Kolom M.U. Ginting: DUTERTE MAKIN GANAS

0
148

M.U. GintingNarkoba adalah satu diantara 3 alat penting ’global hegemony’. Dua lainnya ialah terorisme dan korupsi. Karena itu, jalan biasa menghadapi kriminal narkoba tidak akan mungkin berhasil. Jalan baru yang dipakai Duterte adalah satu-satunya yang tepat dan yang masih mungkin menyelamatkan kemanusiaan dari cengkeraman ‘global hegemony’ itu.

Jalan ini sesuai atau kompatibel dengan perubahan dan perkembangan dunia, yaitu keterbukaan dan partisipasi publik. Tanpa keterbukaan dan partisipasi publik, tidak mungkin bisa jalan usaha Duterte itu.

Duterte terbuka dan meminta kepada semua termasuk penduduk setempat untuk ikut menghabisi kriminal narkoba dan juga kriminal jalan lainnya, seperti menguber gembong narkoba walikota Albuera itu. Anaknya yang juga jadi buronan, kelihatannya belum mau menyerahkan diri seperti ayahnya walikota itu. Tetapi perintah Duterte tegas, ’surrender or die’. Pengadilan tak perlu, itulah kelebihannya.

Di Indonesia, kita banyak pengalaman. Dari dulu sejak adanya narkoba, dari penjara orang-orang ini terus saja mengendalikan bisnisnya. Indonesia sudah menghukum mati beberapa, tetapi selama masih belum semua dihabiskan, selama itu bisnis narkoba masih jalan.

Hukuman mati (pengadilan) lumayan juga, tetapi tidak secepat proses yang dibikin oleh Duterte. ’Effek Duterte’ dengan effek hukuman mati pengadilan, sangat berbeda Duterte 6secara psikologis bagi pebisnis narkoba. Walikota Espinosa itu tidak akan menyerahkan diri kalau dia tahu perbuatannya akan berakhir di pengadilan dan penjara. Dia tahu dan percaya betul bahwa ’surrender or die’ bukan sekadar semboyan biasa. Sudah dibuktikan dalam kenyataan, selama sebulan kekuasaannya sudah dihabiskan lebih dari 400 orang kriminal narkoba dan kriminal lainnya. Dan 1.200 orang menyerahkan diri secara suka rela tanpa syarat. Duterte berjanji akan selesaikan soal kejahatan negerinya dalam tempoh 6 bulan.

“Kalau tidak, boleh tembak saya,” katanya.

Dia usahakan kerjasama dengan pemberontak Komunis dan pemberontak Bangsa Moro dalam soal membasmin kejahatan narkoba ini. Penawaran cease-fire sepihak dengan pasukan Komunis yang diumumkan 25 juli lalu, caranya dianggap terlalu dipaksakan atau terburu-buru sehingga CPP-NPA (the Communist Party of the Philippines-New People’s Army) tidak bisa menerimanya, dan mengatakan bahwa ”the president a “very volatile” leader who rushes to decisions without considering the other aspects of the situation’- (philstar.com).

Dari segi kepentingan bersama patutnya memang dirundingkan dulu sebelum pengumuman sepihak cease-fire itu, karena soalnya terlalu serius kalau CPP-NPA hanya mengikuti begitu saja tanpa perundingan lebih dahulu soal pelaksanaan cease-fire. Perang sudah sejak 1969, dan sudah 40 ribu korban manusia akibat perang ini. Itulah kenyataan pahit yang sudah diderita rakyat Filipina selama hampir setengah abad.

Perubahan-perubahan internasional, terutama runtuhnya negara-negara Komunis dunia, telah banyak bikin perubahan dalam perjuangan CPP-NPA. Pasukannya banyak berkurang, tetapi tak mungkin ditundukkan oleh pemerintah tanpa korban yang akan terlalu berat untuk dipikul oleh kedua belah pihak. CPP-NPA exis di 80 propinsi diantara 91 provinsi Filipina, dan terutama di daerah-daerah pedesaan. Akar persoalannya masih sama, perjuangan keadilan bagi rakyat miskin, yang dulunya atau mulanya sesuai dengan cita-cita perjuangan Maois di China, dengan laras senapang, artinya menirukan sejarah perjuangan China.

Sekarang perubahan di China sudah jelas bagi semua yang bisa baca atau melihat Duterte 5sendiri ke sana. Tetapi, kan tiak semua rakyay pedesaan bisa melihat dengan jelas semua perubahan dunia itu, dan karena itu tetap masih panjang ceritanya. Di sinilah pentingnya peranan pimpinan satu organisasi yang harus bisa baca dan bisa mengikuti perubahan dan perkembangan aktual dunia, supaya bisa menyesuaikan taktik dan strategi organisasinya dalam menghadapi perkembangan.

Salah satu keluarbiasaan bagi Duterte ialah dia dipilih atas dasar tuntutan rakyat Filipina yang selama ini tak bisa terpenuhi walaupun presiden sudah sering silih berganti, yaitu supaya memberantas crime, corruption and inequality. Dan 91% suara pemilih dalam pemilihan lalu dirahup oleh Duterte, terpilih secara demokratis dan tanpa paksaan apa-apa. 

Rakyat memang merindukan diselesaikannya 3 persoalan di atas. Dia sekarang berusaha memenuhi keinginan dan permintaan rakyat. Dia menjanjikan menyelesaikannya dalaam kurun waktu 6 bulan saja, kalau tidak bunuh saya, katanya. Ucapan ini juga mungkin terlalu ’volatile’ juga, tetapi bukan itu yang penting saya pikir, cobalah ingat  kata-kata Ahok juga sering ’volatile’, tetapi dia bekerja keras memperjuangkan kepentingan rakyat Jakarta.




Pemimpin CPP Jose Maria Sison sekarang berada di exil di Belanda, dan mengharapkan bisa bikin perundingan bulan Agustus ini di Norwegia dengan pemerintah Duterte. Semua 3 persoalan yang diangkat oleh Duterte tentu juga pastilah bisa diterima baik oleh CPP-NPA, karena jelas 3 soal itu menyangkut langsung kehidupan rakyat Filipina.

Walaupun soal crime, corruption and inequality mungkin tidak begitu terasa di pedesaan yang dihadapi oleh CPP-NPA sehari-harinya dibandingkan dengan kehidupan di kota-kota besar dimana korupsi penguasanya, narkobanya seperti walikota di atas, apalagi terorisme tak akan berani masuk ke daerah CPP-NPA.

Dunia berubah, apa yang diperjuangkan CPP-NPA dulu telah menjadi bagian penting dari perjuangan seluruh rakyat Filipina, seperti 3 soal di atas. Bukan hanya rakyat Filipina, tetapi juga rakyat Indonesia memperjuangkan yang sama dan seluruh dunia! Maka itu frontnya semakin luas, dan masyarakat yang mau dicapai oleh CPP-NPA bukan lagi seperti yang dicita-citakan atau yang terjadi sekarang di China, dimana ketidaksamaan adalah luar biasa, gap besar antara pemegang kehidupan lux dan kehidupan miskin. Rakyat dan pemimpin Filipina harus cari jalan sendiri memperjuangkan keadilan dan kesamaan itu.








Leave a Reply