Kolom Aletheia Veritas: LONGGEITA

0
120

longgeitaNama saya adalah Longgeita. Setiap kali saya menyebut nama, tak sedikit orang yang mengernyitkan dahi. Mereka kerap mengaitkan nama ini dengan kata ‘panjang’. Barangkali karena kata ‘long‘. Tapi ada untungnya juga, mereka pun mudah mengingat saya.

Longgeita sendiri berasal dari Bahasa Karo. Nama yang benar-benar Karo. Sebuah nama yang sebenarnya tidak dirancang dan tidak dipersiapkan jauh hari sebelum kelahiran saya.

Menurut cerita orangtua, sebenarnya nama ini diberikan karena spontanitas kata-kata dari Nenek Iting saya. Menjelang kelahiran saya, Iting yang pekerja keras itu agak khawatir karena pekerjaan di sawah belum juga selesai. Iting memprediksi bahwa tidak mungkin pekerjaan sawah di kampung selesai pada saat hari kelahiran saya. Dia kebingungan di antara melanjutkan pekerjaan ataukah harus menemani orangtua saya. Baginya, tentu itu adalah pilihan yang rumit.

Ternyata prediksinya keliru. Saya pun lahir bersamaan dengan selesainya pekerjaan di sawah. Ketika tiba di Kabanjahe, Iting pun berujar spontan: “Enggo longge kerina…“. (Sudah lega semua…).




Jadilah nama saya ‘longge‘ yang artinya ‘lega, senang, terlepas [dari beban]’. Saya agak kesulitan mencari padanan yang pas dalam Bahasa Indonesia. Sementara ‘ita’ adalah ‘kita’ dalam bahasa Indonesia. Yah, barangkali ‘longgeita’ bisa dimaknai sebagai: ‘lepasnya kita, leganya kita, bebasnya kita atau senangnya kita’.

Terus terang, saya selalu ‘ngagak’ alias tertawa bila mendengar kisah ini. Ternyata asal usul nama saya ada kaitannya dengan ‘sawah’, pikir saya.

Namun sekarang saya justru bangga menyandang nama ‘Longgeita’. Sebuah nama Karo yang saya bawa ke mana-mana, nama yang menunjukkan identitas etnis saya. Dengan nama ini, takkan bisa dipungkiri bahwa saya adalah orang Karo.

Nama yang pada akhirnya selalu terucap di kelas-kelas, di antara para mahasiswa, dan di antara para profesor di sini, di Britania Raya.




Leave a Reply