Penanganan Tanpa Ujung, Banyak Aktivitas Warga di Dalam Zona Merah

0
131

B. KurniaB. KURNIA. P.P. SIMPANG EMPAT. Banyak warga masih melakukan kegiatan di dalam Zona Merah/ Berbahaya, meski PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah melarang keras khusus warga tinggal di radius 3 Km hingga 7 Km jalur awan panas Gunungapi Sinabung.

Bukan bertani saja yang dilakukan oleh warga. Sejumlah warga yang seharusnya tinggal di posko pengungsian, kembali menetap di desa mereka yang masuk Zona Merah. Seperti halnya warga Desa Jeraya dan Pintumbesi (keduanya Kecamatan Simpang Empat), seharusnya mengungsi namun tetap bertahan tinggal di desanya.

Padahal, kedua desa itu berada di jalur awan panas radius 6 Km  dari puncak Sinabung. Seharusnya kedua desa dikosongkan. Warganya dipindahkan ke tempat aman yakni posko-posko pengungsian yang tersebar di sembilan titik.

Sebagaimana dalam data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Karo, warga Desa Jeraya berjumlah 192 KK diungsikan ke gudang jeruk Surbakti Desa Surbakti (Kecamatan Simpang Empat), sedangkan warga Desa Pintumbesi 77 KK diungsikan ke gedung GBKP Desa Ndokum Siroga (Kecamatan Simpang Empat).

zona-merah
Beberapa warga saat melaksanakan aktivitas di Zona Merah / Bahaya erupsi Gunung Sinabung.

Menurut Sediono Sembiring (77), warga Desa Jeraya kepada wartawan [Kamis 6/10] di lokasi Zona Merah (Jeraya), dia kembali ke desa padahal diharuskan mengungsi. Dia ingin berkativitas di lahan yang sudah memasuki jadwal masa tanam. Bukan ia saja yang kembali tinggal di desa dan beraktivitas seperti biasa.

“Warga yang lain juga melakukan hal yang sama. Diperkirakan hampir 90% warga Jeraya kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan aktivitas sebagai petani, peternak dan lainnya,” tutur Sediono.

Situasi dan kondisi serta penanganan yang dianggap bertele-tele dan lamban menimbulkan rasa bosan para warga di posko penampungan.

“Itu yang membuat kami kembali ke desa. Kebutuhan anak sekolah cukup mendesak, ditambah kebutuhan lainnya. Jika tidak mengolah lahan, dari mana uang didapat untuk memenuhi kebutuhan tersebut?” kata Sediono menjelaskan kenekatan warga.

Warga Jeraya umumnya bekerja sebagai petani. Bila lahan tidak diolah, mata pencarian akan terputus. Meski lahan pertanian masuk Zona Merah dan pemerintah melarang, warga tetap bersikeras mengerjakan lahan dengan segala resiko potensi bencana Sinabung yang mungkin sewaktu-waktu bisa menghampiri.

Informasi dari BPBD Kabupaten Karo, 192 KK warga Jeraya akan ditempatkan ke hunian sementara di Desa Ndokum Seroga pada bulan Desember mendatang.

“Tempat disediakan, tapi lapangan pekerjaan tidak ada. Karena itu, kami tetap kerjakan lahan yang berada di desa,” kata Sediono ketika ditanyakan soal rencana ini.

Senada dengan Sediono Sembiring, Beni Sitepu (40) warga Pintumbesi mengatakan, kembalinya mereka ke desa dan mengerjakan lahan adalah karena kebutuhan hidup cukup besar tinggal di posko.




“Kalau hanya mendapatkan makan, lebih baik kami kembali ke desa,” ujar Beni.

Kembali ke desa mendiami rumah dan mengerjakan lahan meski dalam bayang-bayang erupsi Sinabung, warga merasa hidupnya lebih baik bersama keluarga dari pada di pengungsian tanpa tahu harus berbuat apa. Tinggal di Zona Merah tentu dengan perasaan takut.

“Tapi, mau apa lagi? Kebutuhan anak-anak dan masa depan mereka jauh lebih penting dari bahaya Sinabung yang mungkin datang sewaktu-waktu. Kondisi ekonomi  memaksa kami kembali ke Zona Merah. Kami tidak menyalahkan pemerintah sebab, larangan, dan bantuan telah mereka cukupi selama kami tinggal di posko. Hanya saja, perjuangan kami melakukan aktifitas di Zona Merah meski dilarang bukan tidak ada alasan kuat. Pemerintah juga harus memahami kondisi kami warga yang tetap tinggal di Zona Merah.

Plt. Kepala BPBD Matius Sembiring yang ditemui wartawan mengatakan perihal percepatan relokasi mandiri dan Huntara masih tahap proses pengerjaan.

“Lebih lanjut kebijakan itu ada di pimpinan. Kmi hanya mengerjakan. Jadi, secara detail kapan rampung pengerjaannya belum bisa dijawab,” kata Matius.








Leave a Reply