Kolom Asaaro Lahagu: Daya Sihir Ahok, Agus, dan Anis Menuju DKI-1

0
58

Asaaro LahaguApakah ketiga Calon Gubernur DKI (Ahok, Agus dan Anis) mempunyai daya sihir? Sebelum menjawabnya, saya terlebih dahulu mendefinisikan apa yang saya maksud di sini daya sihir. Daya sihir yang dimaksud adalah kemampuan menjadikan diri sebagai magnet, idola dan sosok harapan baru. Dengan adanya daya sihir, langkah menarik modal sosial seperti dukungan, preferensi, popularitas dan elektabilias sangat mudah diperoleh.

Fakta membuktikan bahwa sejak Reformasi 1998, mereka yang mempunyai daya sihir menjelma menjadi penguasa di negeri ini.  Menurut pengamatan saya, sejak Reformasi 1998 hingga kini, baru ada 4 sosok yang punya daya sihir luar biasa. Mereka itu adalah Megawati, SBY, Jokowi dan Ahok. Mari kita lihat satu per satu daya sihir itu dengan menengok ke belakang sejenak.

Megawati yang tersiksa terus-menerus di era Soeharto, menjelma menjadi bintang pasca Soeharto lengser. Ketika Megawati  membentuk PDIP 10 Januari 1999, rakyatpun menyambutnya dengan gegap-gempita.

Bersama dengan PDIP-nya, Megawati sukses menyihir rakyat akar rumput di berbagai pelosok negeri dan secara masif menyatakan dukungan kepadanya. Sihir Mega menjadi semakin bergemuruh bersama dengan euforia rakyat yang sudah lama kebebasan politiknya tertekan oleh rezim Soeharto.

Menjelang Pemilu 1999, rakyat secara masif mendirikan Posko pemenangan PDIP Megawati di jalan-jalan, di gang-gang rumah, di tanah-tanah kosong dan di berbagai tempat lainnya. Pada Pemilu 1999 itu, Indonesia memerah di belakang Megawati. Hasilnya PDIP keluar sebagai pemenang Pemilu.

Namun, lewat dengkul Amin Rais dengan poros tengahnya, Gus Dur berhasil menjadi Presiden RI setelah poros tengah berhasil mengkadalin Megawati. Namun, tidak lama pesona-2kemudian Gus Dur lengser dan Megawati yang sebelumnya hanya diplot sebagai wakil, berhasil dilantik menjadi Presiden perempuan pertama RI.

Menjelang Pemilu dan Pilpres 2004, daya sihir Mega sudah pudar. Privatisasi BUMN dan pembiaran kasus BLBI yang berlarut-larut, telah membuat daya sihir Mega meredup. Ditambah lagi blunder Mega yang menyingkirkan Menko Polhukam SBY di kabinetnya, membuat publik berpaling kepada SBY.

Alhasil daya sihir Mega pada Pemilu 2004 beralih kepada SBY. Pada Pemilu ke dua setelah Reformasi itu, PDIP kalah oleh Partai Golkar. Sementara itu Demokrat yang baru lahir dari tangan SBY, langsung menyodok posisi 5 besar.

Golkar yang mencium aroma sihir SBY, langsung mengorbitkannya menjadi calon Presiden berhadapan dengan Mega. Hasilnya SBY berhasil mengkadalin Mega dan menjadi Presiden RI hasil Pilpres langsung yang pertama. Sampai tahun 2009 daya sihir SBY masih ada hingga ia diberi mandat oleh rakyat menjadi Presiden RI untuk periode ke dua.

Namun, daya sihir SBY pada periode ke dua jabatannya mulai redup. Rakyat semakin sadar bahwa selama ini SBY hanya bermain sandiwara lewat penciptaan albumnya. Ketika elit-elit Demokrat tersangkut kasus korupsi, rakyat Indonesia menjadi muak kepada SBY. Belakangan korupsi elit partai Demokrat  sambung-menyambung tak henti.

Pada situasi itu rakyat mulai menunggu pemimpin baru yang mampu memberikan daya sihir baru. Di Jakarta, mayoritas rakyat sudah bosan dan lelah melihat kepemimpinan buruk Fauzi Bowo dengan slogan ‘serahkan kepada ahlinya’. Faktanya, banjir, kemacetan, parkir, PKL, preman liar tak bisa diatasi.

Kesengsaraan masyarakat Jakarta atas administrasi pemerintahan Fauzi Bowo semakin membuat masyarakat mendambakan pemimpin baru. Ketika nama Wali Kota Solo, Joko Widodo muncul ke permukaan bersama mobil Esemkanya, masyarakat Jakarta ikut terkesima.

Kisah sukses Jokowi di Solo membuat masyarakat Jakarta kepincut untuk menjadikannya sebagai gubernur. Mega pun sadar benar sihir Jokowi itu lalu mencalonkannya menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Menjelang Pilkada DKI 2012, nama Jokowi begitu tenar dan diperbicangkan di mana-mana. Maka menggemalah daya sihir Jokowi di pelosok Kota Jakarta.

Demam Jakarta baru pada Tahun 2012 membuat figur Jokowi sangat dominan. Hasilnya dalam Pilkada 2012, Jokowi berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta dengan menyingkirkan Gubernur Petahana, Fauzi Bowo. Wakil Gubernur Ahok yang berpasangan dengan Jokowi, juga ikut terkenal dengan menebeng pada popularitas Jokowi.

body-painting-1Hal yang patut dicatat di sini adalah bahwa dasar kemenangan PDIP di Pilkada Jakarta itu bukanlah berkat daya sihir Mega, tetapi berkat daya sihir Jokowi. Pada Pemilu 2014, PDIP bisa menjadi pemenang Pemilu di kancah nasional berkat daya sihir Jokowi.

Hal yang sama pada Pilkada di DKI Jakarta. PDIP berhasil meraih kursi terbanyak 28 kursi berkat daya sihir Jokowi. Jika kemudian PDIP berhasil mengorbitkan Jokowi menjadi Presiden, itu juga bukan karena jasa Megawati tetapi karena daya sihir Jokowi.

Ahok yang menjadi Wakil Gubernur Jokowi menjadi diuntungkan oleh pembagian tugas yang sangat jelas. Tidak seperti sebelumnya, wakil gubernur di era Sutiyoso dan Fauzi Bowo hanya sebagai simbol dan pajangan. Di era Jokowi, wakil gubernur diberi wewenang yang sangat besar.

Saat itu, Jokowi blusukan ke sana kemari, sementara Ahok membenahi birokrat. Hasilnya, kolaborasi kedua sosok ini mampu membuat masyarakat Jakarta terkesima. Sepak-terjang Ahok membenahi carut-marut birokrat Jakarta, menjadi membahana di mata rakyat.

Ketika Jokowi secara gemilang menjadi RI-1, dengan sendirinya kursi Gubernur DKI beralih kepada Ahok. Dengan wewenang penuh Ahok, memulai menerapkan berbagai kebijakan gila. Gila dalam arti melakukan penertiban yang garang dan bergemuruh.

Ahok tanpa ampun mulai melakukan berbagai penggusuran, penyelamatan ABPD dan penyikatan para mafia di birokrat. Hasilnya publik terkesima dan nama Ahok kemudian menjadi berkibar. Daya sihir Ahok bagi masyarakat Jakarta akhirnya menyihir masyarakat Jakarta.

Lewat berbagai survei, elektabilitas Ahok kemudian tetap tinggi. Saat Ahok mengumumkan bahwa ia maju dari jalur independen, publik kemudian berbondong-bondong mengumpulkan KTP-nya kepada Ahok. Alhasil dalam waktu 3 bulan KTP dukungan kepada Ahok tembus 1 juta. Itulah fakta daya sihir Ahok.

Daya sihir Ahok itu juga telah melahirkan ribuan relawan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Ada Teman Ahok, Batman (Basuki Tjahaja Purnama Mania), GoAhok, Muda-mudi Ahok, Ale-ale Ahok, Ahok garis keras, Jasmeve, Relawan Nasdem, relawan Hanura, relawan Golkar, Relawan Hanura, relawan PDIP dan seterusnya.

Lalu bagaimana dengan daya sihir Agus dan Anis? Untuk sementara saya tidak melihat adanya daya sihir dalam diri Agus. Benar bahwa ayah Agus, SBY, pernah mempunyai daya sihir yang mempesona rakyat sekitar Tahun 2004-2009. Namun, daya sihir itu kini sudah pudar. Buktinya pada Pemilu 2014 lalu, suara Demokrat di seluruh Indonesia melorot hingga 50%. Lalu apa yang hendak dijual Agus kepada rakyat DKI? Sampai sekarang saya tidak temukan.




Lalu Anis? Sebetulnya Anis adalah seorang yang berkompeten. Dia santun, cerdas dan bersih. Lalu, mengapa Jokowi menyingkirkannya dari kabinetnya? Jawabannya adalah karena Anis tidak cukup gila. Berbeda dengan Menteri Susi, Sri Mulyani atau Menteri Retno yang kadar kegilaannya sangat tinggi. Anis termasuk sosok yang biasa-biasa saja kadar kegilaannya. Padahal Jokowi membutuhkan sosok-sosok yang gila untuk membenahi Indonesia. Itulah sebabnya Anis akhirnya tersingkir.

Untuk DKI Jakarta, saya tidak melihat adanya sihir dari sosok seorang Anis. Jika dibandingkan dengan Ahok, kadar kegilaan Anis bagai langit dan bumi. Padahal Jakarta yang terkenal dengan hutan rimbanya dan dihuni oleh manusia-manusia bengis, serakah dan rakus, dibutukan orang gila untuk membenahinya. Jika yang diandalkan hanya kesantunan, kepintaran dan senyum mempesona, bisa-bisa seorang gubernur menjadi santapan empuk para maling dan bajingan ibu kota.

Maka, berdasarkan analisis daya sihir, saya menyimpulkan bahwa untuk sementara hanya Ahok yang sudah mempunyainya. Sementara daya sihir Agus dan Anis masih belum ada. Jika sampai Februari 2017 Agus dan Anis tidak bisa membuat dirinya berdaya sihir, maka prediksi saya, Ahoklah yang akan memenangi kursi Gubernur DKI Jakarta pada Tahun 2017 mendatang.




Leave a Reply