Kolom Asaaro Lahagu: Ahok vs Risma dan Strategi “Last Minute” Ahok Lamar PDIP

0
143

Asaaro LahaguPihak-pihak yang ingin mendongkel Risma di Surabaya sedang menyusup ke Jakarta saat ini. Ada empat tim yang disusupkan masuk dan bekerja sama dengan warga dan politisi setempat. Keempat tim ini sedang bereaksi secara elegan. Mereka hadir di tengah-tengah warga dan mengatasnamakan warga Jakarta untuk berkoak-koak bahwa Risma sangat dibutuhkan oleh warga Jakarta.

Tim satu terus-menerus menggaungkan informasi bahwa warga Jakarta sudah mempersiapkan sebuah sambutan hebat untuk menyambut kedatangan Risma.  Tim ke dua, sedang menggalang dukungan pro Risma dari berbagai lini. Tim ke tiga sedang bereaksi di media dan terus menerus mem-blow-upbahwa begitu banyak pihak yang menginginkan Risma maju bersaing melawan Ahok. Dan tim ke empat, adalah tim destroyer, yang mencoba melancarkan kampanye pelemahan Ahok. Dalam tim ke empat ini, masuk Masinton Pasaribu, yang terus berkoar bahwa kambing yang dibedakin pun akan menang melawan Ahok.

Jelas dan amat jelas bahwa mereka yang sangat ngebet merebut dan mendikte posisi Risma adalah para anggota DPRD Surabaya yang gagal mewujudkan tol di tengah kota, wakil wali kota Surabaya, Wisnu Sakti Buana, yang sekian lama merindukan posisi Risma dan Ketua DPP PDIP pemenangan Pemilu Bambang DH yang dulu gagal menjadi Gubernur Jatim yang juga orang dekat Wisnu. Tujuan jangka panjangnya adalah menguasai kursi gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2018 mendatang. Risma jelas tahu skenario pencokelan dirinya. Itulah sebabnya dia berulang kali menegaskan bahwa dia tidak akan meninggalkan rakyat Surabaya. Dia sudah berkomitmen penuh di Surabaya.

Risma juga tahu bahwa pada last minute, Mega akan mengusung Ahok untuk menjadikan negeri ini jauh lebih baik. Ahok di Jakarta dan Risma di Surabaya dan Jokowi di RI-1, Tito di Polri, Ganjar di Jateng. Klop sudah, sebuah tim super era PDIP.

risma ahok
Foto: Bentagar.id

Kalau Mega sampai sekarang belum memutuskan pilihan, itu karena dia ingin sejauh mana air liur orang-orang rakus yang ingin mencokel Risma keluar meleleh. Ibarat makanan, mereka sedang mencium aroma sedap. Di samping itu, Mega juga ingin tahu sinetron plus skenario rakus para lawan Ahok yang sangat ngebet mendongkel Ahok dari posisinya. Mega jelas sabar dan tertawa-tawa melihat situasi panas menjelang Pilkada DKI. Mega juga tersenyum kecut melihat usaha Yusril dan Rizal Ramli yang juga ngebet memimpin ibu kota.

Tenang bro, toh tidak ada salahnya jika Mega menjatuhkan pilihan pada detik terakhir, atau satu menit sebelum KPUD menutup pendaftaran. Tujuannya adalah  membiarkan lebih hawa panas bercampur tensi tinggi melanda kota Jakarta dan Surabaya. Nantinya kalau Mega sudah mengusung Ahok, maka tensi politik langsung turun drastis.

Keputusan final dan kartu truf untuk memilih siapa calon yang diusung PDIP ada di tangan Mega dan tak ada yang mampu menggugat dan mengubahnya. Mega juga berencana memainkan Golkar yang merasa dirinya sudah menang dengan menelingkung PDIP. Istilahnya, Mega sedang mengambil ancang-ancang membuat penipu jadi tertipu dan terlihat mati kutu pada akhirnya. Mega akan membuat Golkar mati kutu pada akhirnya.

Bagi warga Jakarta, pada situasi sekarang ini, Ahok masih is the best dan sosok yang lebih cocok menjadi gubernur DKI Jakarta ketimbang Risma. Dan Mega plus Jokowi amat paham itu. Baik Mega maupun Jokowi, paham bahwa Ahok adalah orang yang tepat memimpin ibu kota dan bukan Risma. Ahok yang ‘bajingan’ lebih cocok di Jakarta ketimbang Risma yang santun.

Sebagaimana Sutiyoso berulang kali mengatakan bahwa Jakarta adalah kota buas yang dipenuhi binatang buas,  maka butuh sosok yang memiliki kebuasan super untuk menangani ibu kota. Bahkan Letnan Jenderal Sutiyoso pun yang menjabat Gubernur DKI selama sepuluh tahun, tidak mampu membenahi kota Jakarta dari preman liar, PKL liar, pemukiman liar, begal APBD, korupsi berjamaah dan seterusnya.

risma mega
Foto: The Jakartan Post

Hal yang sama di jaman Fauzi Bowo, jebolan Doktor lulusan Jerman, juga tidak berdaya membenahi kota Jakarta yang dikendalikan FPI jaman itu. Baik Sutiyoso dan Fauzi Bowo dalam lima belas tahun terakhir, terpaksa melakukan politik win-win solution plus politik damai untuk mengakomodasi berbagai kepentingan berbagai pihak di Jakarta.

Lalu mengapa sosok jenderal sekaliber Sutiyoso dan Doktor Fauzi Bowo (Foke) gagal membenahi Jakarta di jamannya? Jawabannya terletak pada tingkat kegilaan dan kebajingan mereka. Sutiyoso dan Foke jelas tidak memiliki kegilaan yang dimiliki Ahok. Ahok yang lulusan lokal dan double minoritas memiliki tingkat kegilaan dan ‘kebajingan’ super dalam membenani Jakarta. Dan itulah yang dibutuhkan di Jakarta, sebuah kegilaan super. Mengapa?

Di Jakarta, tempat berkumpulnya mantan jenderal, mantan menteri, ketua partai, para politisi busuk, para konglamerat kaya semacam Aguan, pada Bandar Narkoba yang juga melibatkan oknum polisi dan TNI (tulisan Haris Azhar), para ketua lembaga dan institusi, peradilan dan lembaga audit semacam BPK. Kepentingan-kepentingan raksasa bercampur-baur di Jakarta. Kasus-kasus di jaman Ahok seperti anggaran fiktif 12 triliun, bus transjakarta yang berkarat, pembelian lahan sendiri di Cengkareng, suap reklamasi, rekayasa kasus Sumber Waras, adalah contoh-contoh kebuasan peta politik dan korupsi di Jakarta.

Risma benar. Ia pemimpin bagus, santun dan elegan. Namun di Jakarta, kesantunan akan tenggelam di tengah kebuasan Jakarta. Ketika Risma di Surabaya digoyang oleh DPRD, Risma pun terpaksa berderai air matanya. Lewat sebuah televisi swasta kala itu, Risma curhat sambil meneteskan air mata bahwa dia sudah tidak sanggup menahan tekanan sebagai wali kota dan berencana mundur dari posisinya. Dan kalau bukan karena dukungan masif rakyat Surabaya dan campur tangannya Mega, nasib Risma di Surabaya mungkin kini tinggal cerita.




Ibarat seekor domba atau keledai, jika Risma datang memimpin Jakarta yang dipenuhi singa dan harimau, maka Risma dengan cepat menjadi santapan empuk. Seorang Ahok dengan tingkat kebuasan bagaikan banteng raksasa yang luka pun terus-menerus melawan para singa dan harimau buas tanpa henti.

Para lawan Ahok dengan cara keroyok, terus menyerang Ahok. Namun Ahok terus berlatih, terus sigap mengayunkan tanduknya menyerang para Singa dan Harimau itu plus terus mengubah strategi. Hal itu untuk memperdayai skenario Fadli Zon, Fahri Hamzah, Lulung, Masinton Pasaribu, Junimart Girsang, Adian Napitupulu, Taufik dan teman-temannya.

Ahok sengaja memilih independen pada awalnya dan terus-menerus komitmen pada Teman Ahok. Tujuannya adalah agar seluruh kekuatan lawan mengarah pada cara menjegal Ahok lewat KPU dan UU Pilkada yang berpura-pura maju lewat jalur independen. Dan ketika seluruh kekuatan dan strategi lawan tertumpah pada jalur independen termasuk mengamandemen UU Pilkada, maka dengan cerdik Ahok tanpa berdosa, meninggalkan jalur independen. Jelas Teman Ahok tidak kecewa, karena begitulah politik. Setiap saat anda harus berani mengubah strategi.

Ketika Ahok meninggalkan jalur independen, lawan pun pontang-panting. Padahal Lulung terus-menerus memancing Ahok agar terus maju lewat independen yang sudah dipasang perangkapnya itu. Bahkan Lulung akan rela memotong kupingnya jika Ahok berani maju via jalur independen. Demikian juga politisi Gerinda, Habiburokhman, rela terjun di Monas jika KTP pendukung Ahok mencapai satu juta. Energi lawan jelas terlanjur habis dipusatkan di jalur independen, dan pada saat yang tepat, dengan enteng Ahok mengelabui lawannya.

Kini Ahok, sudah resmi maju dari jalur Parpol yang diusung tiga parpol yakni Nasdem, Hanura dan Golkar. Pertanyaannya adalah apakah Ahok merasa yakin dengan tiga parpol itu? Jelas tidak. Ahok tetap waspada dan menyiapkan skenario jitu lain. Ahok paham bahwa jika tiba-tiba salah satu dari Parpol itu mundur maka nasibnya langsung tamat. Tetapi Ahok bukanlah politisi kemarin sore. Lalu apa yang dilakukan Ahok?




Ahok sekali lagi sedang memainkan politik tingkat tingginya. Ketika energi lawan kembali dipusatkan untuk membujuk salah satu partai pendukung Ahok agar mencabut dukungannya kepada Ahok, maka Ahok sudah punya kartu trufnya. Ahok paham bahwa Mega sangat mencintainya. Pada last minute nantinya atau satu menit sebelum KPU menutup pendaftaran, Ahok akan melamar secara resmi ke PDIP. Dan pada saat itu, dengan segera Mega menugaskan Ahok untuk maju lewat PDIP. Klop sudah, Ahok melamar PDIP dan Mega mengusungnya, lawan gigit jari. Jika PDIP mengusung Ahok plus Nasdem, Golkar dan Hanura, praktis Pilkada telah selesai.

Itulah sebabnya Ahok terus mengatakan bahwa dia menunggu PDIP dan membiarkan PDIP memilih wakilnya termasuk Djarot. Nah, ketika pada akhirnya nanti Ahok akan melamar ke PDIP, maka pada saat itu energi lawan yang terpusat untuk membujuk ketiga partai pendukungnya, menjadi habis. Itulah taktik Ahok, yang selangkah lebih maju dari strategi lawan-lawannya. Dan sebagai seorang politisi kutu loncat, Ahok tidak sulit melamar ke PDIP pada last minute nantinya demi menjaga wibawa Mega.

Faktor Jokowi juga yang jelas membuat Mega tetap memilih Ahok. Jokowi tetap menginginkan Ahok untuk menjaga kontinuitas pembenahan ibu kota. Dan itu diamini oleh Mega. Sementara itu bagi warga Jakarta, sosok Ahoklah yang saat ini paling pas sekarang memimpin ibu kota. Sepanjang ibu kota masih dipenuhi makhluk buas, maka sosok keras dan gaya ‘bajingan’ Ahok yang paling dibutuhkan. Sementara itu pada saatnya, mungkin sepuluh tahun lagi, ketika ibu kota sudah setertib dan setara dengan kota-kota di negara Barat, maka sosok santun ala Risma dan Sandiaga Unolah yang paling pas di Jakarta.




Leave a Reply