lourdes
‘Fortress’ atau benteng yang terdapat di kota Lourdes sejak sebelum Masehi.

Melakukan perjalanan ke kota Lourdes sekitar seminggu yang lalu, tentu tantangan tersendiri buat saya. Di samping tidak begitu paham dengan jalur dan sistem transportasi Perancis, ternyata orang-orang Perancis banyak yang tidak fasih berbahasa Inggris. Akhirnya dengan bekal keberanian, saya pun tiba di Lourdes dari Paris. Naik turun bis dan kereta, pelan-pelan mempelajari sistem transportasi Negeri Anggur, bertanya ke orang-orang di ‘gare’ atau stasiun mengenai cara mencetak tiket kereta, juga bertanya ke siapa saja supaya tak tersesat.

Melelahkan, mendebarkan tapi sungguh mengasyikkan. Apalagi ketika tersadar, bahwa kita telah menginjakkan kaki di banyak kota di negeri ini.


[one_fourth]Akhirnya, inilah Lourdes…[/one_fourth]

Kota mungil terletak di kaki pegunungan Pyrenees, dengan penduduk sekitar 17.000 jiwa. Sebuah kota yang pernah dikuasai oleh kelompok Muslim Al Andalus selama 46 tahun, hingga 778 M. Pada akhirnya, pemimpin kelompok tersebut melakukan konversi agama ke Katolik karena pengalaman spiritualnya dan dibabtis dengan nama ‘Lorus’, yang mana dari nama inilah kata ‘Lourdes’ berasal.

Ketika pamit ke professor saya untuk melakukan perjalanan singkat ke Eropa daratan, dia bertanya ke mana gerangan tujuan utama saya. Saya menjawab: Paris dan Lourdes. “Oh ‘Lurd’ ya…”, komentarnya. Saya pun tersenyum sendiri, tersadar bahwa lafal atau “pronunciation” saya ‘Indonesia’ sekali. Ya, orang-orang di sini, mengucapkan Lourdes dengan ‘Lurd’.

lourdes-2
Toko-toko souvenir di jalan menuju Grotto.

Sebelum tiba di Lourdes, saya terlebih dulu mampir di kota Tarbes untuk makan siang sembari menunggu jadwal keberangkatan kereta. Ternyata harga makanan di kota ini jauh lebih murah dari Paris. Suasana kota yang lengang dan dikelilingi oleh pegunungan yang indah membuat saya tertarik untuk menelusuri kota ini. Sungguh sangat kontras dengan Paris yang begitu mewah dan megah, begitu sibuk. Orang-orangnya juga tampak lebih ramah dan lagi-lagi saya berjumpa dengan orang-orang bahkan anak muda yang tak bisa berbahasa Inggris.

Setibanya di Lourdes, saya terpana dengan kota sederhana bersama toko-toko kecilnya yang antik, dan kehidupan masyarakatnya yang sederhana. Namun Lourdes menjadi sebuah kota yang sangat sibuk dengan kehadiran kurang lebih 6 juta pengunjung setiap tahunnya.

lourdes-3
Para peziarah yang berdoa di Gua Lourdes, sembari menyentuh dinding-dinding gua dengan mengucapkan doa dan harapan..

Lourdes sendiri adalah kota terpenting ke dua setelah Paris dalam bisnis pariwisata di Perancis. Ada lebih dari 360 hotel di sana. Setiap musim ziarah, sekitar 6 jutaan kartu pos dikirim dari Lourdes ke seluruh dunia. Toko-toko souvenir yang berjumlah ratusan dapat kita temukan di sepanjang jalan menuju The Sanctuary of Our Lady of Lourdes. Sepintas agak mirip dengan jalan menuju Gua Maria Sendangsono di Yogyakarta. Bedanya jalan menuju gua di Yogya cukup menanjak.

Selain The Sanctuary, kota Lourdes juga didominasi oleh bangunan kastil dan benteng yang telah berdiri sebelum Masehi. Tapi lagi-lagi ‘Grotto’ tetap menjadi daya tarik utama. Sebuah lubang biasa di bawah batu karang besar, yang dulunya babi-babi kerap datang untuk berteduh. Namun segalanya berubah ketika suatu saat, pada tanggal 11 Februari 1858, terdengar suara angin disertai cahaya dan Bunda Maria menampakkan diri, berpakaian putih, membawa sebuah rosario di tangannya, dan terdapat mawar kuning di masing-masing kakinya.

Selanjutnya, pada tanggal 25 Maret 1858, Bunda Maria mengatakan kepada Bernadette dengan dialek lokal, bukan “French” atau “Spanish”, tapi “Provencales”:
Que soy era Immaculada concepciou
Akulah yang dikandung tidak dengan bernoda…
Kata-kata ini bisa kita temukan tertulis di bawah patung Bunda Maria yang ada di dalam gua.




lourdes-4
Patung Bunda Maria berada persis di depan The Basilica of our Lady of the Rosary.
lourdes-5
Notre Dame du Rosaire de Lourdes.
lourdes-6
The Basilica of our Lady of the Rosary di tepi Sungai Gave






Leave a Reply