Kolom Bastanta P. Sembiring: Permata Karo di Lintas Timur Sumatra

1
274

lintas-timur

Seperti biasa, hari Minggu merupakan hari bebas bagi sebagian besar orang. Segala aktivitas di luar pekerjaan sehari-hari dilakukan di hari tersebut. Mulai bastantadari urusan keluarga, maupun untuk sekedar menyenangkan diri. Demikian juga para pemuda yang tergabung dalam LT-TC (Lintas Timur Trekker Comunity). Di hari Minggu selesai ibadah Minggu (kebetulan semuanya beragama Kristen) biasa memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi tempat-temapat di sekitar Jalan Lintas Timur Jambi – Riau .

Trekking kemarin [Minggu 2/10] sedikit berbeda. Kami sepakat melakukannya lebih awal. Pukul 07.30 wib, rombongan berangkat dari Simpang Rambutan menyusuri Jalan Lintas Timur ke arah Jambi. Memacu sepeda motor dengan santai dan singggah di beberapa tempat untuk mengambil gambar (foto-red).

lintas-timur-3Kebetulan, waktu tepat jam ibadah rombongan tiba di sekitaran Merlung, sebuah kota kecil di Jalan Lintas Timur yang masuk dalam administratif Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Jambi). Kami memutuskan untuk singgah sejenak beribadah di salah satu Bajem (Bakal Jemaat) GBKP yang ada di sana.

Sesampainnya di gedung ibadah di Bajem GBKP Merlung, rombongan langsung disambut hangat oleh Permata (Persadan Man Anak gerejanta/ Persekutuan Pemuda Gereja) Bajem GBKP Merlung dan jemaat lainnya. Usai ibadah pun kami tidak diizinkan langsung pergi sebelum makan siang bersama.

Saya kurang memperdulikan tentang makanan itu karena memang itu tidak masuk dalam agenda kami. Akan tetapi, jika dinilai dari segi tampilan dan rasa, itu seperti masakan dari rumah. Kalau jemaat membawa makanan masing-masig dari rumah dan dikumpulkkan di gereja untuk nantinya dimakan bersama usai ibadah. Apakah itu dilakukan di tiap Minggunya atau hanya minggu-minggu tertentu, itu pun tidak masuk dalam daftar pertanyaan, seperti biasanya.

lintas-timur-1Apa yang kami rasakan di  Bajem merlung ini mengingatkan saya dengan beberapa gereja di beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, yang, kesemuanya itu sebagaian besar jemaat mula-mula (jemaat baru/calon jemaat), kecuali 2 gereja dalam salah satu denominasi gereja yang saya temui di Bandung dan Cimahi sekitar tahun 2014 lalu, yang walaupun sudah memasuki usia dua – puluhan tahun masih mampu menjaga tradisi seperti ini. Semoga GBKP Merlung juga demikian.

Usai makan siang, sebelum kembali melanjutkan perjalanan, sempat kami berbincang-bincang dengan beberapa anggota Permata setempat. Mereka menuturkan kalau kebersamaan antara jemaat khususnya pemuda/i di Bajem  GBKP Merlung sagat baik. Tentunya ini merupakan hal yang positif bagi persekutuan yang sangat merindukan suatu saat dapat mendirikan bangunan gereja yang lebih layak baik dari segi lokasi dan bangunannya, serta status dari Bajem menjadi jemaat atau dalam denominasi GBKP disebut dengan Runggun.

Sempat juga saya dengar kalau Bajem GBKP Merlung masuk dalam prioritas pembangunan gereja GBKP untuk tahun 2017. Berita ini sangat disambut gembira oleh semua anggota jemaat dan semoga apa yang dirinduan oleh jemaat di Bajem Merlung dapat segera tercapai.








1 COMMENT

  1. Suasan ramah tamah dan kekaroan dengan makanan ‘tradisi’nya, wow sangat menggembirakan dan jadi teringat kampung halaman lagi.

    MUG

Leave a Reply