Kolom Aletheia Veritas: MEMBACA

0
193
aletheia-5
Ini foto saya di Gereja Anglikan di Kota Aberdeen, Skotlandia.

Di usia 19 tahun, saya berkenalan dengan Filsafat pertama kalinya. Kala itu, saya menemukan sebuah buku yang berjudul ‘Kata-kata’ yang ditulis oleh Jean-Paul Sartre. Buku tersebut merupakan hasil terjemahan dari ‘Les Mots’ dalam bahasa Perancis. Awalnya, saya tidak tahu siapakah Jean-Paul Sartre yang ternyata seorang filsuf terkenal di Perancis. Menelusuri karya-karya Sartre yang lain, akhirnya saya ‘berkenalan’ dengan Simone de Beauvoir melalui karyanya ‘The Second Sex’, yang juga merupakan hasil terjemahan.

Kota tempat saya sekolah di Pulau Jawa itu memang surganya buku, termasuk buku-buku terjemahan yang harus diakui masih banyak kualitas terjemahannya yang kurang bagus. Sementara buku-buku yang ditulis oleh orang kita sendiri, belumlah begitu banyak. Dengan ‘modal’ kemauan belajar bahasa Inggris, akhirnya saya bisa membaca buku-buku dari luar yang ternyata begitu kaya, begitu berlimpah, begitu luar biasa dan pemaknaan saya pun sedikit berubah dari buku-buku terjemahan yang telah saya baca.

Setelah ‘mengenal’ Sartre dan de Beauvoir, saya melanjutkan ‘petualangan Filsafat’ lainnya. Saya pun ‘berjumpa’ dengan Friedrich Wilhelm Nietzsche yang lagi-lagi melalui buku terjemahan berjudul ‘Ecce Homo’. Dengan tokoh yang satu ini, saya sarankan anda harus berhati-hati membacanya (hehehe..).

Setelah Nietzsche, saya berkenalan dengan Søren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf Denmark. Kemudian lanjut dengan Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman. Beruntunglah akhirnya gagasan-gagasan kedua filsuf ini telah ditulis dengan bernas dan luar biasa oleh orang Indonesia yang dididik a la Jesuit.

‘Heidegger dan Mistik Keseharian, Suatu Pengantar Menuju Sein Und Zeit’, adalah judul karya yang ditulis oleh F. Budi Hardiman, sementara ‘Kierkeegard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri’, ditulis oleh seorang pastor Jesuit bernama Thomas Hidya Tjaya. Saya ingin berterimakasih kepada Franz-Magnis Suseno, seorang profesor kelahiran Jerman dan seorang pastor Jesuit yang begitu brilian merangkum dan menyederhanakan perjalanan historis Filsafat Barat, dari klasik sampai postmodern.

Jika ditanya siapakah para filsuf yang paling berpengaruh untuk saya, maka jawabannya: Jean Paul-Sartre, Simone de Beauvoir, Friedrich Wilhelm Nietzsche, Søren Aabye Kierkegaard, dan Martin Heidegger. Filsuf-filsuf yang lain (bagi saya) hanya ‘catatan kaki’ saja (hihihi…)




Lantas, apakah saya dulunya sekolah bidang Filsafat? Tidak sama sekali. Membaca Filsafat hanya untuk ‘merayakan kehidupan’ saja. Saya tidak ‘mencari nafkah’ dari belajar atau lebih tepatnya membaca Filsafat. Tapi harus saya akui, dengan membaca Filsafat pikiran kita lebih kritis, tajam dan kaya.

Di atas semuanya, membaca telah memberi saya banyak harapan yang satu-persatu mulai terwujud.

Anak-anak muda, mari membaca!








Leave a Reply