Kolom Darwono Tuan Guru: Membangun Pemikiran Komprehensif Melalui Pembelajaran

0
39

Darwono Tuan GuruSalah satu yang dikeluhkan dari pembelajaran di jagad pendidikan kita adalah kurangnya mengembangkan kemampuan berfikir. Pembelajaran yang ada cenderung hanya membangun cara berfikir linier, belum mapu mengembangkan kemampuan berfikir kreatif (berfikir lateral ala De Bono) apalagi membangun kemampuan berfikir integratif (Holistik ala Darwono).

Untuk perbedaan ketiga cara berfikir ini bisa dilihat di Kompasiana sekitar 2 tahun lalu.

Apalagi pada mata pelajaran Biologi, yang terstigma sebagai pembelajaran hafalan, pembelajaran sering terjebak pada sekedar memberikan pengetahuan (kognisi) yang pada level kognisi terendah (C1) hanya mengetahui. Memang materi Biologi tidak banyak menggunakan angka-angka (hitungan) kecuali pada beberapa kajian seperti genetika, maupun evolusi.

Namun, sesungguhnya materi Biologi sebagaimana materi IPA lainnya, dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan berfikir lebih jauh. Tidak sekedar berfikir hafalan maupun linier. Dengan menambahkan kata tanya pada rumusan indikator dengan kata tanya how dan why tidak sekedar what, maka pendakian kemampuan berfikir akan dapat dilakukan, artinya peserta didik dibawa menuju ranah berfikir lebih tinggi.

Saat ini, pada pembelajaran Biologi berdasar Kurikulum 2013, pada Kelas 11 IPA (SMA), kita mulai dengan materi sel, dari struktur, fungsi dan mekanisme kerja sel 1berbagai komponen sel termasuk sistem membrannya, untuk mekanisme yaang lain (metabolisma dan reproduksi sel) ada di Kelas 12. Bila kita sekedar memberikan pengetahuan tentang sel, maka dari perkembangan teori sel, struktur kimiawi membran sel, organella hingga sistem transport membran dapat diselesaikan dalam waktu satu minggu (4 jam pelajaran). Pembelajaran akan cepat selesai, namun tanpa pemaknaan.

Pembelajaran tentang sel akan menjadi lebih bermakna dan dapat mengembangkan tingkat pemikiran lebih tinggi, jika dalam pembelajaran juga diberikan pemaknaan lebih jauh. Misalnya, tetang perkembangan teori sel, dari konsep sel sebagai unit struktural, fungsional, reproduktif hingga hereditas dapat memiliki makna dan hikmah yang dapat disampaikan. Paling tidak, pada karakteristik science yang bersifat tentatif, dalam makna bahwa teori, konsep keilmuan terus berkembang dan berubah. Hal ini tentu terkait dengan “hasil penelitian” yang dilakukan.

Kita dapat membawa pada pemaknaan “penelitian” dan penguasaan sains dan teknologi. Hanya dengan riset sains dan teknologi dapat dikembangkan. Melalui pengembangan sains dan teknologi, spirit patriotisme dapat dibangkitkan, sebab, faktanya, negara-negara yang kuat dalam penguasaan sains dan teknologilah yang menguasai dunia. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin menguasai dunia, kemampuan sains dan teknologi yang dilandasi oleh semangat meneliti harus dimiliki. Dari pemaknaan ini dapat diingatkan kembali sikap-sikap ilmiah yang pernah diberikan di Kelas X saat membahas metode ilmiah. Dari sini kita bisa melihat, bahwa mendiskusikan tentang perkembangan teori dapat ditajamkan ke ranah berfikir konprihensip sehingga peserta didik memperoleh pemaknaan dari diskursus itu. Jika tidak, kita dapat terjebak pada penyampaian “cerita tentang penemuan sel” belaka.

Pada bagian lain dari pembelajaran sel ini tidak kalah menariknya untuk membangun berfikir kreatif dan konfrehensif. Tentang gambar replika sel sendiri, jika kita guru melakukan pemeriksaan secara detail, maka penugasan membuat gambar replika sel dapat digunakan sebagai sarana mengembangkan pemikiran konprihensip dari bentuk dan struktur masing-masing organela sesuai konsep yang benar.




Periksalah gambar replika sel dari peserta didik, bagaimana bentuk dan susunan organela-organelanya, maka kita dapat menemukan berbagai konsep yang perlu dikoreksi. Bagaimana seharusnya membran Retikulum Endoplasma dan membran nukleus? Bagaimana nukleus itu sendiri digambar ketika ada nukleolusnya dan peristiwa yang terjadi? Bagaimana bentuk mitochondria dengan cystanya?

Sepanjang pengalaman penulis, di situ ditemukan inkonsistensi antara konsep dan hasil kerja peserta didik.

Mengkoreksi apa yang telah dihasilkan oleh peserta didik dengan konsep yang ada sesungguhnya tidak sekedar bicara benar salah. Lebih jauh dari itu, membiasakan pada konsep yang bisa dikatakan sebagai “aturan” yang benar adalah pembudayaan pada kedisiplinan. Peserta didik dibiasakan dengan sikap taat dan patuh pada aturan. Hal ini sangat penting sebagai bekal kehidupan peserta didik dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Memang, kadang dengan cara demikian peserta didik mengeluh ribet dan protes karena harus memperbaiki hasil kerjanya. Bahkan sering menjadi komplain. Namun, jika kita ingin menghasilkan berlian-berlian indah, kita harus siap dengan segala resiko untuk mau menempa arang menjadi berlian. Meminjam pernyataan seorang profesor kepada Mac Giver: “Kalau tanpa tekanan, bagaimana arang bisa jadi intan?”








Leave a Reply