Kolom Joni H. Tarigan: CERMIN CEMBUNG KEHIDUPAN

0
40

joni hendra tariganDalam kegiatan rutin saya di pembangkit panas bumi, saya kerapkali menggunakan kendaraan four wheel. Kendaraan itu biasa digunakan di pembangkit panas bumi karena memang, secara umum, wilayah panas bumi terdapat di pegunungan. Kontur jalan yang mengikuti pegunungan inilah yang membutuhkan kendaraan yang kuat seperti four wheel.

Selain jalan yang naik turun, ada juga beberapa titik jalan yang menanjak dan menikung tajam. Keadaan jalan ini sangat berbahaya ketika kendaraan berpapasan. Desingan mesin membuat kita yang mengendarai kendaraan sangat besar kemungkinannya tidak dapat mendengar suara kedaraan dari arah yang berlawanan, sehingga dapat mengakibatkan tabarakan atau kecelakaan lainnya. Untuk menghindari terjadinya kecelakaan, maka perusahaan berbaik hati memasang cermin cembung. Dengan cermin ini maka kendaraan dapat saling melihat.

cermin cembungSuatu ketika, saya dengan kendaraan four wheel ini  berhenti di tikungan dimana sudah terpasang cermin cembung tersebut. Saya berhenti karena melihat ada kendaraan yang mirip  denga kendaraan yang saya pakai dari arah berlawanan. Menunggu beberapa detik, saya tidak melihat adanya pergerakan kendaraan dari arah berlawanan. Saya coba klakson beberapa kali, tetap saja kendaraan itu tidak bergerak sama sekali. Kesabaran saya mulai memudar, klakson saya bunyikan lebih keras dan lebih lama. Hasilnya? Tetap saja tidak bergerak.

Dengan perasaan marah, saya memacu kendaraan saya dengan suara keras. Begitu saya melintasi tikungan tersebut, saya pun kaget dan mentertawakan diri sendiri. Saya tidak menemukan kendaraan yang tadi saya klakson. Saya semakin tertawa karena ternyata mobil yang saya lihat mirip di cermin itu adalah bukan mirip, akan tetapi sama persis. Saya ternyata menglakson diri saya sendiri, memarahi diri saya sendiri. Pada akhirnya saya mentertawakan diri sendiri.




Pengalaman ini menjadi berarti bagi kehidupan saya pribadi. Seringkali saya protes atas apa yang orang lain lakukan. Saya berteriak betapa tidak becusnya orang lain, instansi, pemerintah. Akan tetapi banyak hal yang saya lakukan sama seperti yang saya lakukan ketika di tikungan yang dipasang cermin cembung itu. Apa yang saya protes banyak yang sebenarnya saya sendirilah pelakunya. Saya bahkan mungkin tidak ada bedanya denga yang saya protes.

Pelajaran cermin cembung inipun mulai saya jadikan sebagai bagian untuk selalu mengevaluasi diri sendiri sebelum menuduhkan ketidakbaikan kepada pihak di luar diri saya sendiri. Memang tidak ada yang sempurna, akan tetapi selalu mengevaluasi diri sudah tentu semakin mengurangki ketidaksempurnaan itu. Kebahagiaan justru akan tumbuh ketika kita selalu melakukan perbaikan.

Salam semangat dan perjuangan.




Leave a Reply