Kolom Aletheia Veritas: IDENTITAS

0
159

Sepanjang hidupku, aku telah melihat orang Perancis, orang Italia, Rusia;

Aku bahkan tahu bahwa seseorang bisa menjadi orang Persia;

sayang, aku belum pernah berjumpa dengan manusia (Joseph de Maistre)

 

AletheiaPada suatu hari, di kawasan Depok, Yogyakarta dibangun sebuah masjid. Karena pada masa sekarang terutama di perkotaan, mesjid dan gereja ternyata harus punya nama, maka para anggota panitia pun bertukar pikiran. Mereka berkonsultasi dengan seorang pengajar di sebuah perguruan tinggi yang sangat fasih berbahasa Arab dan mengenal karya-karya keagamaan yang terkenal. Mereka bertanya mana yang terbaik dari pilihan sekian nama ini: Mesjid Attaubah, Alfayadl, Alhikmah atau Alfalah. Pengajar tersebut menjawab “Bagaimana kalau diberi nama Mesjid Depok Sleman DIY saja?”. Seorang anggota panitia sangat terkejut dan bertanya, “Tidak memilih pakai al-?“. Sang pengajar berkata: “Ya sudah, tambah saja jadi Mesjid Aldepok Sleman DIY”.

Jawaban dosen tua tersebut pasti bergurau. Tapi, gurauan itu sebenarnya mengandung makna yang barangkali juga semacam peringatan. Bahwa pemberian nama, dan peng-Arab-an, atau Peng-Eropa-an nama sebenarnya tak menambah lebih bagi sebuah mesjid atau gereja. Hanya sedikit menambah keren.

Yang tak kita pikirkan adalah semangat untuk menegaskan sebuah nama yang berbau Latin, Eropa, atau Arab tak selalu jelas dari mana dan akan ke mana. Mungkin adat Kristen memang demikian untuk pemberian nama babtis dan gereja, misalnya Gereja Santo Petrus atau Gereja Yohanes Rasul. Seorang yang bernama Butet menjadi Benedicta Butet atau si Tongat menjadi Benedictus Tongat setelah dibabtis.

Pemberian nama babtis memiliki makna dan identitas tersendiri bagi Butet atau Tongat. Atau sebagaimana halnya pemberian nama Arab bagi seorang mualaf atau seorang yang melakukan konversi ke agama Islam, mungkin juga meniru pemberian nama babtis: Leonardo Dicaprio seandainya masuk Islam, mungkin ganti nama menjadi Syaiful Jamil.

Namun terkadang yang lebih penting bagi kita adalah bunyi dan nama yang berbau Latin, Eropa atau Arab agar identitas kita bisa diketahui oleh orang lain. Dulu, ritual identitas 2pemberian nama tidaklah terlalu penting. Di Tanah Karo seorang ibu bisa memberikan nama Kursi, Meja atau Tomat kepada puteranya yang baru lahir, dan sang anak pun tetap tumbuh menjadi anak yang cerdas dan beriman entah namanya Michael atau Ucok. Tapi sejak modernisasi dan agama modern masuk ke Indonesia, dan di wilayah yang riuh dan bermacam-macam isinya, yang kadang mengkhawatirkan gerak-geriknya, nama menjadi sangat penting, identitas perlu untuk menunjukkan bahwa saya seorang Katolik atau seorang Islam.

Identitas adalah cara kita untuk menjaga sifat “unik” kita dan membedakan diri dari yang lain. Setiap kaum yang terancam, marginal dan dianggap rendah memerlukan sebuah cara untuk bertahan dengan harga diri bahkan menuntut pengakuan. Mengingat sejarah sedikit orang Indonesia yang saat ini menganut Katolik yang pendahulunya menganut agama nenek moyang, maka nama babtis punya makna sendiri untuk menegaskan diri yang telah bertobat. Demikian juga dengan umat Islam yang pada masa lampau cukup tertekan, maka lafal Arab dirasa cukup penting yang umumnya diasosiasikan dengan identitas keislaman.

Pada situasi tersebutlah “politik identitas” terbit di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang plural dengan segala konsekuensinya. Dalam politik identitas, mitos-mitos pun diciptakan untuk menampilkan gambar yang baik maupun yang buruk: orang Cina disifatkan dengan kikir, licik, atau sifat yang baik yakni rajin seperti semut; orang Batak disifatkan dengan kasar namun jujur dan terus-terang; orang Karo disifatkan pendendam namun pekerja keras, atau orang Jawa disifatkan dengan pemalas namun suka akan harmoni.

Yang tak senang dengan etnis atau golongan tertentu akan memilih mitos yang menghina, yang senang akan mengambil citra yang membanggakan. Tapi, kedua-duanya tetaplah mitos, yang hanya secara gampangan disesuaikan dengan kenyataan yang berubah-ubah.

Selain itu, mitos tentang keutuhan kelompok dengan identitas tertentu pun terbangun. Identitas sebagai orang Indonesia kerap terbangun dari the sacred (yang keramat) –istilah dari sosiolog Prancis, Emile Durkheim- yakni nilai-nilai yang disakralkan atau disucikan. Nilai-nilai itu bisa berupa ideologi, keyakinan, agama dan seterusnya. Sifat nasionalis dari orang Indonesia terbentuk dari the sacred tadi, yakni nilai kesatuan.




Lihat saja, bagaimana tiba-tiba seorang warga menjadi supernasionalis ketika mendengar tentang sengketa perbatasan dengan Malaysia. Mereka yang telah menginternalisasi the sacred menganggap peperangan dan pembunuhan adalah cara yang ditempuh supaya yang keramat (the sacred) tidak ternoda. Atas nama menjaga the sacred, nilai kesatuan, maka halal dan rasionallah cara yang kejam dan biadab. Demikian juga seorang yang rela meneror dengan bom bunuh diri hadir karena adanya the sacred, nilai-nilai agama yang dianggap harus dijaga utuh demi identitas tertentu.

Di Indonesia yang plural, bentuk pengagungan identitas tertentu telah melahirkan konflik berdarah seperti di Poso, Ambon, pemerkosaan etnis Tionghoa di Jakarta dan lainnya. Jelas terlihat bahwa politik identitas tersebut mengakibatkan seseorang punya proyeksi yang diarahkan kepada orang lain, artinya eksistensi identitas tertentu menjadi nyata dan kuat ketika bisa meringkus dan menegasi identitas orang lain.

Ketika pemerkosa perempuan Tionghoa berhasil melampiaskan kebejatannya maka ia menganggap identitas sebagai orang Cina tiba-tiba lebih rendah dari identitasnya sendiri. Begitu juga konflik yang terjadi antar agama, maka umat yang satu akan merasa lebih superior dari umat lainnya ketika bisa menang dalam debat dogmatis atau ketika bisa membunuh orang lain yang menganut agama yang berbeda. Tentu banyak sederet kisah yang menampilkan bagaimana kelompok-kelompok di dalam masyarakat Indonesia yang plural berupaya untuk mempertegas identitasnya.

Proses pembentukan sikap permusuhan terhadap identitas tertentu sebenarnya tidak bisa dibedakan antar etnis. Peter Gay menjelaskan proses tersebut dengan sangat menarik: “Mula-mula, kita melihat marah kepada diri sendiri, “Aku jelek”; kemudian identitas 3kita meyakinkan diri sendiri dengan menegaskan, “Aku (sebetulnya) tidak jelek”, akhirnya pandangan kita arahkan pada orang lain dan bilang, “Kamu jelek”. Psikoanalisis memang tak bisa dilupakan ketika menjelaskan politik identitas. Gay lebih lanjut mengatakan bahwa kebanggaan dan kecemasan etnis dalam banyak hal tak bisa dibedakan. Dengan demikian, politik identitas bisa jadi muncul karena ada situasi kejiwaan tertentu dalam diri sendiri atau kelompok tertentu yang tidak siap menerima diri sendiri atau juga tidak siap menerima perbedaan dengan golongan lainnya.

Jangan-jangan sebuah negara juga didirikan karena politik identitas dan bukan dibangun di atas kecerdasan. Jangan-jangan sebuah kemerdekaan lahir karena adanya kemarahan dari kelompok identitas tertentu, karena adanya situasi kejiwaan yang merasa tertekan, tertindas, dan bukan dari kedahsyatan pikiran. Itu yang terjadi di Uni Soviet pada masanya: pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang kata Bung Karno, umumnya mereka semua buta huruf.

Begitu pula dengan Amerika Serikat: Thomas Jefferson dan para pendiri negara itu memang pintar dan merancang konstitusi berdasarkan ide-ide filsafat yang brilian, tapi dengan lucunya, Malcolm Bradbury, penulis Inggris mengatakan bahwa sejarah Amerika hanyalah kisah tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayahnya itu.

Itu juga yang bisa dikatakan tentang Indonesia bahwa para pemimpin yang berkumpul di tahun 1945 dan mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia, sadar betul akan politik identitas ketika berhadapan dengan penjajah. Bahwa orang Indonesia bukan rakyat yang 100 persen sehat dan terdidik adalah benar, tapi dengan situasi tertindas dan tertekan yang begitu mudah dibedakan dari keadaan kaum penjajah yang sentosa dan makmur, maka identitas semakin terang dan perlu dipertegas dengan menyulut keinginan kaum tertindas itu untuk menuntut perubahan yang bernama “merdeka”.




Lebih lanjut, pada masa kini, di tengah masyarakat yang plural seperti Indonesia, karena identitas-identitas yang begitu banyak, terlahirlah yang namanya laskar ekstrimis, fundamentalis, dan laskar-laskar lainnya. Rakyat tak tampak sebagai satu entitas tunggal, melainkan terdiri dari berbagai kelompok dengan ragam latar dan kepentingan, karena itu cukup potensial untuk memicu terjadinya konflik.

Ada sikap bahwa kaumku lebih baik ketimbang kaummu, karena itu garis demarkasi pun ditarik untuk membedakan diriku dengan yang lain. Kalau perlu, namaku harus berbau Latin atau Arab, supaya orang lain tahu kalau aku seorang Islam atau Katolik. Rumah ibadahku pun harus diberi nama yang mencerminkan identitasku. Makananku pun harus berbeda dengan makanan orang lain yang haram. Presidenku harus seagama denganku. Bahkan isteri Presidenku juga harus seagama denganku. Apalagi tetanggaku!

Upaya-upaya mempersamakan kuanggap sebagai pengkhianatan dan penggerogotan. Keinginan saling pengertian, semangat inklusif kuanggap sebagai sifat murtad. Terkadang, yang kita butuhkan adalah benci. Dari sini identitas kita dilahirkan.




Leave a Reply