Oleh: Bayo Suti Nasution

 

jam gadangSewaktu saya liburan ke Sumatera Barat, ada 2 kejadian yang membuat kaget sekaligus bangga. Hari ke-3 saya di Padang [ Minggu 3/7: 08.30 Wib], setelah balik dari objek wisata Suwarnadwipa Sumbar, kami berempat (saya Nasution, merga Tarigan, beru Sitepu, dan merga Surbakti bere Nasution) menompang Trans Padang (sejenis Trans Jakarta). Dari halte Telkom rencana keliling Kota Padang dengan moda transportasi ini.

Kami turun di halte Mesjid Raya Sumbar. Dari halte ini kami naik bus Trans Padang lagi melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba di depan Mall Padang terdengarlah lagu Karo yang judulnya Merangap dari speaker bus tersebut.

Tak ayal kami berempat pun saling pandang dan senyum tersipu. Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita minta ongkos sekalian memberi tiket. Iseng-iseng si kawan merga Tarigan bertanya pada cewek itu.

“Supirnya orang Karo, ya uni? Saya dengar mutar lagu Karo tadi,” kata Tarigan.

Si cewek menjawab: “Enggak, bang, orang asli sini bapak itu, tapi bapak tu emang sering dengar lagu Karo.”

Lalu Tarigan menjawab: “Oh gitu, makasih ya uni”.




Esoknya [Senin 4/7], kami bertolak ke Bukittinggi setelah menunggu 2 kawan yang menyusul ke Padang. Jadilah kami 6 orang sampai Bukittinggi. Keliling cari hotel yang murah meriah demi menekan biaya seminim mungkin. Terpenting bisa buat mandi dan tidur ala kadarnya.

Setelah dapat hotel, mandi dan menuntaskan hasrat alami perut, Pukul 12.00 malam kami langsung ke Jam Gadang. Begitu masuk ke area Jam Gadang, sayup-sayup terdengar lagu yang sepertinya familiar di telinga. Ternyata, lagu Karo berjudul Mbaba Kampil.

Langsunglah si Tarigan nyeletuk: “Seh kel mantapna e, macam tau aja ada orang Karo yang mau datang dan disambut pakek lagu Karo ala Red Carpet.”

Kemudian kami cari dari mana asal suara lagu Karo tersebut. Ternyata dari salah satu lapak penjual souvenir. Kami tanyalah harga souvenirnya sekaligus interogasi mengapa dia memutar lagu Mbaba Kampil. Eh, rupanya dia menikah dengan orang Karo.









Leave a Reply