yang bertabiat Brutus memenggal hubungan Anies dan Jokowi dalam kabinet.




Siapa sih yang tidak tahu kalau Anies Baswedan mengincar Kursi RI 1 karena Anies mengikuti konvensi Presiden di Partai Demokrat. Logikanya, jika Jokowi hanya menganggap kurang tepat posisi, tentunya Anies hanya digeser posisi, yang semakin memperkokoh kedudukan Jokowi bukan disingkirkan, seperti misalnya, Kemendikti, atau yang menjadi “penjelas” untuk mengkomunikasikan kebijakan-kebijakan Jokowi.

Bagi penulis, ada pembelajaran yang bagus dari kasus Anis.

Pertama, untuk memenangkan peperangan, haruslah didukung oleh pasukan yang mengenal medan dari sahabat-sahabatnya yang siap menyapu ranjau.

Ke dua, jika benar ada Brutus, maka Jokowi harus ekstra hati-hati, boleh jadi mendukung dalam rangka menelikung. Bagi saya, jelas pendekar-pendekar neolib tidak mungkin menerima Nawacita.

Ke tiga, harus diambil pembelajaran bahwa senikmat-nikmatnya menumpang pada kendaraan orang, pada satu saat harus turun. Mari kita kumpulkan kekuatan bahu membahu untuk memiliki kendaraan sendiri, untuk memberikan konstribusi bagi negeri. Gerakan turun tangan bersama mengurus negeri sangat sayang jika tidak dioptimalkan menjadi kendaraan para pejuang!




Leave a Reply