Pembunuh Alm. Sandra Yolanda Duha Ternyata Pecandu Narkoba

1
226
narkoba 12
B. Frans Gulo saat diamankan.

imanuel sitepu 3IMANUEL SITEPU. DELITUA. Frans Ngamanken Rikwanta Gulo (16) warga Jl. Bunga Rampai Ujung, Klurahan Simalingkar B, pelaku pembunuhan terhadap Sandra Yolanda Duha alias Nanda (14) ternyata pecandu narkoba. Ini dikatakan oleh J. Manalu (14), teman dekat Frans Gulo, kepada wartawan [Jumat 19/8: Siang].

“Saya teman dekat Frans, bang. Setiap hari kami sama dan hanya tidur kami pisah. Memang dia selama ini sudah pakai narkoba dan sudah pernah direhabilitasi. Gegara narkoba itulah Frans nekad berbuat jahat. Dia juga pernah mengatakan sama saya kalau ia ingin merampok di kawasan Pancurbatu,” terang Manalu.




Hal serupa dikatakan oleh B. Bagariang (55) tetangga Frans. Menurut Bagariang, jika Frans sedang mabuk dan sakau, Frans juga kerab berbuat onar dengan melempari rumah tetangganya.

“Kalau tidak mabuk, Frans adalah tipikal anak baik. Tapi kalau sudah mabuk, ia suka melempari rumah warga. Pekerjaan orangtuanya bertani dan Frans (pelaku) juga ikut orangtuanya, bang. Si Frans adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara,” tutur Bagariang.




1 COMMENT

  1. Semua pemerkosaan dan pembunuhan yang ‘aneh-aneh’ tak wajar adalah perilaku orang-orang setengah manusia, artinya pemabuk narkoba. Orang-orang ini juga yang diangkat jadi pelaku terorisme pada umumnya seperti supir teroris Nice menggilas mati 80 orang.
    Pengobatan persoalan setengah manusia ini tak mungkin ada yang lain selain yang telah ditunjukkan oleh presiden Duterte: serahkan kepada penduduk setempat untuk menemukan orang-orang ini bersama pengedarnya dan tembak mati ditempat, kalau tidak menyerahkan diri. Perlu juga dicatat bahwa bagi orang-orang setengah manusia ini sudah tak mengerti apa bedanya hidup atau mati. Baginya membunuh atau dibunuh sama saja tak berbeda, begitu juga memperkosa atau diperkosa.

    Dalam permintaannya kesemua golongan politik di Filipina, presiden Duterte mengajak kerja sama dalam soal perang narkoba ini. Rebel bangsa Moro sudah menyetujui menyokong perang narkoba Duterte. Persetujuan dengan rebel komunis Filipina terakhir jadi terhalang karena Partai Komunis Filipina menganggap perang narkoba Duterte tak sesuai dengan tuntutan HAM katanya, dan mencontohkan Mexico yang telah memakan korban 80 ribu jiwa tetapi persoalan narkoba masih sama atau malah makin ganas, karena katanya dasar persoalan narkoba tidak disinggung, karena itu tak mungkin selesai dengan extrajudicial killings itu katanya.

    Apakah dasar persoalan narkoba? Dasarnya katanya adalah persoalan sosial masyarakat, kesenjangan dan kemiskinan menurut PK Filipina. Ini tentu sama dengan dasar persoalan yang selalu dikemukakan oleh PBB dan HAMnya. Dan yang lebih mentertawakan lagi ialah bahwa neolib/global economy/global hegemony juga pakai akar persoalan yang sama yaitu kesenjangan sosial dan kemiskinan tadi. Tetapi lucunya lagi ialah kalau neolib ini malah kerjanya cuma bikin gap dan kemiskinan terus menerus dengan program grownya, tambah utang dan tambah tekanan ekonomi bagi rakyat terutama negeri berkembang, tetapi tambah kekayaan melimpah bagi segelintir. Tambah kekayaan bagi segelintir dan tambah kemiskinan bagi mayoritas rakyat artinya tambah gap tadi. Dan itu salah satu caranya ialah dengan narkoba, mentelerkan pemimpin/pejabat dan rakyat banyak semakin banyak yang teler setengah manusia. SDAnya lebih murah harganya atau bisa dijarah saja.

    Tidak mungkinlah satu negeri akan tambah makmur dan tambah bagus pembangunannya kalau rakyat dan pemimpinnya semakin teler! Setelah teler ditakut-takuti pula dengan teror. Teror dilakukan pula oleh orang-orang teler setengah manusia itu. Dengan politik grow utang ditambah, korupsi otomatis bertambah, tak terbantah karena itulah pengalaman tambah utang negeri ini. Tiga konco kejahatan ini (narkoba, terorisme, korupsi/utang) tak terpisahkan satu sama lain, dan punya satu majikan, yaitu NEOLIB global hegemony bankir besar finans internasional, rentenir internasional atau ’finance element large centers’ kalau make istilah presiden Roosevelt th 1933. Roosevelt belum mengenal istilah neolib ketika itu.

    PK Filipina mencontohkan Mexiko sebagai contoh yang gagal dalam pemberantasan narkoba walaupun sudah terbunuh 80 ribu orang katanya. Banyak perbedaan hakiki antara perang narkoba Duterte Filipina dengan perang narkoba Mexiko. Pertama dan terpenting dan sangat penting ialah, Duterte sebagai presiden adalah penguasa tertinggi negara, dipilih oleh 91% rakyat pemilih, dan bikin perang narkoba secara TERBUKA dan PARTISIPASI RAKYAT lokal. Ini perbedaan hakiki yang tak ada di Mexiko. Mayoritas rayat Filipina mengangkat Duterte untuk membasmi semua kejahatan narkoba, korupsi dan terorisme Abu Sayyaf. Ini membikin misalnya sebanyak 600 ribu bandit-bandit Filipina sudah menyerahkan diri ke pihak polisi. Seperti ini tak mungkin terjadi di Mexiko.

    Di Mexiko tidak ada penguasa seperti Duterte, yang ada ialah semua penguasa terbagi menurut kekuasaan politik narkobanya, termasuk pejabat dan kekuatan polisi/militernya terbagi menurut pembagian penguasa narkoba itu. Mereka ini bisa saling bunuh terus bahkan sampai mencapai korban jutaan jiwa pun, tidak akan menemukan penyelesaian, karena kekuasaan tadi sudah terbagi. Dan terpenting lainnya ialah di Mexiko tidak ada KETERBUKAAN, dari pihak manapun, dan tak ada yang mempercayakan solusi kepada rakyat setempat yang pada pokoknya tak berani buka mulut padahal merekalah yang tahu semua siapa banditnya. Jadi pernyataan PK/rebel komunis Filipina memakai argumentasi HAM PBB/neolib serta mencontohkan Mexiko jelas sama sekali tak logis.

    Indonesia tak mungkin rasanya menjadi negeri terpecah-pecah menurut kekuasaan narkobanya seperti Mexiko. Tetapi pemecah belah orang luar dalam menghadapi solusi narkoba masih bisa jalan di Indonesia, walaupun sepenuhnya tidak seperti di Mexiko, misalnya walaupun sudah diputuskan pengadilan dengan hukuman mati atas pengedar/gembong narkoba, tetap saja masih ditunda-tunda eksekusinya, dan semakin marak bisnis narkobanya dari penjara padahal sudah darurat narkoba.

    MUG

Leave a Reply