Bapa Laura, kan?

1
88

Oleh: Antonius Bangun (Jakarta)

 

Antonius GintingDi tengah keramaian tamu resepsi pernikahan Grace, anak Bapak Helman Pandia, ketika berkeliling mencari makanan sembari bertemu teman, bersalaman dan bertegur sapa, aku berpapasan dengan seorang gadis (aku kira) atau paling tidak, seorang ibu muda cantik. Sebersit, rasanya wajahnya tidak asing. Tapi tidak pantaslah bagiku memandangnya berlama-lama untuk memastikan dia memang kerabat atau teman, atau teman anakku. Kalau bukan, apa kata dunia? Hari gini (bulang), kok masih melirik seorang gadis.

Semasa muda dan remaja pun aku tidak genit-genit amat, bahkan bisa dibilang pemalu atau bahkan penakut terhadap cewe. Meski pun aku mendapat “Beautiful Nande Tigan”. Itu hanyalah anugerah dan karunia Tuhan.

Aku berpaling ke arah lain sembari melangkah mau menjauh, eh… malah dia Deby 2mengulurkan tangannya. Kami berjabatan sembari saling memandang lebih lama. Aku ingin memastikan siapa dia. Rupanya dia tahu aku masih belum mengenalnya. Lalu dia menyebutkan namanya: “Debby”.

Dari dahulu, semasa SMA, aku memang susah mengingat, terutama nama. Makanya aku tidak suka Ilmu Sosial, aku lebih suka Matematika. Kalau wajah, aku masih lebih mudah mengingatnya, tapi nama, wah, sukar sekali. Sangat sering aku kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya. Aku pun harus menerima kenyataan banyak orang yang mengira aku sombong karena tidak tahu nama mereka. Itulah nasibku. Ya nasib, ya nasib…

Mengerti, aku belum mengenal dia. Debby pun, kurasa menjadi ragu, apakah dia tidak salah menyapa orang. Lalu keluarlah kalimatnya: “Bapa Laura, kan?” Ini jelas untuk memastikan, dia tidak salah.

Aku mengangguk, mengiyakan. Lalu dia lanjut mengatakan: “Saya sering baca tulisannya di facebook.”

Hanya itu, setelah itu kami pun berlalu. Tapi inilah yang membuatku penasaran dan menulis tulisan ini. Terus terang, aku bukan penulis dan tidak rajin menulis di facebook. Bahkan bisa dibilang pengguna pasif. Memang aku pernah menulis dua atau tiga tulisan pada bulan Oktober 2015 ketika mengunjungi pameran buku di Frankfurt (Frankfurt Buchmesse).




Ketika itu aku galau, lalu bertanya, apakah sudah “selesai/ tamat” riwayat penerbitan buku. Jadi pasti tulisan itulah yang dibaca Debby. Ternyata ada juga yang baca tulisanku. Terimakasih ya, Debby.

Kemudian, siapakah Debby? Sampai saat ini pun aku belum tahu. Yang pasti dia orang Karo. Karena hanya orang Karo yang bertanya dengan mengatakan “Bapa …, kan?” Bukan Bapak tapi Bapa. Ini khas Karo. Kalau orang Tapanuli pasti menyebut “amang“. Kalau orang Indonesia pada umumnya pasti mengatakan “Oom atau Bapak diikuti nama sendiri, bukan nama anak. Dan dia pasti bukan “turangku” karena kalau “turangku” dia akan sungkan menyapa. Ini satu lagi kearifan lokal orang Karo.

Jadi, siapa dia? Ada lagu “Payung Fantasi” yang terus bertanya: “Hei, hei, siapa dia di balik payung fantasi.” Tapi sekali ini, siapa dia di balik Facebook?

Jakarta, 1 Agustus 2016








1 COMMENT

  1. Tulisan pak Antonius Bangun sangat enak di baca karena ringan, sederhana tapi mengikat para pembacanya…Semoga timbul inspirasi yg lebih lagi dlm menulis…ditunggu cerita selanjutnya…setelah siapa di balik payung fantasi terungkap…Keep your spirit to write…ganbatee…

Leave a Reply