Kolom Darwono Tuan Guru: Memahami Kisah Ibrahim A.S Melalui Antroposentris

0
258

Darwono Tuan GuruPengertian tentang antroposentrisme adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Teori antroposentrisme mengutamakan kepentingan generasi penerus (mendasarkan etika lingkungan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia). Jadi, dalam model antroposentrisme yang memiliki nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya.

Dalam konteks antroposentrisme maka kepentingan Isma’il dan Ishak, 2 anak nabi Ibrohim AS dari ibu yang berbeda. Ishak dari Ibu Sarah, yang pada kemudian hari menurunkan keturunan yang disebut sebagai bani Israil (Israel) dan keturunan nabi Ismail yang ada di Hijaz yang menjadi bangsa Arab.

Antroposentrisme dalam dimensi kajian Islam diduga bersumber dari prinsip-prinsip dasar Islam yang berkaitan dengan konsep hakikat manusia sebagai makhluk istimewa (super being), manusia sebagai makhluk yang diberi akal (rasional), manusia makhluk yang paling kuasa atas alam (sukhriya’) dan konsep khalifah fi al-ardl.

Dengan pemahaman ini maka untuk memahami kisah Ibrahim AS melalui pendekatan Antroposentris lebih menyoroti apa yang dilakukan oleh Ibrahim AS sebagai perwujudan cita karsa dan fungsi kehalifahannya di muka bumi. Hal ini bisa dilihat dari awal kisah Ibrahim AS yang resah (sebagai sifat manusiawi) yang telah berumur 80 tahun namun belum dikaruniai seorang putra. Kisah selanjutnya adalah ketika Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di Mekkah dan perjuangan Hajar yang dilestarikan dalam rukun haji, sebagai penghormatan atas penghargaan sejalan peneguhan kesetaraan cinta.

ismailTinjauan antroposentri Haji pada hakekatnya meretas jalan “kerja” keluarga Nabi Ibrohim AS yang teraktualisasikan dalam rukun-rukun haji pada hakekatnya adalah napak tillas perjalanan cinta keluarga penuh cinta pada Zat Maha Cinta. Titik awal dari kisah itupun bertolak dari masalah cinta manusiawi, dengan terciptanya kisah cinta segi tiga antara Ibrahim, Hajar dan Sarah. Melaui persepsi Antroposentris kita bisa melihat bahwa Haji, terutama Sa’i hakekatnya penghormatan akan perjuangan wanita tersisih, Hajar, dari lingkungan kehidupan elit yang menyenangkan ke lembah Bakkah yang dekat denga Jabal rahmah, bukit cinta, tempat pertemuan Adam dan Hawa.

Hukum kausalitas menegaskan “setiap sesuatu ada sebabnya” dan hukum tentang takdir menyatakan “setiap sesuatu diciptakan sesuai kadarnya”. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa kelahiran anak yang diharapkannya dapat menyedot perhatian, dan bagaimanapun juga Sarah adalah wanita bangsawan, yang tentu tidak lepas dari kodrat kewanitaannya (ingat, wanita bangsawan Zulaekha dalam Kisah Yusuf buyut Nabi Ibrahim) sangat memungkinkan terjadinya kecemburuan dari Sarah sejak kehamilan Hajar, yang tidak lain adalah budaknya Sarah yang berasal dari Habsyi. Apalagi, yang disusul dirinya mengandung Ishak. dari Istri Sarah.

Melalui pandangan antroposentris yang menekankan pada kepentingan generasi penerus (Ismail dan Ishak) maka Evakuasi ibu dan anaknya ke tempat aman adalah jalan terbaik dari kemungkinan kemelut yang dapat merusak perkembangan Ismail Kecil jika dipaksakan tinggal bersama Sarah dan calon adiknya Ishak. Kita menjadi terenyuh dengan kenyataan bahwa ibu anak itu diungsikan di lembah kering yang kemudian disebut Mekkah itu.

Kita banyak yakin, di sekitar itu tidak ada siapa-siapa meskipun kita mengetahui bahwa pada kisah nabi Adam yang dinyatakan dipertemukan di jabbal Rahmah di padang Arafah. Ketika kita baca cuplikan drama satu babak ketika Ibrahim AS akan meninggalkan Hajar dan Ismail sebagai berikut:

Pada masa itu tidak ada apapun di sana. Tidak ada orang sama sekali. Gurun itu benar-benar kosong. Dia diperintahkan untuk meninggalkan mereka berdua di sana. Dia berjalan ke tempat itu dan Hajar A.S. tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu adalah mereka akan melakukan perjalanan dan akan kembali ke rumah.

Ketika mereka sampai di tengah gurun, mereka duduk-duduk. Kemudian Ibrahim A.S. bangkit dan mulai berjalan kembali ke Palestina. Dia tidak bilang apa-apa kepada istrinya. Kemudian Hajar A.S. mengejarnya: “Ya Ibrahim, kepada siapa kau meninggalkan kami? Tidak ada seorang pun di sini.”

Tapi Ibrahim A.S. tidak menjawab pertanyaannya, karena jika dia menjawab, maka akan terjadi percakapan, dan dia takut hatinya menjadi luluh. Dia harus memenuhi perintah Allah S.W.T. karena Allah punya rencana. Jadi dia tetap berjalan tanpa menoleh kepada istrinya, dan istrinya tetap mengikutinya: “Ya Ibrahim, kepada siapa kau meninggalkan kami?”

Dia tetap tidak menjawab dan terus berjalan. Akhirnya Hajar A.S. berhenti sejenak dan berpikir, dan karena kesalehan dan pengetahuan yang diberikan Allah S.W.T., dia bertanya satu pertanyaan yang sederhana: “Ya Ibrahim! Apakah Allah yang telah memerintahkanmu untuk melakukan ini?” Dan Ibrahim A.S. masih tanpa menoleh kepadanya, menjawab hanya dengan satu jawaban.

“Ya”, kata Ibrahim sambil terus berjalan. Karena demikian Hajar A.S. berhenti dan mengamati suaminya berjalan semakin jauh, dia menjadi tenang dan berkata: “Dengan begitu, Allah tidak akan membiarkan kita… Allah tidak akan membiarkan kita.”

JIka pada kisah cinta Yusuf dan Julaikha dijelaskan secara gamblang, terutama bagaimana Julaikha memperdaya Yusuf yang sangat cakep, Kisah Nabi Ibrahim dengan 2 istrinya (poligami) ini tidak dijelaskan panjang lebar. Tetapi dari kisah yang ada, namun jika kita memandang dalam konteks manusiawi, itu kita melihatnya sebagai konsekuensi poligami dengan beda tingkat sosial ekonomi kedua istri nabi Ibrahim. Pada ahirnya 2 keturunan Nabi Ibrahim AS ini melahirkan dua ras Timur Tengah yang berbeda, Israel dari jalur Ishak dan Arab dari jalur Ismail, yang tidak pernah akur, adakah ini dipengaruhi dari akar kecemburuan sosial nenek moyangnya mereka

ismail-2Zaman itu kelihatannya kenabian diwarnai oleh problematika cinta. Sebab, pada zaman yang sama, Luth AS, yang tidak lain adalah keponakan Nabi Ibrahim AS, juga menghadapi problematika cinta di tempatnya diutus. Luth (sekitar 1950-1870 SM) adalah salah satu nabi yang diutus untuk negeri Sadum dan Gomorrah. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1900 SM. Ia ditugaskan berdakwah kepada Kaum yang hidup di negeri Sadum, Syam, Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali dalam Al-Quran. Ia meninggal di Desa Shafrah di Syam, Palestina.

Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Luh berada di Mesir mereka mempunyai usaha bersama dalam bidang peternakan yang sangat berhasil. Binatang ternaknya berkembang biak dengan pesat sehingga dalam waktu yang singkat jumlah binatang yang sudah berlipat ganda itu tidak dapat ditampung dalam tempat tersebut. Akhirnya usaha bersama Ibrahim-Luth berpisah dan binatang ternak serta harta milik perusahaan mereka dibagi dan berpisahlah Luth dengan Ibrahim. Luth pindah ke Yordania dan bermukim di sebuah tempat bernama Sadum (Sodom).

Masyarakat Sadum tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Maksiat dan kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta merupakan kejadian sehari-hari di mana yang kuat menjadi penguasa sedangkan yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseksual atau liwath di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua jenis kemungkaran ini begitu merajalela di dalam masyarakat sehingga hal tersebut merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sadum..

Musafir yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkan hartanya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara kalangan laki-laki dari mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya. Sebaliknya, jika si pendatang itu seorang perempuan muda, maka ia akan menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.




Penghancuran Sodom dan Gomorah karena perilaku menyimpang penduduknya ini jelas pendekatan Antroposentris dengan pendekatan ini kita dapat memahami kisah Nabi Ibrahim dengan hajinya sebagai berikut

1. Masa Zaman Ibrahim AS terjadi masa Pergoakan cinta, Di lingkungan Nabi Ibrohim terjadi cinta segitiga dan Poligami dari Nabi Ibrohim AS. Di lingkungan Nabi Luth terjadi cinta dengan disorientasi seksual, bahkan sebagai hal yang baru pertama terjadi.

2. Berbagai drama yang terjadi pada keluarga Ibrohim AS secara theologi diyakini sebagai konsekuensi perintah Allah SWT, namun dalam pendekatan Atroposentris itu terkait dengan konsekuensi poligami yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS`

3. Langkah pengungsian Hajar dan Ismail AS secara Antroposentris bertujuan untuk mencegah terjadinya “kecemburuan” sosial dalam keluarga besar Ibrahim, karena bagaimanapun Sarah adalah pilihan Ibrahim sedang Hajar dibutuhkan ketika Ibrahim menginginkan keturunan di usia senja padahal Sarah kemudian melahirkan Ishak AS.

4. Haji, terutama Sa’i, merupakan bentuk dari penghargaan kita kepada Hajar yang tersisih yang dapat dipahami juga sebagai peneguhan egalitarian cinta,

Dengan pendekatan antroposentris ini, kita juga dapat memahami mengapa sampai kini, ada pertengkaran diantara keturunan Nabi Ibrahim dari Jalur Nabi Ismail (bangsa Arab) melawan keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishak (bangsa Israel). Jika boleh diistilahkan, itu disebabkan oleh “kecemburuan warisan”. Jika demikian, siapapun tidak akan bisa mendamaikannya kecuali oleh tekad mereka sendiri.




Leave a Reply