Kolom Aletheia Veritas: Negara [Hampir] Absen

0
109

Aletheia“Jadi, bagaimana orang-orangmu bisa bertahan ‘hidup’ bila negara (hampir) ‘absen’ di sana? Apakah kalian tidak kelaparan, tidak susah? Kasihan! Pasti kalian menderita sekali,” kata seorang teman dari Negeri Belanda yang kini menetap di Inggris, ketika membaca catatan-catatan lapangan saya selama beberapa bulan tinggal di Tanah Karo.

Saya tertawa kecil menanggapi komentar itu.

“Ah, tidak! Kami makan sepuasnya. Kami masih bisa ‘kumpul-kumpul’. Kami masih bisa jalan-jalan. Kami masih bisa tertawa,” jawab saya dengan santai sembari menyeruput kopi.

“How?” matanya masih tekun membaca artikel-artikel refleksi lapangan yang saya tulis.

negara absen“Well, meski negara nyaris ‘absen’, masyarakat sipil (‘civil society’) kami, cukup tangguh. Kehidupan kami dibangun di atas komunitas, khususnya gereja dan juga para tetangga. Kalau kami lapar, kami bisa pinjam beras ke tetangga. Kalau kami kehabisan garam, kami bisa mengetuk pintu tetangga. Kalau kami sakit, komunitas gereja dan tetangga akan datang menjenguk. Kalau kami butuh rekreasi, kami akan pergi bersama-sama. Begitu kehidupan kami,” jawab saya.

“Our society put so much effort on this. Meski tak mereka sadari!” tegas saya.

“I mean, wooowww….!!” dia pun menggumun lalu ternganga ketika melihat hasil dokumentasi saya: seorang perempuan Karo yang masih muda dengan segenggam sirih menyembul dari bibirnya.

“This is not a rich country. Negeri kami tidak begitu kaya (mungkin karena korupsi, “the money is not well spent”). Itu harus diakui, meski sedari kecil di sekolah-sekolah sering ‘dininabobokan’ dengan cerita-cerita Tanah Air yang kaya. Pendidikan, kesehatan, transportasi publik yang seharusnya menjadi tanggungjawab negara (lokal) belum begitu baik, apalagi bila dibandingkan dengan negerimu ini. Tapi orang-orang kami punya strategi bertahan dalam kehidupan. Menarik bukan?”.




“Yes…” jawabnya sambil tersenyum puas.

Di negara-negara maju tersebut, masyarakatnya memang berbeda. Susunan kehidupan mereka begitu bergantung pada negara, karena memang negara ‘hadir’ di mana-mana. Semua teratur, rapi, dan disiplin. Pengelolaan dan pemisahan sampah yang salah oleh warga, akan segera kena denda. Menyeberang di tempat yang salah, biasanya kena denda bila tertangkap CCTV. Memasuki halaman orang lain dan ketahuan, bisa juga kena denda. Bahkan di atas bis pun kita bisa merasakan kehadiran negara.

Bagaimana bila seandainya negara menjadi lemah dan ‘absen’ di negeri yang maju ini? Bagaimana dengan masyarakatnya?

Catatan dari redaksi:

Kolumnis ini adalah seorang beru Pinem asal Tanah Karo yang sedang menempuh studi PhD di Inggris. Sejak sekarang dia akan mengisi Sora Sirulo dengan tulisan-tulisan dalam bentuk kolum maupun berita.








Leave a Reply