Kolom M.U. Ginting: PBB Tandingan?

1
164

Dalam kesempatan yang sama, ia malah balik mengkritisi PBB. Menyebut organisasi internasional itu tidak cukup baik dalam menangani kelaparan dan terorisme, serta tidak mampu melakukan apa-apa dalam kasus Irak dan Suriah,” demikian Liputan6.com merilis kemarin dulu terkait kritik Presiden Filipina Duterte terhadap PBB [Senin 22/8].

M.U. GintingBetul Duterte dalam soal diatas, PBB tak mampu dan belum pernah mampu mengurus kelaparan, terorisme dan tak bisa bikin apa-apa dalam soal ISIS Irak dan Suriah. Tetapi PBB pandai mengeritik dan mencampuri urusan negara lain seperti urusan Filipina dalam perang narkoba itu. Kalau urusan narkoba diserahkan ke PBB tidak akan selesai sampai kapanpun. Dan, rakyat Filipina menderita terus, direcoki terus dengan segala macam kejahatan.

Duterte sekarang bikin cara baru dalam pelaksanaan perang narkobanya, ’surrender or die’ kepada semua pengedar dan gembong narkoba. Dia bikin itu secara terbuka dan partisipasi rakyat setempat yang tahu betul siapa bandit narkoba. Karena itu, cara baru Duterte menghabisi segala macam bentuk kejahatan terutama narkoba, adalah percobaan baru dan satu-satunya di dunia jalan solusi yang masih mungkin dengan prinsip TERBUKA DAN PARTISIPASI PUBLIK. Inilah cara barunya. 

Agaknya abad ini hanya cara ini yang mungkin menyelesaikan soal kemanusiaan abad 21 ini. PBB sudah jelas tak mampu, dan PBB sudah didominasi oleh negara besar dan kapital besar.


[one_fourth]PBB tandingan?[/one_fourth]

Soekarno pernah juga bercita-cita sama tipe Nefo. Dulu tak mungkin. Sekarang memang semakin terlihat PBB tak pernah menyelesaikan satu soal besar dunia. Kalau memang kuat PBB itu mengapa tak bisa selesaikan Timur Tengah dan teror di mana-mana?

duterte 10Siapa latar belakang teror internasional itu? Trump bilang Obama yang bikin ISIS. Chossudovsky bilang: “The so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA , The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”.

Paus Fransiskus bikin anallisa terorisme dari segi UANG, yang sekarang sudah menjadi TUHAN di masyarakat dunia. Ini sangat erat kaitannya dengan ’global hegemony’ (greed and power) Chossudovsky itu.

<Questioned about what is fueling terrorist acts, the pope pointed the finger at the global economy, saying that “terrorism grows when there is no other option, and to the extent the world economy has at its center the god of money and not the person.” The love and adoration of money is a “basic terrorism against all of humanity” he said, and has replaced love between humans.> – (http://www.marketwatch.com/)

Duterte bilang PBB si bodoh itu. Ya betul memang bodoh karena PBB tak bisa bikin analisa seperti Chossudovsky atau Paus Fransiskus. Bisanya hanya memaki-maki orang dari negara lain dengan HAMnya.




HAM PBB belum pernah dan tidak akan pernah menghentikan pembunuhan akibat kejahatan terutama kejahatan karena narkoba. Di Indonesia mati 40-50 orang tiap hari dan jutaan orang. Setengah dari jumlah manusia yang sudah tidak bisa membedakan hidup atau mati, memperkosa atau diperkosa, membunuh atau dibunuh. Tak bisa membedakan memperkosa yang hidup atau yang mati. Mana pernah PBB bisa menyelesaikan soal ini.

Yang jelas ialah bahwa soal ’setengah manusia’ ini dan kejahatan yang ditimbulkannya, tak mungkin diselesaikan dengan koar-koar soal HAM. PBB tak bisa bikin apa-apa kecuali koar-koar dan teriak nyaring HAM. Dimana HAM orang-orang mati 40-50 orang tiap hari itu? Mengapa PBB tak pernah teriak?




1 COMMENT

  1. Kecendrungan semakin besar satu organisasi makin kecil tindakannya atau dengan kata lain tidak lebih dari hanya sebagai bendera yg hanya berkibar saat ditiup angin kencang saja.

    Sebab organisasi besar butuh dana besar dan banyak yg bersedia mendanai dengan konsekwensi harus bergerak sesuai kebutuhan dan kepentingan si pemodal.

    Saya jadi ingat dengan Pdt. Ginting yg tidak mau lembaga yg dipimpinnya bergabung dengan salah satu organisasi keagamaan kriten terbesar di negeri ini walau dia juga sering dikecam soal ini, bahkan oleh orang dalamnya.

    Menurut saya wajar. Kita lihat di mana-mana ada konflik yg berbau agama, rumah ibadah dibakar, dibongkar, harus berizin utk beribadan dan sangat susah dapat izin. Dan harus nyetor iuran ke organisasi itu. Jadi apa ini? Buat apa berorganisasi kalau hanya ajang arisan para elit-elit dan tiba ada masalah tak pernah berujung pada solusi.

    Demikian juga pandangan Duterte dan sebelumnya Soekarno juga berpikir demikian kepada PBB.

Leave a Reply