Kolom M.U. Ginting: DUTERTE DAN KAWASAN ASIA TENGGARA

0
125

M.U. GintingLedakan di Davao diakui oleh Abu Sayyaf, tetapi banyak yang menduga kalau itu adalah juga dendam dari grup bisnis narkoba sebagai balasan atas perang narkoba Duterte. Apakah memang kedua grombolan ini bekerjasama melakukan perlawanan terhadap Duterte, juga adalah mungkin sepenuhnya. Duterte menganggap serius soal ini dan sebagai tindakan lanjutan dia bikin ‘a state of lawlessness’ untuk seluruh Filipina. Dalam hal ini, dia melibatkan militer ke dalam penanganan kriminalitas selain polisi seperti selama ini.

Yang menarik melihat perkembangan ini ialah bagaimana nanti pengaruh militer ini. Adanya kerjasama militer Filipina dengan AS, militernya yang jelas di bawah pemerintahan AS dan yang pemerintahannya juga jelas di bawah ‘large centers finance element’ (Roosevelt) yang sekarang kita namai neolib. Neolib (global hegemony) adalah pemerakarsa terrorisme internasional (Prof. Chossudovsky).

Jadi Duterte memang harus pandai-pandai main catur dalam soal memanfaatkan kekuatan militer Filipina dalam melawan terorisme ini.

Persoalan ini nanti akan terlihat jelas setelah pergantian presiden di AS. Kalau Clinton menang, berarti juga kemenangan the establishment. Peranan neolib dan terrorisme internasional di Filipina akan menanjak. Sebaliknaya, kalau Trump menang, berarti Duterte 11kekalahan bagi the establishment dan perubahan besar akan terjadi bersamaan dengan perubahan besar di AS. Dengan begitu, PC Culture (Political Correct) akan hilang untuk selama-lamanya di AS dan terrorisme akan hilang untuk selama-lamanya di seluruh dunia.

Duterte mengaggap ledakan itu sangat serius, dan karena itu juga dia menunda kunjungannya ke Laos, Vietnam dan Indonesia yang tadinya direncanakan September ini. Adanya rencana kunjungan ke negeri ASEAN dan terutama Indonesia menunnjukkan bagaimana Duterte punya cita-cita dan energi besar untuk bikin perubahan besar di Asia Tenggara, dan bagaimana ini semua akan mempengaruhi tindakan sepihak China menguasai Laut China Selatan.

China akan melihat perlawanan yang semakin menyatukan diri dan semakin kuat dari negara-negara Asia Tenggara, terutama Indonesia sebagai negara terbesar dari semua, dan yang juga sudah  terlihat konfliknya dengan China di Natuna.








Leave a Reply