M.U. GintingFilipina merupakan negeri yang sudah jauh sekali dilanda pengaruh buruk narkoba, sama halnya dengan Indonesia yang sudah dalam tingkat darurat narkoba. Cara penyelesaian di Filipina ‘surrender or die’ sepertinya telah terbukti sebagai jalan satu-satunya sekarang ini dalam menghadapi atau memberantas narkoba. Banyak kritikan memang soal HAM dari AS dan dijawab oleh Duterte mengapa kalian diam saja ketika seratus tahun lalu banyak orang Filipina ditembak mati oleh tentara AS, katanya.

Melihat HAM jangan separuh-separuh kata Duterte, harus  melihat dari semua seginya. Seperti di Indonesia siapa yang bicara soal HAM bagi yang mati 40-50 orang tiap hari? Tetapi hukuman mati bagi pengedar narkoba, semua ngomong gede. 

aurora-1Juga banyak kritikan dari PBB yang pada pokoknya juga dikuasai oleh negara-negara besar seperti AS. Kalau mendengarkan PBB sudah jelas juga bahwa tak ada soal yang bisa diselesaikan oleh PBB di negeri mana saja yang punya persoalan sosial berat, apalagi soal narkoba. Tak mungkinlah PBB menyelesaikan soal narkoba di sebuah negeri seperti Filipina atau Indonesia. Tiap negeri harus menyelesaikan sendiri ambil jalan mana yang paling sesuai dan terbaik tanpa campur tangan asing atau PBB.

Bicara soal ‘campur tangan asing’ jangan lupa bahwa narkoba adalah usaha asing melumpuhkan sebuah negara tertentu terutama yang kaya SDA. Selain narkoba, dua lainnya ialah terorisme dan korupsi. Disitu juga termasuk semua aksesorinya seperti judi, sexisme, pelacuran/ HIV-AIDS, judi, pelecehan sexual dan pembunuhan di bawah umur, dsb.

‘Surrender ora Die’ dipakai di Filipina. Sudah puluhan pejabat Filipina diantaranya banyak walikota dan kepala polisi yang menyerahkan diri. Tanpa taktik ‘surrender or die’ tak mungkin terjadi seperti ini, tak mungkin, dimana saja, pejabat pebisnis narkoba menyerahkan diri!

Narkoba di kalangan selebriti bukanlah hal baru, bahkan juga pejabat tinggi seperti Ketua MA dan Ketua DPD. Sasaran utama dan paling empuk dari bisnis narkoba seluruh dunia ialah kaum selebriti, karena mereka punya duit banyak dan beli obat harga berapa saja tak ada persoalan. Kematian yang terlalu pagi bagi selebriti dunia juga bukan rahasia lagi.





Dengan tewasnya Maria Aurora Moynihan di Manila sebagai pengedar narkoba di kalangan selebriti dan yang “ayahnya mendiang Baron Anthony Moynihan, dikenal memiliki kaitan dengan peredaran narkotika dan prostitusi di Filipina”, diharapkan peredaran narkoba di kalangan selebriti Filipina bisa berkurang. Melumpuhkan seorang pengedar kalau di Indonesia mengurangi kematian 40-50 orang tiap harinya.

Dalam rangka itu juga pemerintah Filipina sekarang bikin test narkoba bagi tiap mahasiswa baru. Positif narkoba tidak diizinkan masuk sekolah tinggi atau universitas. Ini juga peraturan yang sangat bagus karena bisa membendung permulaan lahirnya pencandu narkoba di kalangan mahasiswa di kampus. Dalam jangka panjang tentunya mengurangi keterlibatan pejabat di masa depan dalam bisnis narkoba seperti banyak sudah terjadi sekarang di kalangan walikota dan kepala polisi.

Di Indonesia mungkin bagus juga menirukan peraturan ini, supaya kampus dan universitas bersih dari narkoba, dan mahasiswa yang sudah kecanduan narkoba sejak dibangku SMA tidak meneruskan di universitas dan menjangkiti yang lain dan yang jelas  adalah rencana panjang bisnis narkoba itu dalam usaha melumpuhkan satu negara .




Leave a Reply