Kolom M.U. Ginting: ARTI SEBUAH MAAF

0
137

maaf-3



“Rusdy Mastura saat masih menjabat sebagai Wali kota Palu berani mengajukan permintaan maaf secara resmi kepada para korban pelanggaran HAM 1965-1966. M.U. GintingDia mengaku meminta maaf karena murni alasan kemanusiaan. Keberhasilan di Palu ini telah menciptakan milestone baru dalam upaya penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, sekaligus menandaskan bahwa pemerintah daerah atau lokal berperan aktif dalam upaya penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Rusdy juga menyusun buku yang menceritakan kisah di balik permohonan maaf pada korban pelanggaran HAM peristiwa 1965-1966 yang berjudul “Palu & Godam Melawan Keangkuhan” – merdeka.com.

Sikap luar biasa dari Kota Palu dan walikotanya (Rusdy Mastura) betul memang jadi milestone dalam kaitan rekonsiliasi dengan teror 3 juta manusia 1965. Belum ada dan belum pernah terjadi adanya sikap berani seperti Palu ini dalam menyikapi kejadian dan perubahan kesedaran yang sudah terjadi selama proses pejalanan waktu setengah abad.

Banyak perubahan dalam pikiran dan kesadaran berkat era internet dengan informasi dan pengetahuan yang semakin banyak dan mendalam tentang peristiwa teror 3 juta manusia 1965 itu. Informasi dan bukti-bukti mantap peranan orang luar terutama AS dengan CIAnya dan Inggris yang ketika itu sangat kuatnya di belakang Malaysia karena Soekarno bikin politik offensif ‘Ganyang Malaysia’.

Teror 3 juta 1965 ini sudah begitu terkenal ke seluruh dunia, terutama setelah pengakuan dari panglima operasinya sendiri di DPR 1989. Akhirnya, pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.” (Wikipedia). Pengakuan Sarwo Edhie didorong juga oleh banyaknya spekulasi soal jumlah kematian dalam operasi teror pembunuhan itu, ahok-60spekulasi mana kemudian diakhiri dengan pengakuan Sarwo Edhie itu. Orang percaya bahwa tidak mungkin ada yang lebih tahu selain Sarwo Edhie sendiri.

Teror 3 juta (pembunuhan 3 juta orang tak bersalah) tahun 1965 adalah teror yang dipaksakan oleh kekuatan luar untuk memecah belah dan menghancurkan kekuasaan RI (Soekarno ketika itu) dari pihak kekuatan Barat dan terutama perusahaan-perusahaan besar internasional gerombolan pencari SDA. Langsung setelah pembunuhan itu, Freeport masuk ke Papua dan bercokol di Papua sampai setengah abad tanpa ada bayar apa-apapun kepada RI. Begitu juga hutan-hutan langsung ditebangi tanpa persetujuan rakyat Indonesia walaupun diizinkan oleh Soeharto sebagai perwakilan setia modal asing neolib di Indonesia.

Sudah banyak sekali bukti-bukti nyata bahwa teror itu adalah buatan orang luar. Banyak dokumen pengakuan dari pihak-pihak yang ikut aktif ketika itu, termasuk sebagian dari CIA dan juga terlihat dari buku John Perkins ‘Economic Hit Man’. Dokumen-dokumen itu sekarang bisa dikumpulkan dan dijadikan sebagai bukti lengkap soal teror 3 juta itu, menempatkan kekuatan luar sebagai saksi utama, terutama AS dan CIA nya dan juga Inggris yang ketika itu berada di belakang  Malaysia dalam pergolakan ‘Ganyang Malaysia’ program Soekarno dan Nasakom. Kedua negara ini sangat berkepentingan ketika itu menjatuhkan pemerintahan Soekarno. 

Dengan dibentuknya nanti RUU model JASTA (Justice Against Terror Supporter Act di AS) di Indonesia, akan semakin terbukalah bagi dunia siapa sebenarnya yang berada di belakang kegiatan terorisme dunia, yang telah berhasil melumpuhkan berbagai kekuasaan banyak negara seperti Indonesia Soekarno. Dengan begitu, besar kemungkinan akan lebih cerahlah semua persoalan HAM 1965 bagi seluruh rakyat Indonesia. Tak kalah pentingnya juga bagi rakyat dan negara-negara dunia, karena pada pokoknya rakyat-rakyat seluruh dunia ikut terlibat dalam perang dingin itu.

Rakyat Indonesia yang pada dasarnya adalah rakyat yang cinta damai dan toleransi tinggi, tentu juga banyak yang menginginkan kejelasan, keadillan dan rekonsiliasi yang berdasar dan berprinsip. Dengan kata lain, teror 3 juta itu adalah buatan luar dari politik adu domba internasional, terutama AS dan Inggris supaya bisa menguras kekayaan SDA Indonesia, dan memasukkan Indonesia ke dalam Blok Barat dalam perang dingin.


[one_fourth]teror Thamrin hilang begitu saja[/one_fourth]

Salah satu bukti nyata ialah langsung masuknya neolib Freeport ke Papua dan bercokol di situ setengah abad tanpa bayar apa-apa dan sampai sekarang. Setelah Jokowi naik panggung, baru ada berbagai gugatan. Teror Thamrin dimaksudkan untuk menutup mulut dan menakut-nakuti gugatan perpanjangan Freeport, tetapi perubahan pemikiran dunia soal pencipta dan tujuan terorisme semakin jelas. Akhirnya model teror Thamrin hilang begitu saja (untuk sementara atau selama-lamanya).

Saksi-saksi dari pihak korban yang masih hidup juga masih banyak yang bisa memperkeras teror buas 1965, teror 3 juta itu.

Juga ada dua film baru soal itu, yaitu The Act of Killing dan The Look Of Silence oleh Joshua Oppenheimer 2014. Walaupun dalam 2 film ini tidak ditunjukkan peranan luar dalam pembantaian, tetapi dunia sudah banyak mengerti kekuatan siapa di belakang hasutan pecah belah dan pembantaian itu.

Semua akan banyak membantu advokasi Indonesia dalam membikin persiapan JASTA-Indonesia untuk mendalami dan membongkar rahasia teror 3 juta itu. Sama halnya dengan korban teror WTC di AS, yang sekarang sedang dalam proses mempersiapkan pengadilan untuk mengadili tersangka utama dalam mensponsori terorisme WTC yaitu Saudi Arab.

JASTA-Indonesia akan menampilkan saksi utama AS dan Inggris dan terutama tentu AS dan CIA nya, sejalan dengan trend dan kecenderungan terbaru di dunia, akan mengadili suatu negara oleh rakyat negara lain, setelah tuntutan JASTA. Obama sudah meramalkan trend dunia yang tak mengenakkan baginya ini, dan telah berulang-ulang menyatakan ketidak setujuannya dan dalam soal JASTA, dia telah mengeluarkan vetonya tetapi dikentuti oleh Kongres AS, dan JASTA bisa jalan.

Semangat Palu dan JASTA adalah pencerminan kemenangan cita-cita kemanusiaan mengalahkan pikiran anti-kemanusiaan yang tadinya hampir menang dan yang sudah sempat merajalela serta berdominasi di abad lalu. Walaupun masih akan banyak perjuangan dan liku-likunya, tetapi Keterbukaan dan Kecerahan Abad 21 secara definitif akan meninggalkan Kegelapan Abad 20 untuk selama-lamanya.




Leave a Reply