Kolom Telah Purba: Antara Kabanjahe dan Pangkalan Kerinci

0
174

Telah PurbaBagi orang KARO yang suka merantau lintas provinsi entah itu ke daerah Jambi, Sumsel, Lampung dan Pulau Jawa, bahkan juragan jeruk Karo yang suka ikut mengantarkan jeruknya naik truk Fuso ke tujuan yang sama, pastilah tahu perkembangan kota Pangkalan Kerinci itu dari tahun ke tahun sejak 2000an. Di bawah tahun 2000, jika kita bandingkan kota ini dengan Kabanjahe, alangkah jauh bedanya.

Ketika itu Pangkalan Kerinci hanyalah sebuah kota kecil tempat lalu lalang truk besar pengangkut kayu logging milik perusahaan RAPP (Riau Andalan Pulp Paper). Kota ini terletak di Jalan Lintas Timur Sumatra yang berjarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Pekanbaru ke arah Jambi. Bahkan ketika itu, jika kita berkunjung ke sana, jangankan hotel kelas melati, bahkan Losmen pun masih langka.

pangkalan kerinci
Pangkalan Kerinci

Dalam kurun waktu yang sangat cepat, apalagi sesudah Pangkalan Kerinci berhasil membentuk kabupaten sendiri yang bernama Kabupaten Pelalawan sekitar beberapa tahun lalu, segala hal yang menjadi trend di kota besar bermunculan. Bahkan gedung-gedung baru bermunculan begitu cepat bagaikan tumbuh dari dalam tanah.

Rasanya memang sangat aneh, sebuah kota persinggahan bisa menjelma begitu cepatnya, infrastruktur jalan rayanya sudah standard kota besar. Garis sempadan bangunan terhadap jalan begitu terjaga, sehingga bentuk bangunan terlihat rapi.

Nah, jika kota itu kita bandingkan dengan Kabanjahe, sangatlah kontras. Boleh dibilang sejak saya mbrojol dari perut emak saya sampai hari ini, yang boleh saya catat hanyalah kantor bupati yang megah, pompa bensin Tigabaru, dan Kabanjahe Plaza. Cuma itu yang signifikan plus super market Pajak Singa.




Apa kira-kira yang membuat Kota Kabanjahe lambat bergerak sehingga, jika kita ibaratkan, persis seperti babi kekenyangan makan dan akhirnya malas berfikir?

Saya kadang memimpikan jalan raya Berastagi — Kabanjahe terdiri dari 4 lajur plus trotoar yang dihiasi bunga warna warni, sehingga bisa naik sepatu roda dari Brastagi ke Kabanjahe (walaupun ngeri juga tertabrak bis Sutra dan Sinabung Jaya, yang menganggap jalan raya itu hanya buat mereka berbalap ria).

kabanjahe
Kabanjahe

Saya pun memimpikan Kota Kabanjahe itu bisa ketemu Hoka Hoka Bento, atau KFC bahkan J Co Donut kesukaanku. Namun rasanya mimpi saya ini tak mudah terwujud, mengingat kompleksitas permasalahan yang ada saat ini dan niat baik pemimpinnya sangat ikut mempengaruhi.

Seorang leader yang tangguh dan berwawasan jauh ke depan (serta berkarakter kuat dan tak berkompromi dengan mafia proyek serta bertangan besi menjaga wibawa hukum) masih dalam penantian Kota Kabanjahe dan Kabupaten Karo pada umumnya. Kepala Daerah yang menjadi tuan rumah, bukanlah model Jumat Siang pulang ke Jakarta, dan Senin Pagi ngantor di Kabanjahe.




Leave a Reply