Kolom W. Wisnu Aji: Pilkada DKI, Antara Transformasi Ide, Hegemoni, dan Libido Berkuasa

0
116

 

wijayanto 8Pada tanggal 23 September 2016, 3 pasangan calon telah memenuhi batas akhir pendaftaran. Banyak dinamika menarik di balik penetapan calon, terutama pergumulan para elit maupun punggawa partai yang terjun langsung merumuskan kepentingan sesuai pasangan yang diusung. Dinamika membuat Pilkada DKI semakin seru karena, di dalam orientasi kepentingannya, ada tujuan untuk transformasi ide, ada faktor hegemoni tingkat super elit dan ada faktor orientasi libido berkuasa.

Pada prosesnya rakyat disuguhi berbagai macam hiruk pikuk yang begitu kerasnya untuk merumuskan pasangan calon yang ideal bagi publik untuk dikontestasikan.

Rakyat merasa hanya jadi penonton yang penuh kebingungan melihat begitu kerasnya perdebatan antar elit demi menunjukkan eksistensinya dan partainya di hadapan rakyat Jakarta yang sangat rasional.

Setelah ada kejelasan ketiga pasangan calon yang didaftarkan, muncul banyak pertanyaan di mata publik terhadap pasangan calon yang dimunculkan. Publik Jakarta sangat penasaran tentang orientasi tujuan ditetapkan pasangan calon yang didaftarkan.

sudut-pandang-3Dalam kajian kami, kami mencoba memilahnya menjadi 3 sudut pandang penting berdasarkan kacamata publik Jakarta. Adapun 3 sudut pandang tersebut adalah adanya momentum untuk melakukan transformasi gagasan perubahan Jakarta yang holistik, adanya proses hegemoni di tingkatan super elit untuk mempertahankan eksistensi di dunia politik dan adanya upaya libido berkuasa dalam menguasai ibukota Jakarta sebagai simbol kemenangan nasional

Kami mencoba membedahnya satu per satu sesuai dengan konteks momentum penetapan pasangan calon yang didaftarkan.

Pertama, adanya momentum transformasi gagasan perubahan Jakarta yang holistik. Hal tersebut dimaknai dari orientasi antar partai menetapkan pasangan calon ingin merayu publik Jakarta yang rasional untuk menangkap sinyal simbolik dari masing-masing pasangan calon yang dihadirkan.

sudut-pandang-2Pilkada DKI dijadikan momentum untuk mewujudkan pemilihan langsung yang modern, rasional dan kritis. Maknanya tidak akan ada lagi pertarungan menggunakan isu SARA, sektarian dan feodal, tapi fokus pada perang gagasan yang partisipatoris melibatkan publik Jkarta dalam rangka mencari solusi percepatan pembenahan Jakarta yang holistik dan transparan. Figur-figur yang ditawarkan diharapkan akan membawa secercah asa tentang konsep perubahan yang berkelanjutan.

Ke dua, adanya proses hegemoni di tingkatan super elit untuk mempertahankan eksistensi politiknya. Proses penetapan pasangan calon yang membuat para super elit gelisah untuk turun gunung membuat Pilkada Jakarta semakin seru. Semacam ada dendam lama bersemi kembali.

Rakyat merasa disuguhi pertarungan big match yang menentukan karena Jakarta merupakan ibukota negara sebagai etalase nasional yang disorot dari segala penjuru nasional. Maka, ketika para elit tidak bergerak, akan sangat berpengaruh pada eksistensi partainya di kancah nasional.




Ke tiga, adanya upaya libido kekuasaan dalam orientasi menguasai ibukota negara sebagai simbolisasi kemenangan Pilkada secara nasional dan dapat mendongkrak citra partainya di hadapan publik nasional. Selama 5 bulan ke depan, rakyat Jakarta akan disuguhi hiruk pikuknya para elit nasional maupun elit daerah yang berprestasi dalam mengepung Jakarta untuk memenangkan eksistensi partainya dan pasangan calon yang diusung sebagai kebanggaan serta simbolisasi kemenangan Pilkada yang jadi etalase nasional. Libido-libido berkuasa akan berbenturan antar kepentingan demi menguatkan dan menangkan Pilkada DKI.

Bahkan para pengusaha-pengusaha besar akan saling bergumul ikut andil meramaikan dinamika DKI, demi mempertahankan dan mengamankan eksistensi usahanya di Jakarta. Tinggal publik Jakarta yang menentukan kemenangannya.

#SalamPencerahan

Jakarta, 29 September 2016

Hormat kami
CENTER STUDY REPUBLIC ENLIGHTMENT FOR PROGESIF MOVEMENT (CS REFORM)




Leave a Reply