ambisi“Jangan pernah menyebut kata ‘masalah’ di dalam proses studimu. Ganti kata itu dengan ‘tantangan’,” begitu kata sang profesor 3 hari lalu ketika kami mengadakan pertemuan (Begitu perbincangan kami di sela-sela diskusi mengenai ‘draft chapters’ saya).

“Kamu tahu, apa yang membuat orang sungguh-sungguh bangkit dari putus asa, kegagalan dan kekecewaan, dengan mereka yang tidak?” tanya sang profesor.

“Barangkali bagi seorang religius jawabannya adalah doa. Bagi masyarakat komunal jawabannya ada di keluarga,” jawab saya

“Baiklah. Tentu saja itu jawabanmu. Tapi bagi saya ada yang sangat penting yaitu AMBISI,” katanya lagi.

Saya terpukau. Lebih tepatnya tersentak akan kejujurannya. Sungguh apa adanya. Begitu beliau di mata saya. Barangkali bagi kita, kata ‘ambisi’ lebih sering bermakna negatif. Tak jarang menjadi ‘kambing hitam’. Sebuah kata yang agaknya dihindari pemakaiannya di negeri kita yang ‘santun’ itu.

Para kolega yang banyak hijrah ke ‘istana negara’ tidak pernah mengatakan itu sebagai ‘ambisi’ melainkan ‘amanah’. Para politisi yang mendengungkan retorika demi ‘menggarap’ konstituen sebanyak mungkin tidak pernah mengatakan itu sebagai ‘ambisi’ melainkan ‘perjuangan’. Para mahasiswa yang banyak ‘turun ke jalan’ alias ‘demonstrasi’ tak pernah mengatakan itu sebagai ‘ambisi’ (barangkali ingin disebut aktivis) melainkan ‘demokrasi’. Para relawan yang rela mendatangi ‘remote area’ demi mengajar di sana tak pernah mengatakan itu sebagai ‘ambisi’ melainkan ‘kemanusiaan’. Dan seterusnya, dan seterusnya.

“Apakah ambisimu sekarang ini?” tanya sang profesor lagi.




“Saya ingin segera menyelesaikan studi saya,” jawab saya

“Baiklah. Tentu saja itu jawabanmu. Tapi itu terlalu pragmatis. Saya menanyakan sesuatu di luar itu, yang membuatmu bangkit bersemangat untuk sekarang dan masa depan,” katanya lagi.

Kali ini dia tersenyum. Sungguh melegakan hati saya.

“Oh ya, saya punya ambisi, Prof! Saya telah berhasil mengumpulkan seluruh karya Simone de Beauvoir dari toko-toko “charity”. Saya sedang menulis tentang pemikiran dan hidupnya. Saya punya AMBISI sebagai orang pertama dari Indonesia, Prof!” jawab saya penuh ambisi.

Sang profesor tertawa terbahak-bahak…





1 KOMENTAR

Leave a Reply