M.U. Ginting

RUU  JASTA (Justice Against Sponsors of Terrorism Act) merupakan suatu kejadian luar biasa pertama Abad 21 karena akan banyak membuka kegelapan yang luar biasa pula dari abad lalu. Salah satu diantara kegelapan luar biasa itu ialah siapa di belakang terorisme internasional itu, dan apa tujuannya sebenarnya?

Mungkinkah terorisme itu hanya untuk menakut-nakuti rakyat, menakut-nakuti pejabat/ kepala negara tertentu tanpa tujuan strategis jangka panjang? Atau hanya menakut-nakuti Presiden Jokowi untuk meluluskan perpanjangan kontrak Freeport seperti teror Thamrin Januari lalu? Atau hanya untuk menakut-nakuti Presiden Hollande supaya memperpanjang the state of emergency di Perancis sehabis teror supir psikis pecandu narkoba di Nice?

Pastilah tidak sampai di situ saja.

Lantas, siapa di belakangnya dan apa tujuannya terorisme internasional yang sudah terkenal, berdominasi dan ditakuti oleh penduduk dunia hampir selama setengah abad itu?

Itulah semua yang bakal keluar nanti setelah dimulai pengadilan terbuka itu. Sekarang semua masih gelap, dan akan dipertahankan tetap gelap oleh the jastaestablishment (penguasa dan pendukungnya), selama masih bisa bertahan, tentunya. Tetapi, era keterbukaan akan susah melawannya karena soal keterbukaan itu adalah arus perubahan dan perkembangan dunia. Adanya internet, informasi terbuka dan partisipasi publik yang tak terbatas telah melapangkan proses keterbukaan yang sangat luas dan semakin mendalam pula.

Di AS, pembukaan kegelapan ini sudah dimulai pada tahun 2013 oleh Edward Snowden dari segi intelijen. Sekarang, pada tahun 2016 ini, oleh keluarga korban WTC dari segi hukum. Banyak penentang JASTA yang mengejek tim advokasi pembela korban WTC. Mereka menuduh tim advokasi ini hanya mencari duit dalam melaksanakan kampanye dan pelaksanaan JASTA.

Tak perlu dibantah memang bahwa duit adalah salah satu stimuli utama untuk menjalankan apa saja. Tetapi stimuli duit bukanlah hal yang baru bagi dunia dan bagi tim advokasi di mana saja, tak terkecuali bagi yang mengejek itu. Jadi, yang baru di sini ialah ARUS BESAR KETEERBUKAAN itu, yang sangat mengerikan bagi penentang perubahan dan penentang arus perkembangan.

“A ministerial source said the Justice Against Sponsors of Terrorism Act (JASTA) would contribute to the “erosion” of the principle of sovereign immunity, which has governed international relations for hundreds of years, read a statement on the state-run news agency.” (AP)

Ratusan tahun kekebalan kedaulatan sebuan nation, dan selama ratusan  tahun itu pula sudah dillanggar terus menerus ‘kekebalan’ itu (‘erosi’). Perang raja-raja menaklukkan raja lain. Artinya, yang tidak kebal (lemah) selalu kalah dan disalahkan. Begitu juga perang antara berbagai nation, dan perang dunia sendiri 2 kali. Jadi, kekebalan itu tergantung kekuatan, dan KEGELAPAN di belakangnya. Kegelapan itulah sekarang yang sudah menjadi awan tipis semakin tak bisa jadi tempat sembunyi bagi semua kebusukan atau KETIDAKADILAN kita bilang sekarang, dan sebagai sebab utama perjuangan menentang semua kegelapan seluruh dunia.

Keluarga korban WTC menuntut keadilan. Sudah 15 tahun mereka diam, sekarang buka mulut. Mayoritas Kongres mendukung, dan membenarkan. Veto Obama jadi gugur, tak berlaku. Sponsor terorisme akan diadili secara terbuka. Pemerakarsa terorisme yang sesunggunya cepat atau lambat akan muncul juga dari perkembangan luar biasa ini.








1 KOMENTAR

  1. Sudah disebarkan ke seluruh dunia bahwa JASTA sangat berbahaya bagia kedaulatan bangsa-bangsa.

    ‘These “dangers” were the reason why President Barack Obama, the US Secretary of Defense, The Chairman of the Joint Chiefs of Staff and the Director of the CIA have expressed their opposition to JASTA as it has been drafted.’ – (AP)

    Inilah beberapa badan/institusi yang menganggap RUU JASTA sebagai ‘these dangers’. Badan-badan inilah yang disebut The Istablishment dikepalai oleh seorang presiden sebagai perwakilan pemerintah AS. Dan presiden AS dimiliki oleh siapa telah pernah dijelaskan oleh presiden Roosevelt th 1933. Dia bilang: “The real truth of the matter is, as you and I know, that a financial element in the large centers has owned the government of the United States since the days of Andrew Jackson.”.

    Financial Element in the large centers inilah yang sekarang kita namai NEOLIB (global hegemoy), bankir besar rentenir internasional yang juga pemilik FED, yang telah menguasai pemerintahan AS atau Roosevelt pakai istilah ‘sudah memiliki’ (has owned) the government of the United States sejak era presiden ke 7 Andrew Jackson (1829-1837). Jadi ketika Roosevelt juga sudah terjadi kepemilikan ini, dan Obama juga tentu tak terkecuali. Perbedaan kedua presiden ini ialah bahwa Roosevelt berani mengatakan terus terang siapa pemilik pemerintahan AS sejak era Andrew Jackson , sedangkan Obama berusaha malah menutupi peran financial element large centers itu. Obama tak punya pilihan.

    Kalau soal terorisme sudah sangat jelas dilukiskan oleh seorang akademisi prof Chossudovsky dia bilang: “the so-called war on terrorism is a front to propagate America ’s global hegemony and create a New World Order. Terrorism is made in USA , The global war on terrorism is a fabrication, a big lie”.

    Kaum akademisi banyak bikin analisa dan kesimpulan briliant, tetapi sepertinya hanya beredar dikalangan akademisi saja sehingga apa yang mereka simpulkan berdasarkan analisa ilmiah dan dengan dasar dan bukti jelas, tidak begitu meresap dikalangan publik yang luas. Tetapi perubahan sudah ada dan berjalan terus dilapangan ini juga. Munculnya kejadian luar biasa seperti usul RUU JASTA, pastilah juga banyak dapat pengaruh dari tulisan-tulisan akademisi tu.

    MUG

Leave a Reply