Aletheia 1Saya baru saja mendengarkan lagu Karo berjudul ‘Is Melana’. Spontan saya tertawa dan bertanya-tanya tahun berapakah lagu ini diciptakan. Sungguh menarik. Sebuah kritik terhadap modernisasi dan perubahan sosial yang menerpa orang Karo.

Lagu ‘Is Melana’ bercerita tentang seorang gadis Karo yang baru saja lulus sekolah menengah dan melanjut ke Jakarta. Dikisahkan bahwa sang gadis bisa kuliah di ibukota karena orangtuanya rela menjual babi, ayam dan lembu. Sanak saudara pun diundang untuk memberangkatkannya. Kata-kata nasehat pun dilantunkan demi keberhasilan studinya Tapi yang terjadi setelah tiga bulan, sang gadis pun menjelma menjadi yang lain.

Rambut panjang dipotong pendek seperti rambut lelaki. Wajah yang cantik dilumuri oleh bedak setebal abu Gunung Sinabung di Berastagi (ini imajinasi saya saja). Rok Aletheia 2yang dulunya menutupi paha pun dibuat se ‘mini’ mungkin. ‘Odak-odak’ yang dahulu kala menjadi favoritnya pun berubah menjadi ‘disko lambada’ (saya masih bertanya-tanya ‘disko lambada’ itu seperti apa). Bahkan, bahasa Karo yang menjadi bahasa sehari-harinya mendadak terlupakan (agaknya sang gadis terkena amnesia).

Sekali lagi saya tertawa. Ah, pencipta lagu ini sepertinya bernalar ‘fungsional struktural’, pikir saya!

Demi menjustifikasi pilihan saya yang memiliki ‘buk gendek‘ (rambut pendek, red.) , agaknya sang pencipta lagu perlu piknik ke era ‘post-modern’.

Dengan ‘buk gendek’ yang selalu saya warnai dengan merah, saya tetaplah perempuan Karo. Lebih jelasnya, saya bangga dengan identitas gender saya sebagai perempuan dan identitas etnis sebagai ‘kalak’ Karo.

Dengan ‘buk gendek‘, saya melanjut studi ke Pulau Jawa dengan prestasi yang bagus, buktinya saya dipercaya menjadi seorang pengajar di sana. Dengan ‘buk gendek‘, saya adalah perempuan Karo yang mampu meraih gelar master di bidang Ilmu Politik bahkan thesis saya pun berbicara tentang Karo. Dengan ‘buk gendek‘, saya spontan menggunakan bahasa Karo bila berjumpa dengan ‘kalak’ Karo di perantauan meskipun bahasa Inggris saya bagus (perlulah sesekali membanggakan diri).




Bahkan dengan ‘buk gendek‘, saya bisa menari ‘Odak-odak’ dengan bagus, buktinya kakak dan adik saya selalu minta diajarin. Oh ya, satu lagi dengan ‘buk gendek‘ saya bisa melanjut studi doktoral bahkan disertasi saya pun berbicara tentang Karo. Saya konsisten.

Jadi, berhentilah melakukan diskriminasi gender terhadap rambut. Berhentilah merelasikan ‘buk gendek’ dengan peniadaan identitas gender perempuan dan khususnya identitas etnis Karo.

****
Lepas dari penjelasan panjang lebar di atas, saya tetap suka dengan lagu ‘Is Melana’… hahahahaaa. Lanjut….








Leave a Reply