Kolom Asaaro Lahagu: Ketika Ahok “Bercinta Politik” dengan Mega, Elit PDIP Bertengkar, Koalisi Kekeluargaan Merana

0
118

Asaaro LahaguSulit sekali untuk tidak membahas Ahok menjelang Pilkada DKI 2017. Selain Ahok jago marah, jago loncat partai, jago pecat PNS, jago berkelit, jago bebas kasus Sumberwaras dan reklamasi, jago menciptakan musuh,  ia juga jago bercinta. Nah yang terakhir inilah yang menarik. Ahok jago bercinta. Ya, bercinta politik dengan Megawati, mantan Presiden dan sosok untouchable alias sosok tak tersentuh di partainya, PDIP.

Ahok dan Mega adalah dua sejoli yang sedang asyik bercinta politik sekarang ini. Ahok ibarat pemuda gagah yang kadar cintanya membara. Ia terus menerus mengumbar cintanya dan mempertotonkan kemesraan cinta itu kepada publik. Ibarat sinetron, kisah cinta politik Ahok-Mega menjadi tontonan yang menarik, mencemaskan, menggemaskan dan membuat pemirsa penasaran. Apa akhir kisah cinta politik kedua sejoli ini? Apakah Mega akan mendukung Ahok yang pernah ke lain hati? Ataukah akhirnya mereka akan pisah jalan?

Publik mencatat, walaupun Ahok sosok pemarah yang meledak-ledak, namun tak sekalipun dia menyinggung, menghina apalagi menyerang pribadi Mega. Ahok terus mempertahankan level kedekatannya dengan Mega di depan publik.  Ahok tak berhenti menggoda, menyanjung dan memuji pribadi Mega sebagai sosok panutan politiknya.

Pujian Ahok kepada Mega mengalir deras.  Pada setiap kesempatan, Ahok selalu mengatakan bahwa ia sangat sayang kepada Mega. Mega adalah sosok ibu penyayang dalam karir politiknya. Bahkan Ahok tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia tak mungkin meninggalkan Mega. Mega adalah jantung politiknya. Tanpa Mega kehidupan politik Ahok hambar, hampa dan tak berarti.

Menariknya, cinta politik Ahok tidak bertepuk sebelah tangan. Ada respon mengganas dari Mega. Pilkada DKI 2012 lalu adalah bukti nyata kisah cinta Ahok-Mega. Pada last minute, Mega menyatakan cinta kilatnya kepada Ahok. Ahok yang ada waktu itu masih anggota DPR dari partai Golkar, ibarat disambar halilintar tak percaya lamaran kilat Mega. Hasilnya, insting politik Mega berhasil mengorbitkan Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi.

Ahok - MegaSelanjutnya cinta politik Mega kepada Ahok terus terjaga mesra di tengah badai hempasan politik DPRD DKI. Ketika Lulung, Taufik dan Prasetio berkolaborasi menjegal Ahok untuk tidak dilantik menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi yang telah menjadi Presiden, cinta Mega terus menggebu membela Ahok. Mega pun meminta Jokowi untuk melantik Ahok dan berhasil menduduki kursi panas Gubernur DKI. Ketika DPRD DKI satu suara untuk meng-impeachment Ahok, sekali lagi cinta Mega datang membela. Ahok pun tetap gagah perkasa menjadi DKI-1 hingga detik ini.

Menjelang Pilkada DKI 2017, cinta Ahok-Mega kembali diuji kadarnya. Tetapi kali ini adalah penentuan kisah cinta mereka berikutnya. Menariknya, ketika Ahok jatuh cinta kepada pihak lain “Teman Ahok” dan maju lewat jalur independen, Ahok meminta restu dari Mega. Dengan khasiat bakso yang mereka makan berdua, Mega pun mengijinkan Ahok mencicipi gurihnya cinta “Teman Ahok”. Namun setelah Ahok capek bercinta dengan Teman Ahok dan gagal ke pelaminan alias maju dari jalur independen, Ahokpun kembali ke pangkuan Mega.

Hebatnya, cinta abadi Mega tetap memberi ruang bagi Ahok. Ketika Ahok kembali, Mega dengan sabar menerimanya. Baginya, Ahok adalah pemuda ganas yang sedang mencari kisah cinta terakhirnya. Melihat sikap Mega demikian, cinta sejati Ahok kepada Mega semakin membara dan menggebu. Walapun sudah ada tiga cinta dari partai politik yang mendukung, Ahok tetap saja mengharapkan dukungan resmi cinta sejati Mega.

Sambil terus bermanuver, Ahok mempertontonkan kemesraan cinta politiknya kepada Mega. Dalam beberapa kali kesempatan, Ahok dan Mega bertemu. Kedua pemain sinetron politik Jakarta ini, diketahui pernah bersama dalam satu mobil saat menghadiri acara Golkar (28/7/2016). Kemudian Ahok-Mega pernah bertemu di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP (17/8/2016). Di kantor itu, Ahok-Mega kembali mempertontonkan kemesraan politiknya kepada publik. Hasilnya, Ahok mengklaim bahwa dia sudah mendapat restu dari Mega untuk kembali maju menjadi calon Gubernur pada Pilkada 2017 mendatang. Klaim Ahok itu sontak membuat elit PDIP bertengkar sendiri.

Ahok - Mega 2Di internal PDIP secara kasat mata ada pergolakan. Sebagian elit PDIP di tingkat DPD dan DPP menolak Ahok. Lalu sebagian yang lainnya mendukung Ahok. Sebut saja mereka yang menolak Ahok adalah Merry Hotma, Prasetio Edi Marsudi, Bambang DH, dan Gembong Warsono, Masinton Pasaribu, Andres Hugo Pareira, Ahmad Basarah. Di pihak lain ada elit PDIP mendukung Ahok secara terang-terangan atau secara tersirat seperti Maruar Sirait, Djarot Syaiful Hidayat, Hasto Kristiyanto.

Elit-elit PDIP ini terutama di level bawah saling mengklaim bahwa Mega mendukung atau tidak mendukung Ahok. Namun, ketika Ahok mempertontonkan kemesraan politiknya dengan Mega, para penentangnya di kalangan PDIP pun mati kutu. Jelas bahwa sosok Mega tak bisa diganggu-gugat keputusannya. Tak seorang pun di PDIP yang bisa menentang Mega saat ini.

Adegan kemesraan politik Ahok-Mega, jelas telah membuat internal PDIP terpecah dan bahkan bertengkar sendiri. Pun koalisi kekeluargaan yang di bangun oleh tujuh partai sebelumnya adalah salah satu skenario merusak kisah cinta Mega-Ahok. Sampai saat ini Koalisi kekeluargaan belum secara final mendeklarasikan Cagub dan Wacagubnya sendiri. Mereka selalu menanti keputusan Mega. Bahkan koalisi ini terus-menerus mengemis kepada Mega agar diijinkan memasukkan Risma sebagai Cagub DKI Jakarta. Akan tetapi, respon Mega dingin dan cuek. Akibatnya koalisi kekeluargaan itu merana, meranggas dan terlunta-lunta tak tentu arah.




Kisah cinta Ahok-Mega saat ini memang telah membuat pentas politik di Pilkada DKI terus memanas. Kedua sosok ini pun amat paham itu. Tak tertutup kemungkinan bahwa keduanya sedang berakting mengguncang-guncang rasa penasaran publik. Bisa jadi, Mega secara sadar sedang memainkan psikologi massa untuk tidak terburu-buru menyatakan dukungannya secara resmi kepada Ahok. Alasannya toh, kartunya sudah ia pegang sendiri.

Mega amat mungkin sedang memanfaatkan kesempatan untuk menikmati rasa penasaran publik, pertengkaran kanak-kanak elit partainya, merananya koalisi kekeluargaan  yang sudah sampai di ubun-ubun untuk menanti keputusan akhir Mega. Bagi Ahok yang paham betul sisi psikologis Mega, sedang memainkan kartu trufnya yakni terus menggoda dan menyanjung Mega.

Ahok jelas berprinsip bahwa jangan sekalipun menghina Mega karena dia adalah sosok pendendam tujuh turunan. Itu terbukti bagaimana kisah dendam Mega kepada SBY. Namun di sisi lain, sepanjang Ahok terus-menerus memuji Mega, maka rasa cinta politik itupun akan datang dengan sejuta rasa. Ahok paham bahwa kalbu Mega jika sudah tersentuh, maka ia sulit dijamah oleh pihak lain.




Terang bahwa sosok Ahok-Mega saat ini merupakan dua sosok sejoli politik yang menjadi media darling paling menarik. Segala gerak-gerik dua sosok ini, selalu ditunggu dan dinanti. Satu kata saja dilontarkan Mega terkait Ahok, maka media mainstream akan berhari-hari dan bahkan berminggu-minggu membahasnya. Bahkan jika Mega batuk kepada Ahok, maka media langsung heboh dan ribut.

Cinta politik Ahok dan Mega sekarang ini  memang sedang memasuki masa-masa krusial. Jika Mega mendukung Ahok, maka kisah cinta mereka terus membahana yang membuat berbagai pihak cemburu, merana dan bunuh diri. Namun sebaliknya jika Mega juga meniru Ahok pergi ke lain hati, maka kisah cinta politik mereka mungkin akan tamat.

Bukan tidak mungkin, seperti tulisan saya sebelumnya bahwa kisah cinta Ahok-Mega itu akan mencapai titik penentuannya pada last minute pendaftaran Cagub dan Cawagub di KPUD. Baca artikel sebelumnya Ahok Vs Risma dan Strategi Last Minute Ahok Lamar PDIP. Jika itu terjadi, maka lawan-lawan Ahok akan semakin penasaran, merana dan akhirnya terkencing-kencing di celana menyaksikan kisah akhir cinta politik Ahok-Mega. Selamat menikmati dan bermesra politik kepada Ahok-Mega.



Leave a Reply