Catatan Peziarah (2): MULTATULI Di SCHIPHOL

0
114

Oleh: Ita Apulina Tarigan

 

Ita Apulina Tarigan 2Setelah sebulan menghirup udara Belanda, tibalah hari kepulangan ke Tanah Air. Pulang sudah harus, selain tiket sudah di tangan, tenaga visapun sudah habis. Saya tidak mau kena blacklist, tentu saya patuh dan waspada.

Schiphol sebenarnya Bandara yang sederhana. Tidak begitu besar gedungnya kalau dilihat dari luar. Tetapi, ketika masuk ke dalam dan mulai kelimpungan mencari tempat check in, lalu gate keberangkatan, baru terasa lutut dan betis agak gemetar. Jauh juga ternyata.

Di kounter check in Qatar Airlines, saya berikan smartphone dengan tampilan email dari Qatar. Si petugas menatap saya, lalu menatap passport, berulangkali. Wajahnya kelihatan capek. Sebelum saya, ada 3 keluarga berombongan check in dengan 6 orang anak Balita dan mereka terlihat sangat sibuk mengatur kereta bayi dengan berbagai macam tetek bengek.

Max HavelaarLalu dia tanya: “Kamu ke Kuala Lumpur terus ke mana?”

Saya jawab: “Ke Surabaya.”

“Mana tiketmu ke Surabaya?” tanyanya lagi.

Dia semakin bingung setelah melihat tiket saya bertuliskan SUB – KUL/ KUL – SUB.

“Mengapa kamu tanya tiket saya dari Kuala Lumpur?” kataku penasaran.

“Itu peraturan, nanti kamu dipulangkan,” katanya lagi.

“Saya Indonesian,” kata saya lagi dengan bingung.

Dia terperangah, kemudian seorang petugas lain lalu menghampiri. Mereka berbicara dalam bahasa Belanda, tetapi agaknya membicarakan saya. Akhirnya, tanpa berbicara dia membereskan bagasi saya dan meminta maaf.

Akhirnya, saya mengerti, mungkin dia pikir sehabis dari Kuala Lumpur saya kembali lagi ke Amsterdam, dia tidak lihat barangkali kalau tiket saya adalah tiket pulang.

Tantangan berikutnya adalah pemeriksaan X-Ray. Ransel, tas tangan dan jaket masing-masing 1. Semua harus ditaruh di dalam baki. Saya sendiri harus melewati gerbang X-Ray yang dindingnya seperti kaca. Telapak kaki diletakkan sesuai tanda yang ada, dua tangan harus terentang lurus dan menghadap ke samping. Di depan dan belakang saya, sinar biru terlihat seperti garis turun perlahan. Aman, lewat.

Ransel saya tertahan. Panik sejenak, mengingat-ngingat apalagi lagi yang di dalam selain pakaian kotor dan 2 buku? Ah, ada parfum dan deodorant, tapi rasanya sudah dimasukkan di dalam plastik dan masing-masing volumenya tak sampai 30 ml. Petugas gondrong tinggi besar itu menyuruh saya membuka ransel dan mengeluarkan isinya.




Saya keluarkan, paling atas adalah 2 buku, tiba-tiba dia suruh stop, lalu mengambil semacam tongkat dengan sensor memasukkannya ke dalam tas. Dia tersenyum penuh arti. Jangkrik, bathinku. Takut yang tidak perlu dilihat mesti dikeluarkan. Tatapan mata dan garis mulutnya semakin nakal. Tiba-tiba…..

….. Aku tidak tahu di mana aku akan mati

Aku melihat samudera luas di pantai Selatan ketika datang ke sana

Dengan ayahku untuk membuat garam

Bila kumati di tengah lautan dan tubuhku dilempar ke air dalam

Ikan hiu berebutan datang berenang mengelilingi mayatku dan bertanya:

“Siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”

Aku akan mendengarnya…

Saya terperanjat melihat si petugas imigrasi gondrong itu dengan santai mengucapkan rangkaian bahasa Indonesia, berpuisi. Saya semakin kaget lagi, ketika sadar dia mengucapkan puisi tak berjudul dalam buku Multatuli, puisi Saijah kepada Adinda. Segera saya tersadar, ketika dia bilang: Isi tasmu OK!

Sambil memasukkan buku-buku saya bertanya:”Kamu tahu Multatuli?”

“Ya, saya juga baca buku itu,” katanya riang.

Have a nice flight, Mam,” katanya lagi.

Yah, mungkin Multatuli sekali ini menyelamatkan saya sehingga tidak perlu membongkar ransel dan menunjukkan isinya. Tetapi, tetap saja saya terpana hingga duduk di pesawat. Teringat, banyak orang Indonesia justru asing dengan Multatuli, bahkan mahasiswapun tidak mengenal buku ini.




Leave a Reply