bayak-pa-mangkok
Ilustrator Sora Sirulo, Darul Kamal Lingga Gayo alias Bayak Pa Mangkok sedang merenung di tepi ladang jagungnya di Perbesi.



rikwan sinulinggaRIKWAN SINULINGGA. KABANJAHE. Lebih jauh perihal keberadaan pendistribusian benih jagung yang 390 ton tersebut sebelumnya serta peluang ternjadinya penyalahgunaan wewenang pembuatan kontrak yang ditenggarai menyalahi Juknis dari Kementan.

Dengan demikian nantinya, yang mendapatkan benih jagung ini adalah mereka yang benar-benar berhak. Sebab, melihat bentuk kemasan benih jagung gratis yang telah didistribusikan, sangat rentan terjadi penyelewengan. Sticker Benih Gratis yang ditempelkan pada kemasan benih jagung tersebut terbuat dari kertas. Maka cukup dengan dioleskan minyak goreng saja, stiker ini sudah bisa lepas tanpa bekas dari kemasan utama sehingga aman diperjualbelikan, termasuk ke toko-toko pertanian.

lingga-gayo
Foto: DARUL KAMAL LINGGA GAYO

Apabila penyelewangan benih mencapai 50 ton saja dengan harga jual 50 ribu tiap kilogram, maka kerugian negara bisa mencapai Rp. 2,5 Milyar. Berdasarkan informasi yang didapat bahwa bantuan tersebut disalurkan untuk 260 ribu ha lahan jagung di Kabupaten Karo dengan ketentuan petani mendapat 15 kg bibit jagung untuk setiap hektarnya.

Kenyataannya, petani mengaku hanya mendapat rata-rata 5-10 kg per hektarnya. Berarti, jika lahan yang ditargetkan 260 ribu ha dengan bibit yang dibagikan hanya 10 kg/ ha. Hanya 260 ton. Ada kelebihan bibit jagung yang tidak tersalurkan sekitar 130 ton. Ini kalau dikembalikan. Kalau tidak dikembalikan berarti bisa dianggap hilang (losing).

“Jika diperhitungkan harga bibit seharga Rp 50 ribu/ kg saja, sudah bisa dihitung angka kerugian pemerintah, ditambah lagi kerugian petani yang membayar sebesar Rp 4 ribu/ kg,” jelas Medi yang juga Pengurus Gapoktan di Kecamatan Berastagi kepada Sora Sirulo (SELESAI)








Leave a Reply