Longgena
Longgena Ginting (ke 2 dari kanan) saat di Belanda bergabung dengan Tartar Bintang pimpinan Juara R. Ginting (paling kanan sedang meniup surdam). Foto ini adalah menjelang pertunjukan mereka untuk pembukaan Pameran Sumatra di Museum Etnologi Leiden (Belanda) yang dibuka oleh Dirjen Kepurbakalaan dari Indonesia.


[one_fourth]Pengantar Redaksi[/one_fourth]

Ita Apulina Tarigan 2
Pimred SORA SIRULO, Ita Apulina Tarigan

Terpilihnya Dana Prima Tarigan sebagai Eksekutif  Daerah WALHI Sumatera Utara [24/8] disambut gembira oleh Redaksi Sora Sirulo. Apalagi, beberapa orang Karo sudah menunjukkan kemampuan mereka dalam organisasi lingkungan ini, baik di tingkat daerah maupun nasional. Misalnya seperti Longgena Ginting yang sekarang menjabat sebagai Direktur Greenpeace Indonesia, Abetnego Tarigan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Indonesia pada Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup XI tahun 2012 yang sekarang menjadi salah seorang eksekutif staf Presiden Jokowi.

Segera setelah terpilihnya Dana Tarigan, dalam wawancara dengan Sora Sirulo [Rabu 24/8] dia mengatakan: “Salah satu fokus Walhi Sumut ke depan adalah penanganan bencana Sinabung, terutama terkait soal lokasi relokasi pengungsi. Kita akan memberikan masukan agar relokasi pengungsi segera terwujud tanpa menghancurkan hutan Karo, agar tidak ada bencana ekologi baru”.

Direktur Greenpeace Indonesia Longgena Ginting, turut bergembira atas kepengurusan WALHI Sumut yang terpilih ini. Untuk itu beliau mengapresiasi dengan memberikan pandangan permasalahan utama lingkungan hidup  di Sumut, yang bisa menjadi masukan kepada kepengurusan yang baru dan juga pandangannya terhadap Dana Tarigan sebagai Eksekutif  Daerah WALHI Sumatera Utara.

Berikut pandangan Longgena Ginting yang dikirimnya ke redaksi.




hutan lindung 2
Salah satu bukti perambahan hutan lindung di Kabupaten Karo. Foto: B. KURNIA PP.

Seperti di banyak tempat di Indonesia, masalah lingkungan hidup di Sumut tidak terlepas dari masalah sosial, seperti masalah lingkungan dan pertanahan terkait dengan sektor perkebunan monokultur dan kehutanan, pencemaran air, udara atau pedesaan oleh industri termasuk industri peternakan skala besar (termasuk Danau Toba). Kelangkaan air di banyak tempat di Sumut juga mulai terasa. Begitu juga dengan menyusutnya kawasan hutan akibat ekspansi perkebunan, pertambangan dan berbagai aktivitas pembangunan lain.

Model pembangunan ekstraktif menyebabkan degradasi lingkungan hidup yang meluas. Kondisi demikian ditambah dengan situasi eksternal seperti perubahan iklim dapat membuat perbaikan kualitas lingkungan di Sumut sangatlah berat. Dengan tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini, bisa jadi Sumut adalah salah satu provinsi dengan tantangan kerusakan lingkungan yang paling berat.

 


[one_fourth]Apa yang bisa dilakukan?[/one_fourth]

Tidak lain adalah memasukkan prinsip keberlanjutan dalam semua kebijakan pembangunan di Sumut. Keberlanjutan (sustainablity) harus menjadi roh dan cita-cita pembangunan di Sumut. Di sinilah peran yang bisa dimainkan WALHI Sumut sebagai sebuah gerakan lingkungan hidup yang bisa membawa suara dan menjadi inspirasi untuk menghentikan kerusakan sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan di Sumut.

Dana Tarigan adalah pilihan tepat untuk WALHI Sumut. Dia tumbuh dan berkembang di lingkungan WALHI dan sudah mengenal asam garam organisasi. Dia dikenal baik oleh jaringan WALHI secara internal dan dikenal luas oleh jaringan atau institusi di luar WALHI.

Ketenangan dan kejernihannnya melihat masalah adalah ciri kepemimpinannya yang dapat membantu dia membawa WALHI menjadi rumah gerakan lingkungan di Sumatera Utara. Ini adalah saatnya untuk Dana untuk menunjukkan kepemimpinan WALHI sebagai motor gerakan lingkungan yang saat ini sangat dibutuhkan di Sumut. Dia harus berani keluar menjadi seorang pemimpin karena dia sekarang adalah pemimpin WALHI Sumut.




1 KOMENTAR

  1. “Dia harus berani keluar menjadi seorang pemimpin karena dia sekarang adalah pemimpin WALHI Sumut.”
    ”Timidity is dangerous: Better to enter with boldness. Any mistakes you commit through audacity are easily corrected with more audacity. Everyone admires the bold; no one honors the timid.” – Robert Greene
    Keberanian (boldness) itulah kunci kepemimpinan, terutama dalam menghadapi lingkungan sekarang ini, karena pada pokoknya persoalan terbesar ialah menghadapi kriminal, nasional dan internasional. Kalau soal pencerahan bisa perlahan butuh kesabaran, seperti misalnya dalam perusakan lingkungan bakar hutan bukanlah kejahatan biasa, publik sangat membutuhkan pencerahan luar biasa. Banyak sangkut pautnya dengan global hegemony greed and power.

    Pemerintahan Indonesia belum terpikir untuk mengerahkan publik membasmi kejahatan seperti di Filipina. Jokowi pernah teriakkan ‘reward and punishment’ bagi pangdam dan kapolri, mencopot mereka jika masih ada kebakaran. Ketika baru saja Jokowi mengeluarkan peringatan itu, kebakaran hutan berhenti sejenak. Peringatan Jokowi kemudian berubah jadi gertak sambal, dan Jokowi sendiri sudah lupa ucapannya dan pembakaran hutan jalan lagi. ‘Boldness’ tadi tak ada dalam diri kepemimpinan Jokowi. Walhi orang Karo harus memiliki boldness ini, seperti yang diharapkan oleh Sora Sirulo itu.

    Orang Karo terkenal dengan kepahlawannya dalam perang kemerdekaan, pastilah juga bisa terjadi dikalangan lingkungan, yang juga tak kalah pentingnya dengan perjuangan-perjuangan rakyat lainnya itu.

    Boldness, boldness, boldness dan sekali lagi boldness. Itulah yang mendesak bagi perjuangan lingkungan dan bagi orang Karo sebagai suku dalam perjuangan survivalnya.

    Dalam soal survival suku/kultur minoritas Indonesia dan seluruh dunia juga kuncinya adalah soal pakai boldness atau pakai timidity. Banyak suku-suku ini puas kalau dikatakan ramah terhadap pendatang. Dengan begitu semakin hilang boldnessnya dan semakin menjadi-jadi timidity itu . . . dan punah .. . . contohnya Pakpak Dairi dan Karo Deliserdang yang semakin terdesak, sukunya maupun lingkungannya habis dirusak dibawah kepemimpnan terus menerus bupati pendatang.

    MUG

Leave a Reply