Kolom Joni H. Tarigan: BORDERLESS

0
126

joni hendra tariganKita sudah menyaksikan, dan bahkan mungkin tidak sadar, bahwa kita sudah berada dalam dunia yang semakin tanpa batas. Istilah lain yang dinyatakan oleh Rheinald Kasali adalah “borderless” (tanpa batas).

Tahun 2007, saya menamatkan kuliah D3 teknik mesin, tetapi merayakan wisuda Bachelor of Engineering  tahun 2008 di Vlissingen (Nederland), dengan teknologi internet dan smart phone yang masih terbatas. Tahun 2009, tepatnya 16 Juni 2009, dimana saya harus kembali ke Indonesia karena krisis global yang merambat dari Krisis USA sejak 2007.

Internet dan smart phone belum banyak berubah, atau mungkin saja karena saya belum borderlesspunya uang yang cukup untuk beli smart phone terbaru. Akan tetapi, seingat saya, media sosial saat itu barulah Friendster.  Walaupun Facebook lahir tahun 2004, saya mulai mendaftar pada 2010. Setelah facebook barulah bermunculan aplikasi-aplikasi yang membuat dunia ini semakin borderless.

Tahun 2007-2009, saya masih ingat untuk melakukan panggilan dari luar negeri, VOIP merupakan alternatif yang sangat ramah terhadap keuangan. Suara disalurkan melaui fasilitas internet, sehingga biaya panggilan luar negeri dari Belanda ke Indonesia tergolong murah. Tahun 2014, dengan WIFI saya  dengan mudah bisa melakukan video call dari Auckland New Zealand ke Berastagi. Cukup dengan sedikit quota internet.

Saat ini, dengan mudah saya bisa bertegur sapa dengan teman-teman di berbagai negara, baik itu Perancis, Jerman, Belanda, Spanyol, dan negara-neara lainnya. Setiap saat saya bisa menanyakan kabar saudara dan ibu angkat di Vlissingen (Belanda) melalui aplikasi Line atau whats app. Dunia benar-benar tanpa batas.

Ketikdakterbatasan itu bisa mencakup banyak hal tentang bagian dalam kehidupan manusia. Komunikasi manusia jadi tanpa batas. Selain komunikasi itu, informasi juga secara langsung jadi tanpa batas. Komunikasi dan informasi yang tanpa batas inilah yang kemudian borderless-1menjadikan pertanyaan apakah masih relevan slogan “GARBAGE IN GARBAGE OUT’?  Apa yang masuk itu pulalah yang keluar sebagai hasilnya.

Jika kita kembali ke informasi dan komunikasi yang tanpa batas, maka jika informasi itu GOLD maka kita manusia yang menggunakannya seharusnya menghasilkan sesuatu yang positif  (GOLD). Akan tetapi jika informasi yang GOLD  itu kita serap dan menghasilkan yang tidak GOLD maka  jadinya GOLD IN GARBAGE OUT!.

Apa yang terjadi pada umumnya adalah GARBAGE IN GARBAGE OUT, GOLD IN GARBAGE OUT, atau bahkan “ I JUST DON’T KNOW WHAT’S GOING ON”. Dalam dunia yang borderless, demi kebaikan kita bersama dan lingkungan, maka keputusan apa yang bijak kita lakukan?

Saya sendiri pada akhirnya memutuskan bahwa, apapun yang masuk, maka sangatlah baik jika semua ketidakterbatasan itu diolah menjadi GOLD OUT. Jangan sebaliknya, sebaik apapun ketidakterbatasan itu hasilnya tetap sampah. Hal ini dikenal juga dengan istilah gagal paham ditambah gagal move on.




GIGO itu masih relevan, dan sebagai orang yang selalu memiliki keinginan untuk merubah keburukan menjadi hidup yang lebih baik, GIGO itu menjadi Garbage in GOLD OUT. Kita akan semakin berprikemanusiaan jika selalu mengusahakan perdamaian dengan tidak memperkeruh kubangan lumpur. Orang yang terdidik, tidak harus lulus perguruan tinggi, tentu dengan bijak menggunakan ketidakterbatasan itu untuk membangun kehidupan yang layak, damai, serta alam yang lestari.

Tanpa ada juri yang menilai, apa yang kita lakukan sehari-hari untuk diri, keluarga, sesama dan lingkungan, akan menempatkan kita menjadi GIGO masa lalu (Garbage In Garbage Out), atau GIGO modern ( GARBAGE IN GOLD OUT). Kebahagiaan itu sedernahana, yakni mampu melihat ketidaksempurnaan dan dengan iklas mengurangi ketidaksempurnaan dengan memperbaiki diri, sehingga berguna bagi kebaikan orang lain dan lingkungan.

Salam semangat dan perjuangan.








Leave a Reply