Mengapa Rumah Karo Rusak Seperti Ini?

0
152

rask 1

 

Jebta B. SitepuJEBTA B. SITEPU. MEDAN. Sebuah kiriman foto dari Dame Munthe di grup Facebook Jamburta Merga Silima (JMS) menyentak hati admin grup ini. Admin lantas mengadakan jajak pendapat online. Foto yang dikirim itu adalah gambar sebuah Rumah Adat Suku Karo (RASK) yang bagian sampingnya telah rusak dimakan usia.

Beragam komentar dan pandangan dari anggota grup tersebut menarik bagi Sora Sirulo untuk dimuat menjadi sebuah tulisan.

Dame Munthe mengatakan, RASK sama artinya dengan sebuah kekerabatan antar orang Karo.

“Besar kemungkinan cikal bakal adat Suku Karo adalah berasal dari kekerabatan antar penghuni RASK. RASK itu unik, kekerabatan penghuni RASK sangat indah,” kata Dame munthe melalui akun FB nya.

Sementara itu, Darul Kamal Lingga Gayo melalui akun FBnya mengatakan adanya Pembiaran terhadap RASK.

“RASK rusak karena kurang dirawat. Ada kesan pembiaran, berharap RASK itu hancur. Setelah hancur, lahan berdirinya RASK dijual,” tulis Darul Kamal.

Hal senada juga ditulis oleh Makabreri Simada.

makaberi simada“RASK ini rusak karena adanya faktor Pembiaran. Sejatinya RASK akan tetap berdiri gagah jikalau ditempati dan digunakan sewajarnya. Asap dari kayu bakar yang digunakan penghuni RASK akan membuat kokoh bahan bangunan RASK yang terbuat dari kayu. Agar RASK dapat bertahan lama walaupun tidak ditempati seharusnya ada usaha “maintenace & repair” yang berkelanjutan, misalnya pengecatan, pembersihan dari jamur, rayap serta memperbaiki bagian yang sudah rusak. Kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk menjaga RASK sangat penting,” papar Makabreri.

Simson Ginting Suka mengatakan RASK yang atapnya terbuat dari ijuk akan lebih tahan lama jika sering terkena asap kayu bakar.

“Saya lihat atap RASK sudah ada yang bocor. Itu kan mengakibatkan kayu-kayu bangunan RASK akan makin cepat membusuk karena terkena air hujan,” sambung Simson.

Akun FB Kempu Rajalambing Sebayang juga mengatakan hal yang sama.

“RASK rusak karena telah kosong, RASK adalah manifesto dari jiwa (tendi) orang Karo yang mendiaminya. Sama seperti tubuh yang tidak lagi berjiwa, fisiknya akan mati dan perlahan akan membusuk dan hancur,” keluh Kempu.

Edi PandriEdi Pandri Sinuraya juga turut berkomentar bahwa RASK adalah sebuah kekeluargaan.

“RASK suatu bukti kekeluargaan yang tidak dapat dipisah satu sama lain. Ketika keluarga di dalamnya utuh maka kuat dan utuh jugalah RASK tersebut. Jadi dapat disimpulkan, kerusakan yang terjadi pada RASK tersebut disebabkan kekeluargaannya sudah tidak kuat lagi. Maka terjadilah pembiaran terhadap RASK tersebut. Mustahil jika sebuah RASK dirawat tanpa ada keluarga yang menempatinya. Aktifitas keluarga di dalamnya juga mendukung bangunan tersebut tetap kokoh,” tulis Edi Pandri.

Selain karena pembiaran, Bahari Tarigan Sibero mengatakan, sebenarnya material RASK rentan rusak.

“Semua material itu, kekuatannya memiliki usia atau batas. Saya salut kepada leluhur kita, mereka mengerti akan hal itu. Agar air tidak tertahan pada atap, atap itu dibuat curam dan dindingnya juga sedikit miring. Begitu juga bagian bawah pakai landasan batu untuk pondasi, pengawetan menggunakan asap dapur dari dalam. Untuk perawatan, ya siapa yang peduli? Di sinilah masalahnya,” sambung Bahari berkomentar.




Joy Suranta Tarigan di dalam komentarnya mengatakan RASK akan cepat rusak. Tidak hanya RASK, tapi berlaku untuk semua jenis rumah. Jamur, lumut, rayap, dan karat akan lebih mudah berkembang di ekosistem yang bebas dari aktivitas rutin manusia.

“Dua kemungkinan yang paling besar di antara kemungkinan-kemungkinan yang lain kenapa RASK itu kosong adalah konflik di antara ahli waris serta arus modernisme yang meredefinisikan arti fungsi dan bentuk rumah yang kemudian diterima sebagai kebenaran umum. Akibatnya orang malu dan merasa tidak patut tinggal di rumah adat. Semuanya pindah ke bangunan yang berbentuk gambar bidang trapesium,” tuturnya.

rask 2Akun Ginting Manik mengatakan bahwa semuanya berkaitan dengan modernisasi dan perkembangan teknologi. Dimana RASK ini kurang mendukung akan akses kepemilikan barang-barang modern.

“Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya bila orang yang tinggal dalam RASK ingin punya tv, kulkas, motor, atau bahkan mobil. Di manakah penempatan barang-barang tersebut? Jadi aku melihat pada jaman sekarang RASK sebagai kungkungan/ penjara atas prestise individu, akhirnya RASK jadi tempat pembuangan orang yang ekonominya kurang,” kata Ginting.

Lain lagi dengan Robinson Sembiring. Robinson mengatakan bahwa RASK adalah identitas diri orang Karo.

“Setiap orang mengambarkan sesuatu tentang dirinya dan usahanya, maka orang tersebut akan menampilkan gambar RASK sebagai Logonya. Namun untuk menjaga keberadaan fisik RASK tidak banyak yang peduli. Apakah ini gejala “split of personality” atau ada soal lain dalam relung hati orang Karo?” kata Robinson Sembiring yang dosen FISIP USU, Medan, ini.

Rahmatsys Barus mengatakan rusaknya RASK tersebut karena adanya perubahan gaya hidup para penghuni RASK.




“RASK di Desa Dokan (Kecamatan Merek, Kabupaen Karo) masih banyak berdiri kokoh dan dihuni. Kalau dulu ada yang disebut pengulu jabu atau bena kayu, biasanya ditempati oleh simantek kuta atau anak taneh. Jabu Ujung Kayu biasanya di tempati anak beru dari pengulu jabu. Setiap harinya juga dulu ada yang namanya si ngian kerin (Penjaga rumah secara bergiliran). Tapi, sekarang hal demikian tidak ada lagi dilaksanakan. Memasak sehari-hari juga tidak lagi semua memakai kayu bakar seperti dulu, tetapi sekarang sudah banyak beralih memakai gas sebagai bahan bakar dan juga tenaga listrik,” sambung Rahmatsys.

Memang sangat disayangkan, sebuah aset suku Karo sudah banyak yang rusak dan tidak terawat. Kiranya kita mau dan peduli terhadap aset dan budaya suku kita, Suku Karo.



Leave a Reply