Kolom M.U. Ginting: Warga Tahu Liku-liku Narkoba

0
311

M.U. GintingIndonesia sudah memasuki ’darurat narkoba’. Karena itu, hukuman mati bagi pengedar tak perlu ada keraguan. Tetapi, masih terganggu oleh masukan pikiran luar seperti HAM, dsb. sampai eksekusi ditunda-tunda. Padahal, kematian tiap hari 40 – 50 orang generasi muda Indonesia tak bisa ditunda, dan terus saja. Sifat malu-malu kucing pejabat keadilan kita, untuk membanggakan dan melaksanakan dengan tegas hukum negeri sendiri, masih bisa mempengaruhi jalannya eksekusi mati yang sudah diputuskan pengadilan. Padahal, suara-suara HAM dsb. itu pada hakekatnya diatur oleh kekuasaan besar kartel narkoba dunia, bukan suara rakyat negeri-negeri lain.

Pembarantasan kartel narkoba di Indonesia belum melibatkan partisipasi penduduk lokal. Karena itu, masih seret jalannya, walaupun sudah ada hukuman mati. Itu juga masih tertunda-tunda yang membikin semangat lebih besar bagi pebisnis narkoba melanjutkan bisnisnya. 

Sebenarnya, di Indonesia bisa jalan bagus sekali kalau ada partisipasi rakyat dalam soal narkoba, atau soal apa saja, karena Indonesia punya KEARIFAN LOKAL, milik semua daerah kultural. Di tiap desa ada kearifan, ada pengetahuan, siapa bandit, koruptor, atau pengedar narkoba. Tak ada orang lebih tahu soal lokal selain orang lokal itu sendiri. Inilah yang harus dimanfaatkan, PENGETAHUAN LOKAL atau kearifan lokal hanya jargon politik saja?

duterte 1Pasukan elit Mexiko melawan kartel narkoba dibentuk 2006, Brasilia 1978, Filipina sejak Duterte Juni 2016. Di Mexiko tak jalan karena pengaruh kartel narkoba di dalam lingkungan penguasa sangat kuat. Perjuangan kepentingan di kalangan politisi dimanfaatkan oleh kartel narkoba.

Di Mexiko tak jalan karena tidak melibatkan rakyat biasa. Begitu juga di Brazil, sudah bertahun-tahun masih begitu-begitu saja. Malah di sini, di berbagai lokasi, rakyat setempat ikut memihak kartel secara terang-terangan dengan membikin barikade jalan, dsb, sehingga polisi biasa tak bisa masuk. Makanya dibentuk pasukan istimewa, dengan kekuasaan luar biasa.

Tetapi, di Brazil tak jalan juga karena TIDAK MELIBATKAN RAKYAT BIASA

Filipina terlihat berhasil karena mengikutsertakan rakyat biasa (partisipasi publik setempat) dengan pimpinan gaya baru. Presiden Duterte terpilih adalah karena sebab utama janjinya menghabiskan semua bandit narkoba dan kriminal dalam tempoh 6 bulan kekuasaannya, dan katanya, kalau dia tak berhasil boleh bunuh saya katanya. Rakyat sangat merindukan hidup tenang tanpa narkoba dan kriminalitas, yang sudah lama diderita oleh rakyat Filipina, sejak Marcos dan sejak adanya bisnis narkoba dunia.




Janji Duterte sangat keras dan dilaksanakan memang. Dia bikin kerjasama dengan pemberontak komunis dan pembrontak Bangsa Moro dalam membasmi narkoba/ kriminalitas ini. Hasilnya memang luar biasa! Sejak dia dilantik sudah dibinasakan lebih dari 400 orang penjahat narkoba dan penjahat jalanan lainnya. Janjinya termasuk penjahat korupsi di kalangan pejbabat juga ikut dibinasakan. Kepada polisi yang berani bela kartel narkoba dia janji akan membunuhnya juga. Penduduk setempat maupun aparat negara diberi upah kalau menghabiskan penjahat narkoba, kalau mati lebih banyak hadiahnya.

Korupsi, kriminalitas jalanan, narkoba, sudah lama menjadi tradisi di Filipina, dan pastilah tidak gampang membasminya, seperti yang dia telah berhasil di Davao ketika jadi walikota di sana. Tetapi, sekarang dia berusaha, dengan cara baru itu, yaitu PARTISIPASI RAKYAT penduduk setempat. Penduduk setempat tahu betul siapa bandit di situ, siapa ikut kartel narkoba atau siapa pecandu narkotika yang juga turut dibasmi. Memang, pecandu adalah mata rantai paling penting dalam peredaran narkoba, karena dilindungi HAM, ’hak’ rehab, dsb.




Rakyat Filipina merindukan pemimpin dengan gaya baru, yang memungkinkan solusi dari persoalan yang sudah mengakar lama di Filipina. Duterte adalah contoh gaya baru itu, dan mayoritas rakyat Filipina mendukung sepenuhnya. Mayat bandit narkoba dan kriminal jalanan bergelimpangan dalam satu bulan kekuasaannya. Dan dia janji hanya 6 bulan selsai. Di Filipina bisa jalan karena melibatkan rakyat biasa.  

Selamat dan sukses, Pak Duterte.




Leave a Reply