Kolom M.U. Ginting: Pemimpin WALHI Harus Berani Keluar

0
140
dana tarigan 9
Para artist Sanggar Seni Sirulo dimana Dana Tarigan juga bergabung sebagai pemusik.

 

M.U. Ginting“Dia harus berani keluar menjadi seorang pemimpin karena dia sekarang adalah pemimpin WALHI Sumut,” kata Kepala Greenpeace (Longgena Ginting) tentang terpilihnya Dana Tarigan sebagai Direktur Eksekuti WALHI Sumut.

”Timidity is dangerous: Better to enter with boldness. Any mistakes you commit through audacity are easily corrected with more audacity. Everyone admires the bold; no one honors the timid.” – Robert Greene

Keberanian (boldness) itulah kunci kepemimpinan, terutama dalam menghadapi lingkungan sekarang ini, karena pada pokoknya persoalan terbesar ialah menghadapi kriminal, nasional dan internasional. Kalau soal pencerahan bisa perlahan butuh kesabaran, seperti misalnya dalam perusakan lingkungan bakar hutan bukanlah kejahatan biasa, publik sangat membutuhkan pencerahan luar biasa. Banyak sangkut pautnya dengan global hegemony greed and power.

Dana tarigan 10
Para artis Sanggar Seni Sirulo dimana Dana Tarigan bergabung sebagai pemusik tradisional Karo.

Pemerintahan Indonesia belum terpikir untuk mengerahkan publik membasmi kejahatan seperti di Filipina. Jokowi pernah teriakkan ‘reward and punishment’ bagi Pangdam dan Kapolri, mencopot mereka jika masih ada kebakaran. Ketika baru saja Jokowi mengeluarkan peringatan itu, kebakaran hutan berhenti sejenak. Peringatan Jokowi kemudian berubah jadi gertak sambal. Jokowi sendiri sudah lupa ucapannya dan pembakaran hutan jalan lagi.

‘Boldness’ tadi tak ada dalam diri kepemimpinan Jokowi. Walhi orang Karo harus memiliki boldness ini, seperti yang diharapkan oleh Longgena Ginting, mantan Direktur Eksekutif WALHI dan kini Kepala Greenpeace Indonesia. Orang Karo terkenal dengan kepahlawannya dalam Perang Kemerdekaan, pastilah juga bisa terjadi di kalangan lingkungan, yang juga tak kalah pentingnya dengan perjuangan-perjuangan rakyat lainnya itu.




Boldness, boldness, boldness dan sekali lagi boldness. Itulah yang mendesak bagi perjuangan lingkungan dan bagi orang Karo sebagai suku dalam perjuangan survivalnya.

Dalam soal survival suku/ kultur minoritas Indonesia dan seluruh dunia juga kuncinya adalah soal pakai boldness atau pakai timidity. Banyak suku ini puas kalau dikatakan ramah terhadap pendatang. Dengan begitu semakin hilang boldnessnya dan semakin menjadi-jadi timidity itu . . . dan punah .. . . contohnya Pakpak Dairi dan Karo Deliserdang yang semakin terdesak, sukunya maupun lingkungannya habis dirusak di bawah kepemimpnan terus menerus bupati pendatang.








Leave a Reply