Catatan Peziarah (3): THE POWER OF CIMENG

0
345

cimeng

Oleh: Ita Apulina Tarigan

 

Ita Apulina Tarigan 2Ketika teman-teman kerja mengetahui saya mau pergi ke Belanda, para lelaki ini berebut titip oleh-oleh, yaitu cimeng alias ganja. Kegenitan mereka dapat saya maklumi. Maklum karena mereka warga Negara Singapur atau Malaysia yang hukumnya berat sangat jika terlibat dengan ganja, sama dengan Indonesia. Tetapi, tentu saja saya tolak mentah-mentah. Mau bunuh diri apa? Meski mereka bilang kini ada rokok merek Marl*o*o yang mengandung ganja dan aman, tetap saja saya tolak.

Tetapi harus saya akui, antusiasme mereka ternyata mempengaruhi saya. Legalitas cimeng di Belanda ternyata cukup terkenal dan mencengangkan. Negara tetangga mereka seperti Jerman dan Inggris masih menjadikan ganja sebagai barang terlarang. Konon di perbatasan Jerman, polisi Jerman cukup ketat melakukan pengawasan.

Setiap weekend gerombolan anak muda Jerman mengunjungi Amsterdam demi cimeng dan pulangnya mereka mengantongi bekal untuk menunggu weekend berikutnya. Nah, tidak jarang mereka tertangkap saat razia dan sanksinya tidak main-main.

Cimeng 2Sejak pertama mendarat di Schiphol, lalu menuju Leiden saya sudah jelalatan mencari kedai penjual cimeng. Kedai harapan saya bukan sembarang kedai, tempat menjual ganja malah mereka namakan coffee shop (warung kopi), tertutup dan rapi. Ahhh…gagal saya menyaksikan drama orang-orang mabuk cimeng. Padahal di kepala sudah ada bayangan wajah-wajah semacam rastafara, rambut gimbal dan gaya-gaya hippies lainnya.

Setelah ngobrol ke sana ke mari, ternyata kebanyakan café ganja dijalankan oleh orang-orang Maroko. Ganja di Belanda umumnya dipasok dari Maroko. Katanya ganja tumbuh subur dan sedap di sana, di pegunungan Maroko.

Suatu sore sehabis mengunjungi Molen de Valk (kincir angin di pusat Kota Leiden), sembari menunggu bis ke arah Leyhof, saya tersadar tidak jauh dari halte ada café yang dimaksud. Sore itu masih Pukul 16.40. Sebaris manusia memanjang rapi, mengantri. Pakaian rapi, klimis, wajah riang sehat dan gembira, ada yang menuntun anjing, ada yang membawa tas belanjaan.

“Lihat, tunggu saja sebentar lagi pukul 17.00, lihat apa yang terjadi,” kata Bang Juara.

Saya memusatkan perhatian. Tepat pukul 17.00 pintu café terbuka, seorang pria muda cimeng 3rapi mengucapkan selamat sore dan mempersilahkan para pengantri masuk satu per satu. Satu per satu pula mereka keluar dari toko dengan senyuman. Sebagian ada yang mulai menyulut rokok sambil berjalan. Bau cimeng menguar. Ada yang menyimpan cimeng di dalam kantong. Tenang dan damai, seolah seperti suasana antrian atm.

“Para penggemar cimeng ini ternyata santun-santun,” bathinku.

Lain lagi ketika kami mengunjungi Amsterdam. Iseng-iseng kami memasuki lorong-lorong Red Light. Red Light ternyata tidak semeriah dulu karena sebagian sudah dilarang oleh Pemko Amsterdam. Kini yang berdiri adalah rumah-rumah bordil yang benar-benar diawasi ketat operasionalnya oleh Pemerintah Kota.

Seorang lady boy bercelana ungu dengan kolor di luar, tiba-tiba melintas sambil membawa balon halogen. Hussshhh… kental bau cimeng tercium dari asap yang dihembuskannya. Semakin masuk lorong aroma cimeng semakin kuat.

Beda Leiden, beda Amsterdam. Di Leiden tidak dibenarkan merokok ganja di dalam café, hanya boleh beli lalu pergi. Di Amsterdam, café-café ganja menyediakan makanan juga minuman sehingga para pelanggan dapat menikmati ganja dalam suasana café. Tidak hanya di kawasan Red Light, di jalan utama dan halaman Amsterdam Centraal pun berbau ganja.

Di Amsterdam, penikmat ganja di jalanan kebanyakan bukanlah orang Belanda, tetapi turis-turis dari negara tetangga seperti Inggris dan Jerman. Hari itu, seorang turis Inggris yang sudah mabuk, tiba-tiba teriak dari lantai tiga sebuah gedung, teman-temannya panik takut si mabuk terjun bebas. Bahkan, ketika turis Jerman pulang ke negaranya, polisi perbatasan akan melakukan pemeriksaan mencegah warganya membawa ganja dari Belanda. Sekali lagi inilah bedanya Amsterdammer dengan Leidenaar.




Nah, setelah melihat kelakuan manusia di dua kota ini, sayapun berniat mencoba ganja. Saya beli di café dekat halte Molen de Valk, mereka menamai wilayah ini Culturaal District (lingkungan budaya). Harganya selinting €2,5. Lintingannya rapi. Dimasukkan dalam tabung plastik berwarna merah, ungu atau biru (merah paling keras, biru paling ringan dan ungu sedang).

Saya simpan dalam kantong jeans, saya akan mencobanya di rumah. Soalnya, konon katanya, mabuk ganja berbeda pada setiap orang, ada yang tertawa, ada banyak cakap, ada yang jatuh tidur dan ada juga yang jatuh dalam perasaan sedih. Saya belum bisa meramal seperti apa mabukku nanti. Jadi, supaya aman lebih baik di rumah saja.

Ternyata, si cimeng terlupa sampai seminggu lebih. Suatu malam cerah berbintang, saya teringat. Di halaman belakang saya mencoba menyalakan, angin kencang. Biyuuh… menyalakannya saja saya tidak bisa. Akhirnya, setelah kursus singkat dari bang Juara cimeng sayapun menyala.

“Jangan banyak-banyak, kam belum pernah. Pelan-pean saja,” katanya.

Setelah 10 hisapan, saya masuk ke rumah.

“Bagaimana?” tanya bang Juara.

“Gak ada terasa apa-apa,” kata saya.

Nanti coba lagi, katanya. Demikian berulang-ulang sampai 4 kali saya keluar masuk rumah, hingga lintingannya tinggal sepertiga. Saya tetap belum mabuk juga, hanya sedikit haus. Kami berdua heran.

Malam itu akhirnya, setelah 4 kali mencoba sayapun pergi tidur. Malam itu tidur saya nyenyak sekali. Sampai hari ini, saya belum tahu apa karena memang ganja tidak bisa memabukkan saya, atau teknik menghisap ganja belum pas. Yang jelas, saya tidak tahan baunya dan tidak tertarik mengulangi lagi.







Leave a Reply