Kolom Asaaro Lahagu: 7 Alasan Mega Tunggu Detik Terakhir Dukung Ahok

1
81

Asaaro LahaguKetika Pilgub DKI kian panas membara, justru Mega adem-adem saja. Saya duga, sambil makan sate bebek, minum jamu jahe, Mega terus asyik nonton TV. Mega pasti susah facebookan, twitteran, whatsappan, googling, youtubing karena dia generasi radio dan TV hitam-putih dulunya. Jadi sekarang dia hanya bisa nonton TV sambil berayun di kursi malasnya plus dengarin sesekali para pembisiknya.

Maka klop sekali, jika Mega menghabiskan waktunya nonton TV setiap hari dan sering melihat wajah Ahok yang sering nongol. Darah muda Mega kembali mengalir deras ketika ia melihat Ahok mampu bertahan dari berbagai serangan lawan-lawannya. Mega manggut-manggut ketika Ahok asyik memainkan politik terbalik sambil kampanye jangan pilih gue kalau ada yang lebih baik. Lalu emangnya siapa yang lebih baik dari Ahok?

Mega semakin senyum-senyum melihat wajah Sandiaga Uno, Yusril, Lulung, Taufik, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Syaefullah atau wajah kadernya Masinton Pasaribu terus meminta Mega tak mendukung Ahok. “Ah hanya kambing yang dibedakin saja bisa mengalahkan Ahok”. Mega tersedak mendengar sesumbar Masinton tentang istilah kambing dibedakin itu. Ketika Mega batuk dari situasi tersedaknya dan  langsung memecat Bambang DH, Masintonpun diam membatu, tak berkutik. Megapun tertawa lega. Aha, kena kau Bambang, diam kau Masinton.

Di dapur sambil membuat sambal terasi, Mega tersenyum kecut melihat PKS, Gerinda, PPP, PKB, PAN, PD, bagaikan ikan mabuk mencari lawan Ahok. Partai-partai ini terus gonta-ganti calon dan tak kunjung pasti mencari lawan Ahok yang sepadan. Mega pasti terus ngakak dan ngakak, saat dia tahu skenario para penjilat, pemabuk yang menginginkan Risma minggat dari Surabaya dan maju melawan Ahok. Ah, ada orang-orang rakus sedang bereaksi dengan santun plus bermain cantik ala Angelina Jolie. Busyet, PDIP sudah memegang Surabaya plus Jawa Timur, kok disuruh minggat? Siapa yang bodoh?

megawati-3
Ilustrasi: Poskota News

Maka ketika Mega terus ditekan supaya ikut koalisi kekeluargaan dengan mengusung Risma demi menjegal Ahok, Megapun semakin manja ibarat gadis cantik yang sedang dinanti keputusannya oleh 1001 pangeran dari berbagai penjuru mata angin. Mega terus bersolek, mengulur waktu untuk menunggu last minute mendukung Ahok. Lalu apa alasan Mega menunggu last minute itu?

Pertama, Mega sudah memutuskan bahwa akan mendukung Ahok-Djarot. Jadi dia tenang setenang langit biru dan hanya menunggu tanggal mainnya. Jika seseorang sudah mendapat pasangan, sudah punya keputusan jitu, ngapain ribut-ribut dan berlagak ikan mabuk berenang kian-kemari? Berbeda dengan partai lain yang tidak bisa mengusung calon sendiri, maka harus ribut bagaikan kucing kawin, biar dapat perhatian pasangan alias caper.

Ke dua, Mega sedang memetakan kader-kadernya dan ingin tahu siapa pendukung dan anti Ahok. Nah sebagai the rule party hingga 10 tahun ke depan, dimana Djarot selanjutnya diproyeksikan sebagai Gubernur DKI selanjutnya, maka pemetaan kader yang loyal penting dilakukan untuk mengikis karakter mie instan kader PDIP. Dengan mengetahui siapa penjilat, pemabuk, pemimpi, pembelot, pembusuk, maka Mega bisa menempatkan kader-kader terbaiknya di posisi strategis. Megapun belajar dari masa lalu, di mana banyak kadernya tersangkut kasus korupsi karena punya karakter aji mumpung. Nah ini tidak boleh terulang lagi.

Ke tiga, Mega ingin agar Golkar, Nasdem dan Hanura tidak bermanufer busuk. Mega ingin agar ketiga partai pendukung Ahok ini benar-benar konsisten mendukung Ahok. Sebaliknya Mega juga ingin melakukan test case apakah ketiga partai tersebut di atas ternyata hanya bersandiwara dan akhirnya berani mencabut dukungan kepada Ahok. Dengan menahan dukungan sampai detik akhir, maka Golkar, Nasdem dan Hanura tidak akan berani bermanufer berbalik menyerang Ahok. Mereka pasti takut kalau posisi mereka diambil-alih oleh PDIP.




Ke empat, Mega ingin melihat dengan mata juling bagaimana dendamnya terbalaskan kepada Gerinda, PAN, PKS, PD yang dengan licik merebut posisi Ketua DPR atau MPR dari tangan PDIP. Kini hal yang sama, Mega ingin partai-partai ini mengemis kepadanya agar mau mengusung Risma dan tidak memilih Ahok yang telah memporak-poranda harga diri partai ini di ibu kota. Ingat, Mega adalah wanita pendendam ulung di Bumi Pertiwi ini. Itu terlihat dendamnya kepada SBY yang tidak termaafkan sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Ke lima, Mega sengaja membuat keenam partai dari koalisi kekeluargaan kehabisan waktu untuk ribut, mabuk dan tak juga mampu mengusung calonnya sendiri. Mega jelas asyik menonton perilaku PKB, PAN, Gerinda, PPP, PD, PKS yang terus gonta-ganti calon dan bingung sendiri mencari lawan Ahok yang sudah kalah sebelum berlaga. Pada akhirnya mereka juga akan kehabisan tenaga. Nah, pada saat itu, Ahok-Djarot dengan mudah menekuk calon yang mereka usung tanpa mengelurkan energi banyak.

Ke enam, Mega ingin agar partai-partai gurem tersebut di atas mendaftarkan calonnya terlebih dahulu di KPUD. Hal ini untuk menghindari permainan busuk mereka yang bisa saja tidak mengusung calonnya sendiri. Itu berarti Ahok-Djarot bisa jadi menjadi calon tunggal dan tak ada pasangan lawannya yang mendaftar di KPUD. Nah untuk menghindari adanya kontestan calon tunggal, maka PDIP siap mengusung calon boneka semacam pasangan Masinton-Dewi Persik atau Lulung-Maia Estiany misalnya.




Ke tujuh, Mega ingin merasakan sensasi rasa strawberry, rasa vanilla, rasa durian sebagai tokoh yang paling ditunggu keputusannya di seantero Indonesia. Jelas Mega lebih beruntung ketimbang Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gusdur yang pamornya langsung meredup setelah lengser dari kursi kepresidenan. Mega setelah tidak menjadi Presiden, dia masih mampu berjaya dan mampu mengorbitkan kadernya menjadi orang nomor satu di negeri ini. Jelas Mega masih lebih baik ketimbang SBY yang hanya mampu mengorbitkan kadernya menjadi penghuni setia hotel prodeo alias penjara KPK.

Nah, jika Mega cepat-cepat secara resmi menyatakan dukungannya kepada Ahok, maka sensasi-sensasi di atas akan hilang dengan cepat. Tentu saja Mega ingin menikmati posisinya sebagai puteri maharaja yang sedang ditunggu-tunggu keputusannya di masa tuanya. Dan, jika nantinya pada detik terakhir Mega akhirnya secara resmi mendukung Ahok-Djarot, pada saat itulah langsung berakhir hiruk-pikuk panasnya Pilgub DKI. Alasannya pasangan Ahok-Djarot tak tertandingi.

Begitulah kambing dibedakin mbek… mbek.



1 COMMENT

Leave a Reply