garam-bali-1
Semua foto di tulisan ini adalah jepretan RUDI WISNAWA

Laporan: Ni Nyoman Murdewi dari Bali

 

ni-nyoman-murdewi-1Seiring dengan perkembangan ekonomi yang kian meningkat, serta pesatnya kebutuhan industri pariwisata di Pulau Dewata, produksi petani garam di Desa Amed Bali ikut tergerus. JPK di Bali pun melakukan kegiatan inspeksi ke petani garam dengan meninjau kawasan yang masih tersisa akibat tergusurnya lahan-lahan mereka [Sabtu 22/10].

Dengan berjalannya waktu, sang petani harus merelakan lahannya beralih fungsi menjadi hotel, restauran atau sarana prasarana penunjang wisata lainnya seperti halnya untuk objek wisata water sport.

JPK di Bali bertemu dan mewawancarai petani garam Bapak Ketut Paing (46). Bertahun-tahun beliau dan istrinya menekuni profesi ini sebagai penopang hidup. Sekitar 20 tahun silam, lahan-lahan di daerah pesisir Pantai Amed masih berjejer lahan petani yang luas. Produksipun bisa melimpah dan kadang-kadang melebihi pasokan. Waktu kemudian berubah, perkembangan pariwisata ikut membawa nama Desa Amed yang terletak di Kabupaten Karangasem dikenal dengan wisata baharinya.

Bapak Ketut dengan pengalamannya yang sudah ahli menjelaskan proses pembuatan garam laut tradisional Bali. Prosesnya melalui 4 tahap filtering dan 2 tahap drying. Tahap pertama air laut disiramkan ke lahan-lahan petak berukuran rata-rata 5 x 5 meter dan dijemur sehari di bawah terik sinar matahari yang terang.

garam-1garam-2garam-3





Tahap ke dua, air laut yang mengering dan menyatu dengan tanah dipetak pertama dipindah ke petak tanah ke dua dengan ukuran sama dan dijemur sehari.

Tahap ke tiga, lagi tanah di petak ke dua dipindah ke petak tanah ke tiga dan dipindah lagi ke petak tanah ke empat masing-masing dijemur sehari.

garam-4garam-5garam-6





[one_fourth]filtering dan drying[/one_fourth]

Selanjutnya butir-butir air laut yang mengering tahap ini dipindah lagi ke sebuah kontainer traditional untuk proses drying (pengeringan) selama 4 hari. Setelah kering, butir-butir tanah ini disiram lagi dengan air laut untuk tahap akhir filtering. Maka terdapatlah air laut yang telah mengalami proses filtering dan drying.

garam-8Air inilah kemudian dijemur di penjemuran traditional yang terbuat dari batang pohon pinang atau batang pohon kelapa yang dibentuk seperti kontainer sehingga air laut ini mengering dan terlihat butiran-butiran garam laut Bali Asli traditional dengan rasa khas yang terjamin hanya ada di desa wilayah Amed Bali.

Keberhasilan proses pembuatan garam laut asli Amed Bali sangat tergantung pada sinar matahari karena proses ini betul-betul alami. Tidak menggunakan campuran zat kimia apapun. Jika terjadi curah hujan, dengan pasti usaha petani menjadi gagal.

garam-7

Tujuan inspeksi kami adalah mengajak pembaca mencoba mencicipi hasil petani garam Bali yang terproses dengan manual. Objeck wisata Amed juga terkenal dengan wahana Bahari yang exotic, diving dan snorkeling adalah andalan yang patut dicoba sambil menikmati indahnya matahari pagi dengan pemandangan nelayan-nelayan berjejer sepanjang Pantai Amed. Fasilitas hotel restauran tersedia sepanjang areal pantai.

Perjalanan yang ditempuh ke daerah wisata Amed dari Bandara Ngurah Rai Bali selama sekitar 2,5 Jam. Yang ingin mencoba berwisata dan membeli produk garam Bali Asli Amed Bali bisa menghubungi team SOUL BALI CHARITY: www.soulbalicharity.com atau inbox Admin JPK.

ladang-garam-2

ladang-garam-1garam-bali-3




Leave a Reply