Kolom Ita Apulina Tarigan: TANAH SURGA (Erpangir ku Lau 2016)

1
300

erpangir-15

 

Kemarin dulu [Jumat 28/10], sekelompok pemuda Karo memfasilitasi acara erpangir di Lau Debuk-debuk (sebuah mata ita-apulina-tarigan-3air panas di kaki Gunungapi Sibayak) yang melibatkan guru (dukun Karo) dan orang-orang Karo yang masih menjalankan tradisi ini. Beberapa diantara mereka menshare foto dan menulis berita ke www.sorasirulo.com. Sayangnya, kebanyakan tanggapan terhadap tulisan dan foto-foto sangat jauh dari positif. Tanggapan mereka umumnya berdasarkan keyakinan atau agama mereka sendiri.

Misalnya, ada pemuka agama yang berkomentar menanggapi sebuah komentar tentang guru Karo yang umumnya adalah perempuan: Sama dengan Kisah Rasul 16…. seorang perempuan yang memiliki roh tenung… tapi di tengking Paulus…why Karo… Tetapi, apakah sang komentator mengetahui para perempuan Karo-lah yang menjadi kunci jawaban bahwa mengapa Karo sampai saat ini masih terkuat tradisinya dibandingkan suku-suku sekitarnya; baik yang dominan Kristen maupun dominan Islam?

Mengutip tulisan Pdt. Mindawaty dalam “Tamu koq Jadi Tuan Rumah” (www.sorasirulo.com, 27 Januari 2013) : “Jika mau mengenal budaya Karo, wawancarailah guru (dukun Karo), karena mereka yang tahu tentang ritual Karo. Karena Karo beragam, maka wawancarailah yang ada di Langkat, Gugung, Deliserdang dan Lubukpakam, agar representatif.”

Anjuran Anthropolog Prof. Dr. Payung Bangun MA inilah yang melandasi perkenalan saya dengan “ranah” ini. “Ranah” yang tak dikenal tapi dikenal, tulis Pdt. Mindawaty.

erpangir-16Begitu banyak tanggapan yang jauh dari toleransi dan semangat perbedaan, membuat saya ingin melihat ke belakang, seperti apakah pandangan missionaris mula-mula yang datang ke Karo. Apakah warisan mereka yang berupa catatan budaya pernah menjadi pertimbangan atau renungan para pemeluk agama saat ini dalam menyikapi kebudayaan asli Karo?

Missionaris pertama yang dikirim oleh Deli Maschappij ke Karo Hilir (Buluhawar, deka Sibolangit)  adalah H.C. Kruyt. Dia sebelumnya bertugas di Menado, atas campur tangan ayahnya yang saat itu bertugas sebagai missionaris di Mojowarno, Kruyt diatur untuk bertugas di Karo Hilir. Pamannya, A.C. Kruyt adalah seorang antropolog terkenal dengan teorinya tentang zielstof (zat jiwa)

Cerita tentang Kruyt tidak begitu banyak diketahui orang karena dia hanya sebentar bertugas di Karo. Dari surat-menyuratnya dengan NZG (Nederlands Zendeling Genootschap) di Belanda, Kruyt berkali-kali meminta untuk dipulangkan karena merasa tidak bisa bekerja menjalankan missi mengkristenkan orang Karo. Beberapa tulisan menyebutkan Kryut gagal dalam missi. Harus diakui, dalam surat-suratnya kepada NZG, Kruyt mengalami shock culture, dia tidak pernah bisa membayangkan ada manusia begitu merdeka di Hindia Belanda, yaitu orang-orang Karo.

Tidak banyak juga orang tahu bahwa selama menjelajahi Taneh Karo, Kryut juga menulis sebuah catatan harian dalam bentuk novel. Menurut ukuran jaman itu yang ditulis Kruyt sangat tidak pantas terutama oleh gereja, dia sendiri juga menyadari sehingga dapat dimengerti mengapa dia menggunakan nama samaran Henk dalam novelnya itu.

erpangir-17
Semua foto di tulisan ini adalah karya Jebta B. Sitepu.

Novel itu nantinya diterbitkan pula oleh missionaris setelah dia, J.H. Neumann. Hingga suatu hari, seorang Amerika bernama Joe menemukan novel tua itu di sebuah toko souvenir di Kesawan (Medan) dan menghadiahkannya kepada Mary Steedly yang nantinya menjadi seorang profesor di salah satu universitas paling top di dunia, Univeritas Harvard (Obama juga tammatan dari univesitas ini). Desertasi Mary Steedly kira-kira isinya “melengkapi perjalanan Henk yang terputus itu”.

Henk, nama samaran H.C. Kruyt, mati di Perancis, bukan di negeri leluhurnya yang mencercanya bodoh tak mampu mengkristenkan orang Karo. Dalam novelnya itu dia menulis: “Mengapa saya dikirim memperkenalkan surga di Taman Eden ini?” (Maksudnya Taman Eden adalah Taneh Karo). Carel J. Wesntenberg (kontrolir Simalungun dan Karo) menulis surat-surat kepada ibunya di Belanda mengisahkan bagaimana Kruyt terus menerus ditekan oleh Deli Maschapij untuk membabtis orang-orang Karo. Jawaban Kruyt, kata Carel, sampai kapanpun orang Karo akan tetap Karo dan tidak akan pernah menjadi Kristen.

Itulah jawabannya yang membuat dia ditarik pulang. Dia mati merana diantara bangsa merdeka di Perancis, ke tempat mana Nyai Ontosoroh juga pergi di dalam novel Pramudia Ananta Toer.

Kruyt menulis dengan positif tentang hutan Karo, tentang pertanian, pedesaan, hubungan antar manusia Karo, romansa. Gaya mereka yang bebas merdeka, tidak feudal, manusia menghormati alam dan alam adalah inti hidup mereka. Tanah Karo adalah surga. Lalu katanya, mengapakah aku harus mengabarkan kerajaan surga, padahal aku sudah di surga?




Dalam perjalanannya ke Rumah Pilpil, Henk menyaksikan upacara Perumah Begu (Memanggil roh orang mati pulang sejenak ke rumah). Dia menggambarkan dengan sangat lengkap dan terperinci tentang upacara itu. Deskripsinya begitu menarik, seperti sebuah penulisan etnografi. Rupanya Henk sangat tertarik dengan upacara itu.

Novel ini menginspirasi seorang antropolog, Mary Steadly dari Harvard untuk melakukan penelitian untuk disertasinya tentang dukun-dukun Karo pada masa sebelum dan sesudah peristiwa G30S. Penelitian ini kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Hanging Without a Rope (diangkat dari lagu Katoneng-katoneng Malem Pagi Ginting, Gantung La Ertinali).

Pada akhirnya, Kruyt memang pulang kembali ke Eropah, dia bersedia membayar sisa kontrak kerja yang tidak bisa dijalaninya. Kenyataannya dia tidak pernah kembali ke Belanda. Dia pergi ke Perancis, belajar ilmu kedokteran, lalu kemudian melayani orang-orang jalanan, hingga matinya. Dia mati dalam kemiskinan.

Memang, ada juga yang mengatakan bahwa Henk adalah nama samaran Neumann. Tetapi belakangan, beberapa petunjuk membuktikan bahwa novel ini ditulis oleh Kruyt dan kemudian diterbitkan oleh Neumann.

Neumann sendiri adalah missionaris yang namanya paling populer di kalangan Karo. Mungkin karena dia yang bertugas paling lama. Neumann sendiri melakukan banyak pencatatan terhadap mithologi-mithologi Karo, memetakan gua umang, mencatat turi-turin, bahkan dia menulis sebuah buku berjudul “Sebuah Sumbangan untuk Penelitian Sejarah Batak-Karo” yang dia maksudkan untuk pengantar bagi orang-orang yang tertarik meneliti tentang Karo.  Ada masih banyak lagi buku-buku tentang Karo yang ditulis Neumann dalam bahasa Karo. Bahkan, dia pertama sekali menuliskan Kamus Karo–Belanda (melengkapi kamus yang belum selesai dari M. Joustra).

Hingga Indonesia merdeka dan GBKP sudah Njayo sejak 1943, Neumann masih tinggal di Tanah Karo hingga meninggal dunia di tahun 1952 dan dimakamkan di Medan. Beberapa tahun kemudian dengan Upacara Ngampeken Tulan-tulan (tanpa Upacara Perumah Begu), makam Neumann dipindahkan ke Sibolangit. Di sana, jasadnya menyatu dengan Tanah Surgawi, Taneh Karo Simalem.









1 COMMENT

Leave a Reply